Makna Hidup

Hidup tidak hanya untuk menerima pemberian dari yang telah Tuhan sediakan,

tapi kita hidup juga perlu untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan, mengembangkannya dan berbagai dengan sesama

Rabu, 07 Juli 2010

Puisi dari Seorang Tua

                                      DI SAAT DAKU TUA.......

DI SAAT DAKU TUA, BUKAN LAGI DIRIKU YANG DULU,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.

DI SAAT DAKU MENUMPAHKAN KUAH SAYURAN DI BAJUKU,
DI SAAT DAKU TIDAK LAGI MENGINGAT CARA MENGIKATKAN TALI SEPATUKU,
ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.

DI SAAT AKU DENGAN PIKUNNYA MENGULANG TERUS-MENERUS UCAPAN YANG MEMBOSANKAN MU,
bersabarlah mendengarkanku,jangan memotong ucapanku.
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang telah aku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terrbuai dalam mimpi.

DI SAAT AKU MEMBUTUHKANMU UNTUK MEMANDIKANKU,
janganlah menyalahkanku.
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk mandi ?

DI SAAT AKU KEBINGUNGAN MENGHADAPI HAL-HAL BARU DAN TEKNOLOGI MODERN,
janganlah mentertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa" yang engkau ajukan di saat itu.

DI SAAT KEDUA KAKIKU TERLALU LEMAH UNTUK BERJALAN,
ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar berjalan.

DI SAAT DAKU MELUPAKAN TOPIK PEMBICARAAN KITA,
berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau berrada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.

DI SAAT ENGKAU MELIHAT DIRIKU MENUA, JANGANLAH BERSEDIH,
maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau mulai belajar tentang kehidupan.

DULU DAKU MENUNTUNMU MENAPAKI JALAN KEHIDUPAN INI, KINI TEMANILAH DAKU HINGGA AKHIR JALAN HIDUPKU.
BERILAH DAKU CINTA KASIH DAN KESABARANMU, DAKU AKAN MENERIMANYA DENGAN SENYUMAN PENUH SYUKUR.
DI DALAM SENYUMKU INI, TERTANAM KASIHKU YANG TAK TERHINGGA PADAMU. HAI ANAKKU!

Sumber: NN


Selasa, 06 Juli 2010

Epistel Untuk MInggu 11 Juli 2010


INTEGRITAS DAN STATUS SOSIAL ORANG BERHIKMAT
(Amsal 23:1-8)

Hikmat berasal dari Tuhan.
Sejak awal, penulis kitab Amsal menyaksikan bahwa: “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” (Ams. 1:7). Jadi ada kaitan yang jelas antara orang berhikmat dengan hidup yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan akan beroleh hikmat. Tetapi mereka yang mencoba mengenal Allah dari analisa pemikiran atau dari pertimbangan-pertimbangan atas perhitungan manusia, akan gagal, bahkan banyak yang akhirnya sesat dengan menyangkal Tuhan. Artinya, orang yang mengandalkan pikiran dan pertimbangan duniawi tidak identik dengan orang berhikmat.
Orang berhikmat itu adalah orang yang memiliki pengetahuan yang memungkinkan orang itu mengenal Yang Mahakudus (Ams. 30:3). Sehingga, orang yang berhikmat akan mampu melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar dalam setiap perjalanan hidup dan pelayanannya di tengah-tengah realitas dunia ini. Mereka yang mengalami perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidupnya akan memiliki integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan harkat dan martabat manusia. Mengapa? Sebab, hikmat yang dari Tuhan, itu menuntunnya kepada sikap yang tenang dan keyakinan akan anugerah Tuhan yang memberikan segala sesuatu yang perlu dalam hidupnya.

Orang berhikmat tidak akan mengerjakan sesuatu tanpa campurtangan Tuhan. Sehubungan dengan itu, Amsal 23:1-8 ini secara halus mengingatkan beberapa hal agar setiap orang berhikmat menjaga integritasnya dalam mengejar cita-cita, karier dan status sosial yang diinginkannya.

Peluang dan ancaman bersama seorang pembesar (ayat 1-3).

Memiliki relasi dengan seorang pembesar adalah sebuah peluang, dan sekaligus juga ancaman. Ada banyak hal yang dapat diharapkan dari hubungan yang baik dengan orang-orang terhormat. Secara umum, kita senang dan bangga dekat dengan seorang pembesar, bukan saja dengan pejabat dan orang kaya, tapi juga dengan seorang publik figur, seorang artis misalnya. Namun, orang berhikmat yang dekat dengan seorang pembesar tidak akan terjebak dengan penampilan dan gaya hidup pembesar itu. Orang bijak yang menuliskan Amsal ini memiliki pengalaman yang mesti dicamkan oleh siapa saja yang memiliki relasi dengan seorang pembesar. Sebab, duduk satu meja dengan seorang pembesar, bukan saja menjanjikan sebuah kesempatan untuk promosi jabatan dan sejenisnya, tetapi sebaliknya juga dapat menjadi ancaman yang mematikan karier dan bahkan nyawanya.

Pengalaman yang paling menyakitkan dari orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan seorang pejabat, penguasa dan orang kaya adalah ketika, oleh satu dan lain hal, sang pembesar mencampakkan dan meninggalkannya bagaikan sampah di Tempat Pembuangan Akhir. Penulis Amsal ini, luput dari tragedi seperti itu karena hikmat sungguh menuntun hidupnya, yakni dengan sangat hati-hati terus mengevaluasi kedekatannya dengan sang pembesar. Orang bijak yang menulis Amsal ini dengan cermat memerhatikan apa yang ada di depannya (ayat 1); dia bukan saja memperhatikan hidangan yang disuguhkan pembesar itu, tetapi jauh ke dalam motiv dan tujuan jamuan makan pembesar itu. Sebab, orang bijak harus menjaga integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan kehormatan daripada kemewahan hidup. Kalimat perintah yang mengatakan: “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” (ayat 2) secara tegas mengingatkan bahwa jamuan makan mewah yang menjebak sungguh merupakan ancaman bagi orang yang tidak berhikmat. Oleh karena itu, jangan sampai tertipu dengan makanan pembesar yang lezat (ayat 3). Orang berhikmat, sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak akan menjual status dan harga dirinya demi makanan yang lezat seperti Esau (Kej. 25:29-34). Tetapi, seseorang yang takut akan Tuhan, dengan hikmat mengalahkan godaan makanan, seperti Yesus Kristus yang menang dalam pencobaan oleh iblis (Mat. 4:3-4).

Orang berhikmat tidak materialisme (ayat 4-5).

Orang bijak dalam Amsal ini sama sekali tidak alergi dengan kekayaan. Menjadi kaya tidak ada salahnya. Namun, ungkapan orang bijak pada Amsal ini jelas mengingatkan kesia-siaan mengejar status sosial melalui kekayaan. Status sosial yang didasarkan pada kekayaan material tidak bertahan lama; karena kekayaan dapat hilang sekejap mata, terbang seperti burung rajawali (ayat 5). Status sosial memang penting, namun bukan dengan memburu uang. Sebagaimana diingatkan oleh Paulus kepada Timotius, bahwa oleh karena memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka (1Tim. 6:10). Artinya, orang yang berhikmat akan menjaga ambisinya agar tidak jatuh kepada roh materialisme. Orang berhikmat boleh saja kaya raya, tetapi tidak materialis, sebab memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas (Ams. 16:16). Mengejar kekayaan dengan susah payah bukanlah suatu obsesi orang berhikmat, karena kekayaan selalu dilihat sebagai berkat yang kemudian ditambahkan oleh Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh melakukan kehendak-Nya (Ams. 10:22). Oleh karena itu, seseorang yang berhikmat berjerih payah untuk melakukan kebenaran, yang berkenan bagi Tuhan, serta menghindari jalan yang menyesatkan. Sehubungan dengan itu pula Yesus Kristus mengajarkan, supaya setiap orang percaya mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua hal, termasuk kekayaan akan ditambahkan kemudian. Kekayaan dilihat sebagai bonus, bukan sebagai goal yang mau dicapai (Mat. 6:33).

Menjadi orang yang tulus dan berbelas kasih (ayat 6-8)

Orang bijak melihat ada kaitan yang erat antara kekayaan dan ketulusan hati serta belas kasihan. Di sini jelas bahwa orang kaya tidak selalu dilihat negatif; yang negatif adalah kekikiran dan ketidak tulusan dalam memberi (jamuan) kepada orang lain. Oleh karena itu, larangan orang bijak pada ayat 6, “jangan makan roti orang yang kikir” harus dilihat dalam konteks kepribadian orang kaya yang menyuguhkan makanan lezat itu. Apakah orang kaya yang memberikan jamuan makan itu merupakan pribadi yang tulus dan pengasih, atau sebaliknya ia memang seseorang yang biasa menggunakan kekayaannya untuk menjerat orang lain demi kepentingan pribadi? Orang berhikmat tidak akan menjual harga dirinya dengan memakan suap yang lezat atau memberikan kata-kata yang manis untuk menyenangkan hati orang kaya yang tidak tulus (ayat 8). Namun demikian, orang bijak tidak akan apriori terhadap orang kaya. Orang bijak malahan harus memberikan pengaruh yang positip agar setiap orang kaya menjadi orang yang memberi dengan tulus, dan memiliki kepedulian terhadap mereka yang miskin, terbelakang, dan terlindas oleh kemajuan zaman.

Orang kaya yang tulus hati dan penuh kepedulian terhadap nasib sesama yang menderita akan sangat efektip mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi. Malahan boleh dikatakan, bahwa cara yang paling efektip untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran serta kekerasan, yang menjadi bahaya laten dalam negara-negara berkembang, seperti Indonesia, adalah dengan membangun moralitas orang kaya melalui penganugerahan penghargaan yang tinggi bagi setiap orang kaya yang berusaha keras memerangi kemiskinan, membuka lapangan kerja yang luas, dan mendirikan pusat perlindungan terhadap korban-korban kekerasan. Sebaliknya, sebagai upaya pencegahan dan menekan orang-orang kaya yang menyalah gunakan kekayaannya untuk suap dan berbagai usaha yang merusak kehidupan masyarakat, maka diperlukan langkah-langkah yang bijak dengan sikap dan tindakan hukum yang tegas dan konsisten.

Orang kaya yang berhikmat akan membangun integritas dan status sosial yang terhormat dan mulia apabila dengan tulus hati memberikan perhatian dan karya nyata yang dapat mengangkat nasib orang miskin, dengan membangun lapangan kerja dan mendukung semua upaya peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Orang kaya yang berhikmat malahan dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap pemerintahan yang sehat dan bersih dengan menggugat oknum-oknum pejabat publik yang bermental korup.




Pdt. Willem TP Simarmata, M.A.
KRP HKBP/Dosen STT HKBP

Kamis, 01 Juli 2010

Poda Tohonan Pendeta HKBP


PODA TOHONAN HAPANDITAON  HKBP

Parjolo

Ramotanmuna ma arta na sian Tuhan Jesus, songon na binahen ni parmahan mangaramoti na di  ibana, asa unang mago. Ai peakhononmuna do sogot rujiruji taringot tu angka na pinarmahanmuna di jolo ni Tuhan i. Na gabe sitiruon do hamu di jolo ni angka na pinasahat tu hamu. Dibahen i tangkas ma hatahon hamu tu nasida Hata ni Debata, na tarsurat di angka surat na di Padan na Robi dohot di angka surat na di Padan na Imbaru. Buat hamu ma sian Hata i poda, apoapo, sipaingot, apulapul dohot hata paminsangon, hombar tu angka na masa. Songon i do dibahen angka apostel, songon na nidok ni Apostel Petrus: Molo adong na marjamita, dihatahon ma hatana songon Hata ni Debata;  Molo adong  manang ise na marhobas hombar ma i tu gogo na nilehon ni Debata, asa dapotan hasangapon Debata marhitehite Tuhan Jesus Kristus di na saluhutna (1 Petrus 4:11). Sialoonmuna jala sitaluhononmuna ma nasa hatahata, na marsalisi tu Hata ni Debata. Marlambok ni roha ma hamu maminsangi angka na mangalo, anggiat dilehon Debata hamubaon ni roha, asa diboto nasida hasintongan (2 Timoteus 2:25). Antong, ramoti hamu ma dirimuna dohot na sapunguan i, manang tu dia hamu dipaojak Tondi Parbadia asa diparmahani hamu Huria ni Debata, na hinophopNa i marhitehite Tuhan Jesus Kristus (Ulaon 20:28). Ingkon baritahononmuna do hata sihaporseaan i, i ma na nilehon ni Debata padengganhon jolma tu Ibana, ai i do dalan tu hangoluan, dalan tu hamubaon ni roha dohot dalan pardamean ni jolma tu Debata.  Pardengganan na songon i ma paboaonmuna tu angka na pinasahat tu hamu. Antong singkat ni Kristus i do   hamu mangelekelek  jala   dohononmuna ma tu jolma i: Sai olo ma hamu padengganon tu Debata.

Mangaramoti arta na sian Tuhan Jesus, songon na binahen ni parmahan Mangaramoti dorbiana, asa unang mago. Mamodai, mangapoi, paingothon, mangapuli dohot maminsang marhite Hata ni Debata Ai singkat ni Kristus do hamu (1 Petr. 4:11; 2 Tim. 2:25; 2 Kor. 5:20)


Paduahon

Songon tangkas ni pamodaionmuna di angka na olo tu hadaulaton tu Debata, ingkon songon i ma tangkas paminsangonmuna di angka na so olo tu hangoluan, asa unang adong na mago, ala so ada sipaingot,  jala unang marsapata nasida tu hamu. Ingot hamu ma na tarsurat i: Ia ho ale anak ni jolma! Nunga Hupabangkit ho gabe siparmahan ni halak Israel, ingkon tangihononmu Hata na ruar sian pamanganHu. SingkatHu ma ho, palumbahon nasida. Molo Hudok tu angka pardosa na tu hamatean nama ho, gabe so dipalumba ho ibana, ndang diapuli ho ibana, asa dipauba rohana, asa mangolu, na mate do tutu pardosa i ala ni dosana, alai sian tanganmu do tungguonHu mudarna. Alai molo dipalumba ho pardosa i, hape ndang dipauba rohana dohot pambahenanna, mate ma ibana tutu di bagasan dosana, alai malua do ianggo tondim.

Mamodai dohot maminsang angka na so olo tu hangoluan asa unang adong na mago alani dosa (Hes. 33:7-9)


Patoluhon

Alai ndada holan ulaon ondeng na pinasahat tu Pandita. Ai di na laho manadingkon tano on Tuhan Jesus, jumolo do dipadiri ulaon na badia na dua ragam i.  Na mangan parpadanan na badia do na saragam. Na saragam nari, i ma pandidion na badia, na tinonahonNa i di na laho manaek Ibana tu banua ginjang. Asa radotanmuna ma ulaon na badia na dua ragam i; songon parhobas di bagas ni Debata ma hamu mangulahonsa. Tangkas ma pamanat hamu angka dongan i, asa holan angka na tau, angka na tumanda dosana, angka na mangarsakhon pambahenanna jala na olo paubahon rohana manjonohi panganon na badia i. Ambatonmuna do angka na jungkat, angka na lomo roha di dosa, asa unang dijonohi na badia i. Ingot hamu ma: Dipasahat Tuhan Jesus do anak hinsu ni banua ginjang tu HuriaNa i, asa dipabali angka na so olo paubahon rohana, ai ninna do: Hulehon pe tu ho anak hinsu ni harajaon na di angka banua ginjang i. Nasa na niihotanmi di tano on, na tarihot do i dohot di angka banua ginjang, jala molo adong diharhari ho di tano on, harhar do i nang di angka banua ginjang. Didok Tuhan Jesus dope: Jalo hamu ma Tondi Parbadia! Molo disesa hamu dosa ni manang ise, naung sesa ma  i, molo dipahot hamu dosa ni manang ise naung hot do i .

Mangaradoti dohot mangulahon Ulaon na Badia, naung dipadiri Tuhan Jesus laho paluahon halak na olo paubahon rohana (Mat. 16:19; 26:20-30)


Paopathon

Angkup ni i, radot ma hamu patureturehon angka dakdanak, maniru pambahen ni Tuhan Jesus. Ai didok Tuhan Jesus sahali: Loas hamu ma angka dakdanak i ro tu Ahu, unang orai hamu nasida, ai di angka sisongon i do harajaon ni Debata.  Dibahen i ajarhon hamu ma pamusatan ni Hata ni Debata (Katekhismus) dohot jamita tu angka dakdanak. Podai hamu ma nasida, asa diboto hadaulaton tu Debata dohot hapantunon tu jolma.  Ambati hamu ma nasa na tau mangago dakdanak, ai parmahan do hamu, songon naung nidok ni Tuhan Jesus: Parmahani ma angka anak ni birubirungKu

Radot Patureturehon angka dakdanak maniru pambahenan ni Tuhan Jesus (Mark. 10:14). Mamodai asa diboto hadaulaton tu Debata dohot hapattunon tu jolma      (Yoh. 21:15c)

Palimahon


Ramoti hamu ma saluhut pangisi ni Huria i, angka na mabalu, angka ama, ina, dolidoli dohot anak boru, maniru pambahen ni Apostel Paulus.  Ai ninna do tu halak Epesus: Dibahen i jaga ma hamu, ingot hamu ma na so mansohot ahu saleleng ni tolu taon arian dohot borngin, paingothon ganup hamu huhut mariluilu.  Tangiangkon hamu ma saluhut na pinasahat tu hamu, asa diramoti Tuhan Jesus nasida jala dipasupasu marhitehite Tondi Parbadia
Ramoti jala jaga hamu saluhut pangisi ni Huria i, angka namabalu, angka ama, angka ina, angka dolidoli dohot anak boru, maniru pambahenan ni Apostel Paulus (Ul. 20:32)

Paonomhon
Angkup ni i, sai ture ma parangemuna, asa tau tiruan hamu di angka na pinarmahanmuna i, tiruan di hata, di pangalaho, di haporseaon dohot di holong ni roha. Ingot hamu ma na nidok ni Hata ni Debata: Ingkon unang marhaurahon sintua i, harajaan ni sada boruboru, unang parmabuk, na marroha, na ture marparange, na las roha di tamue, pangajari, unang sisobur tuak, unang pangalinsingi, unang parpangomoan na so tama, alai ingkon partalup ni roha do, na so parbada, na so impolan di perak, na denggan mangarajai donganna sabagas, parianakhon sioloi ajar di bagasan nasa hatomanon. Ai molo adong manang ise, na so malo manggomgomi isi ni bagasna tung beha ma tarpaturesa Huria ni Debata.
Marparange na ture asa gabe tiruan tu angka napinarmahan:
unang marhaurahon, harajaan ni sada boruboru, unang parmabuk, na marroha, na ture marparange, na las roha di tamue, pangajari, unang sisobur tuak, unang pangalinsingi, unang parpangomoan na so tama, ingkon partalup ni roha do, na so parbada, na so impolan di perak, denggan mangarajai donganna sabagas, parianakhon sioloi ajar di bagasan nasa hatomanon, (1 Tim. 3:2-4)


Papituhon
Ingkon ture bahenonmuna saluhut aturan ni ulaonmuna i mangihuthon patik ni indukmuna. Sahata ma hamu dohot angka dongan Pandita: Di pangalaho ni pangoloion tu Debata, unang pulikpulik marpingkiran, unang marsalisi hata dohot roha, unang masigasipan, asa saut di hamu na pinangido ni Tuhan Jesus sian AmaNa di na nidokNa i: Sai tongtong ma di GoarMu nasida na nilehonMi tu Ahu, asa sada nasida songon Hita.
Ingkon ture bahenon saluhut aturan ni ulaon mangihuthon patik ni induk, Sahata ma hamu dohot angka dongan Pandita: Di pangalaho ni pangoloion tu Debata. Asa saluhut sada dibagasan Tuhan i (Yoh. 17:21)

Tohonan Pendeta di HKBP


TOHONAN HAPANDITAON DI HKBP
(Pembinaan Pendeta HKBP Tahbisan 2003/2004)

I.  PANGANTUSION TARINGOT TU TOHONAN HAPANDITAON                                                                                                 

Tung ampit jala dasip do hata Tohonan di hata Batak, pataridahon na silehonlehon ni Debata do i tu marsasahalak jala tung so tarpaorot do i sian na ingkon manjalosa.  Boi do i antusan sian hata “Toho” dohot pandohan “sitohotoho” mandok na so binahenbahen, na so pinasumansuman, alai na tung i do tohona dohot sintongna sian pangalehon ni Debata.  Na dipasahat do Tohonan i tu sahalak ala ni hadirionna na dihilala boi dipatujolo ala ragam ni hatauonna: diparbinotoan, dipartondion, diketerampilan mambahen sasahalak gabe pemimpin manang tokoh gabe  parnampunaon na toho dipartohonan i di tongatonga ni masyarakat dohot di parugamaon

Hata “PANDITA”: Sian Bahasa Sansekerta.
Mansai bidang do pangantusion taringot tu hata “Pandita”, boi do i bersifat akademis, partondion dohot ketrampilan (na bisuk, na marsiajar, na terampil), jala boi do marlapatan na patuduhon sasahalak sada tokoh utama di tongatonga ni masyarakat.
Pandita ima sahalak namanguluhon Huria, na ulaonna MARHOBAS, tarlumobi manghobasi ulaon partondion.Ala Parhobas do Pandita, ingkon adong do “Parasingan” ni parngoluon dohot pangulaonna sian angka na so partohonan pandita (ngolu di bagasan Kristus). Parngoluon dohot Pangajarion ni Tuhan Jesus, na patuduhon diriNa songon parhobas na denggan, naeng ma nian songon i na boi dapot idaon di ngolu ni sahalak Partohonan Pandita.                                                                                                                  

Tohonan Hapanditaon ima  silehonlehon ni Debata na dipasahat jala dijalo marhite roha na tulus jala bulus, marhite nalom dohot serep ni roha mangulahonsa.

Marhite ojahan i, Tuhan Jesus do na pajongjong Tohonan Hapanditaon mamungka adong Huria di Portibi on sahat tu tingki on (Mat. 28:18-20; Joh. 21:15-19; I Tim. 3:1-7; II Tim. 1:6). Tohonan Hapanditaon, na tubu jala na marurat do i sian Tohonan ni Tuhan Jesus na badia i.

NDANG TOHONAN ADMINISTRASI ORGANISASI HAPADITAON I,  ALAI TOHONAN PARTONDION DO. NDANG JABATAN, NDANG PROFESSI ALAI NGOLU DO

Tardok ojahan ni parhuriaon do tohonan. Molo denggan mardalan tohonan hapanditaon, manjadi do Huria i. Tarsongon jantung na mangatur pardalan ni mudar tu sandok pamatang i laho pangoluhon, ingkon songon i ma tohonan hapanditaon i padalanhon ngolu Barita Na Uli i

II. TOHONAN HAPANDITAON DI  HKBP

A. SEJARAH TOHONAN HAPANDITAON DI HKBP

Tohonan Hapanditaon di HKBP ima kelanjutan ni sejarah Tohonan Hapanditaon ni angka Parbarita Na Uli (Missionaris) na tinongos ni badan-badan Sending Luar Negeri secara khusus RMG (1861-1940)

Taon 1883  jongjong Sikola Pandita na parjolo di Pansurnapitu. Tanggal 19 Juli 1885 tarpasupasu ma Pandita na parjolo sian tongatonga ni halak Batak di Pearaja Tarutung, ima Johannes Siregar, Petrus Nasution, Markus Siregar

Pdt. K. Sirait: Pandita Batak naparjolo manguluhon HKBP Dung marumur 79 taon HKBP (1861-1940)

Tung tangkup do pangantusion ni na torop di hatiha i marnida/mangantusi ulaon ni Pandita na songon malim ni Debata. Tarida do i sian pangalaho na daulat jala na donda marpangalaho di panghataion, di parabitan, tobok jala burju. (patudos tu pandohan: “Tuan Pandita” manang “Songon Pandita do Tuan i”). Tarida do hasangapon ni pandita i, dang sian hapistaran, alai ala ni badia ni pangalahona

Alai dilaon ni ari gabe maturtur jala lam harhar do pangantusion i di deba halak, ala godang sisurahan parange ni pandita na so saurdot hatana tu pangalahona

B. PANGANTUSION TARINGOT TU TOHONAN   HAPANDITAON di HKBP

-               Tohonan Hamalimon do tohonan Hapanditaon, ala Debata do na mangampehon jala pasahathon ulaon laho marmahani huriaNa patureturehon Tondi ni jolma jala manogunogu tu Debata (I Musa 12:4;  2 Musa 3:6+10)
-               Marhite na manjalo tohonan, bangkit gabe Panurirang, Malim dohot Raja do partohonan di HuriaNa (I Kor. 12:28; Ef. 4:11; Ulaon.  6: Munus Triplex) jala Kristus do na gabe tiruon di partohonan (pat. Agenda pamasumasuon di Agenda HKBP)

-               Konfessi HKBP  bindu 9: “Parhobas ditongatonga ni Huria Kristus do na bangkit Raja marmahani ngolu ni partohonan, na manggohi tohonan ni jinalona, asa hobas jala rade di panjouon i”
Laho mangulahon tohonanna, ingkon siboanon ni pandita i do Barita na uli taringot tu Kristus. Dang jadi sian malomalo nang habisuhonna, ai Kristus do pusat ni nasa hata ni Debata (I Kor. 2:4+6-7). Ai molo Kristus i diboan, tarida ma pangalahona sian sandok panghobasionna.
Ingkon manghirim do pandita i di parbue ni Jamita na sinaburhonna jala huhut benget maimaimahon dibagasan tangiang. Suang songoni ingkon gabe partohonan na marpanindangion ma pandita, na tau tiruan, ai marhite sian i ditanda halak Jesus Sipalua i.

C. TOHONAN SIJAGA TONDI DOHOT NGOLU 

4 Sipahinsa manang Sipapir Tondinta di ulaon i:

1).   Sian Tuhanta do Tohonanta
Debata sambing do na paojakhon jala Saguru di ibana do Tohonan (pat.  2 Kor. 5:18,  2 Kor. 5:20: Ulaon. 20:28, Ef. 4:11:).  Alani i,  sumurung do Tohonan i, alai laos tohonan i do na dumokdok. Ai ndang adong tohonan di portibi on, na songoni borat ni tanggungjawabna

2).   Paingothon sian hata ni Debata
Hata ni Debata na hot jala manongtong pataridahon holong dohot pambahenan laho pangoluhon sian hamagoan/hamatean. Sipeopon jala sipahusorhusoron do hata i di roha dohot di ngolu. Margogo do hata i laho manindangi di roha dohot di sude ngolu

3).   Manghatondithon Tanggungjawab
Parsuruon ni Debata dibagasan hagogoon dohot huasoNa alani sangapNa. Hagogoon dohot huasoNa do na patauhon, asa barani mangalumbahon jea, dompak hajahaton marhitehite na mangasahon goar ni Tuhan i

4).   Papir Tondi
Manean Harajaon ni Debata marhite pangaradotion di tohonan sian nasa gogo dohot ringgas ni roha. Palumbahon tu ruas asa saleleng di ngoluna tongtong mangungkap roha, rade mangurupi, suang songoni margogo palumbahon, maminsang dohot paingothon angka parsala dihasalaanna

III. SAHAT ULA TOHONANMI  (2 TIM. 4:5)

Patulushon Poda Tohonan Naung Pinasahat Ni Kristus Naeng  Ma Partohonan Pandita,  Gabe:
1.    Naposo Parmahan
Dungo jala barani manghophop dorbiana, jala na tongtong manogunogu partondion ni ruasna, mamboan tu panghilalaan na sonang

2.    Naposo Uluan
Na bertanggungjawab tu Debata silehon parbue ni Tondi jala na pasolhot tu Debata. Naeng tongtong mangido pangurupion asa tongtong dipaimbaru. Debata ngoluna, gabe tiruan/teladan (pribadi, keluarga, pargaulan, hata dohot pambahenan) asa margogo mamboan ruas tu hamubaon dohot hasesaan ni dosa.

3.    Naposo Sijaga Tondi
Paulihon dohot manjagahon tondi ni ruas marhite na dungo laho paingothon (paboahon uhum dohot pasupasu sian Debata). Naeng lam tubu jala mangerbang ngolu parsaoran di hata ni Debata, songon tanda naung mian/maringan Hata i di ngolu ni ruas.

4.    Naposo Pangajari
Gabe pangajari na pabotohon barita haluaon,  gabe margogo ruas laho marsada, manindangi dohot manghobasi. Dipataridahon ma hamajuon ni ruas na tongtong gok panghirimon, di pangantusion,  jala lam solhot laho mananda hasintongan dohot hatigoranNa.

Ingkon tangkas do tarida di ngolu ni Pandita hatiuron dohot hasintongan di atas ni haholomon ni ngolu portibi on, Songon na ginombarhon ni baju Tohonan Hapanditaon i
Beft na bontar na dua i na ampe di atas parateatean di ginjang ni pahean na holom na manggombarhon hatiuron dohot hasintongan (2 Musa 28:30; ima URIM dohot TUMIM, na gabe uhum sipaboanboanon ni Partohonan Pandita di tongatonga ni bangso ni Debata dohot di na humalianga).        
Naeng ma tarida parbue ni  pangulahonon di tohonan di ngolu ni angka Partohonan Pandita,  na marsaor dohot ruas marhite Hata ni Debata, patuduhon parsaoran holong di bagasan Kristus i. Marhite i gabe dihilala ruas i ma na mangolu do tondina siala angka na sinuru ni Debata na gabe surat na mangolu (II Kor. 3:2-6)

Kepala Departemen Marturia HKBP
Pdt.M.H. Sihite, STh,    Seminarium  Sipoholon - Tarutung

Senin, 28 Juni 2010

Panggilan Zending Untuk Umat


Renungan menyambut jubileum 150 tahun hkbp
„ Panggilan zending untuk umat “


Pendahuluan/Pengantar

            Saudara/i yang dikasihi Kristus, jemaat Tuhan yang telah dipanggil dan dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Sudah hampir 150 tahun HKBP berdiri dan berkarya ditengah-tengah bangsa ini khususnya ditengah-tengah Bangsa Batak. Buah penginjilan dari hamba-hamba Tuhan, para evangelis dan penginjil Eropa telah bisa dirasakan oleh bangsa kita dimana Injil yang mereka beritakan telah membuat perubahan besar di dalam kehidupan orang Batak sehingga pengaruh dari perubahan itu juga bisa dirasakan bangsa ini. Orang Batak mengenal terang Kristus, dan terang ini membuat mata kita terbuka lebar bahwa dunia ini tidaklah hanya sebatas Pulau Samosir saja atau sebatas Tapanuli saja namun jauh lebih dari  itu, orang Batak kemudian menyadari bahwa ternyata dunia ini begitu luas. Nuansa kehidupan yang baru yang diungkapkan Injil pada saat itu, membuat orang Batak  menemukan suatu keberanian dan kerinduan yang baru untuk bisa menaklukan temapt-tempat itu sambil membagikan Injil keselamatan Tuhan. Dengan semangat dan roh yang menyala-nyala, orang Batak mulai berani meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Sumatra Timur sampai ke daerah Deli di Medan dan ke daerah-daerah yang lebih luas terus ke Timur dan bahkan sampai ke Jakarta. Perjalanan ini juga selalu disertai dengan pemberitaan Firman Tuhan.
Namun belakangan ini, semangat dan roh penginjilan itu sudah semakin redup dan melemah. Banyak orang-orang Kristen tidak lagi peduli kepada “keselamatan sesamanya”. Tidak jauh beda dengan warga negara lainnya, banyak orang-orang Kristen pada jaman ini hanya peduli kepada kehidupannya masing-masing. Hanya peduli kepada kesejahteraan dan kebahagiannya sendiri. Bahkan demi kebahagiaannya itu, banyak diantara kita yang rela mengorbankan orang lain. Kalau ini kita perbandingkan dengan panggilan kita sebagai orang-orang Kristen yang mengaku sebagai pengikut Kristus. tentunya sikap dan perbuatan ini sudah sangat bertentangan dengan keinginan Tuhan. Kristus memanggil kita untuk membawa Kerajaan Surga atas dunia ini membawa kedamaian dan keselamatan bagi dunia ini sebagai konsekuensi keselamatan yang kita terima. 150 tahun sudah orang Batak menjadi orang Kristen, suatu usia yang seharusnya sudah cukup matang. Matang di dalam organisasi demikian juga matang di dalam menghadapi persoalan dan permasalahan. Usia yang matang ini menantang kita untuk mengkaji diri, 1). Apakah yang sudah kita perbuat (sebagai warga jemaat maupun sebagai organisasi gereja) untuk “tongkat estafet penginjilan” yang kita terima? Apakah cukup kita hanya menerimanya lalu menyimpannya atau apakah kita yang sudah menerimanya juga mau membagi dan menyalurkannya kepada orang lain? 2). Siapakah yang bertanggungjawab untuk “tongkat estafet penginjilan” ini?

Isi  (Tujuan, keuntungan, dan Cara Melaksanakan)

            Saudara/i sekalian, panggilan untuk memberitakan Injil Keselamatan Tuhan (panggilan Marturia) adalah panggilan untuk kita semua. Panggilan ini tidak terbatas hanya pada para hamba Tuhan (pendeta, pastor, evangelis, guru, bibelvrow, syamas, diaken atau diakones dan lain sebagainya), tapi juga bagi seluruh jemaat kudus Tuhan. I Petrus  2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”, dengan nas ini kita dipanggil untuk menyatakan perbuatan Tuhan yang memberikan keselamatan bagi dunia ini. Baik bagi yang belum percaya kepada Tuhan karena belum mengenal Kristus ataupun yang sudah mengenal Kristus namun masih belum mengambil keputusan untuk mengikut Kristus (Zending ke luar) maupun kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan tapi yang di dalam perjalanan waktu hidupnya mengalami kemunduran spiritual (Zending ke dalam).
Zending ke luar  dapat kita lakukan dengan berbagai cara, demikian juga dengan Zending ke dalam , yang menekankan peyegaran dan peneguhan iman kepada jemaat.
Dengan keberadaan kita yang hidup ditengah-tengah masyarakat yang pluralis dan majemuk, berbeda agama dan aliran kepercayaan, sesungguhnya untuk bisa berzending keluar tidaklah sesulit yang kita bayangkan. Kita tidak harus meninggalkan pekerjaan kita, keluarga kita ataupun kehidupan kita sehari-hari dengan pergi ke pelosok-pelosok atau ke pulau-pulau terpencil sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita. Kita bisa melakukannya didalam kehidupan kita sehari-hari yaitu melalui cara kita bekerja, cara kita bertutur kata dan cara kita bersikap kepada sesama kita yang berbeda agama, cara kita bersosialisasi dan bertetangga dan lain sebagainya, karena mereka sesungguhnya selalu ada disekitar kita. Ketika kita makan, minum atau bercakap-cakap dengan mereka sewaktu break bekerja atau duduk-duduk santai di kedai atau di kantin sesungguhnya kita bisa bercerita tentang Tuhan Yesus. Ketika kita bekerja dengan benar dan jujur,  berlaku adil dan penuh kasih, sesungguhnya kita  pun sedang memberitakan Tuhan Yesus kepada mereka. Kita bisa melakukannya ketika di kantor, di perumahan (lingkungan tempat tinggal kita), di organisasi-organisasi umum yang kita tekuni bahkan di jalanan yang kita lalui setiap hari. Dalam keberadaan kita sehari-hari itu, kita bisa menunjukkan iman kita dengan buah-buah yang baik dan manis sehingga dengan sendirinya bisa dilihat dan dinikmati orang-orang disekitar kita.
Jemaat sesungguhnya mempunyai peluang dan kesempatan yang lebih besar dari pada hamba-hamba Tuhan lainnya untuk mengadakan penginjilan atau pelayanan keluar karena jemaat selalu bersentuhan atau berhadapan dengan rekan-rekan kerjanya yang berbeda agama. Sementara hamba-hamba Tuhan sering terfokus hanya kepada pelayanan jemaat.
Demikian juga dalam kaitannya dengan pelayanan/penginjilan kedalam. Jemaat sesungguhnya mempunyai kesempatan dan peluang yang jauh lebih besar dan lebih efektif untuk mengadakan pelayanan atau penginjilan antar jemaat bila dibandingkan dengan para hamba Tuhan. Karena jemaat biasanya hidupnya jauh lebih dekat dengan sesama jemaat lainnya. Mereka lebih sering bertemu dan bersosialisasi dengan sesama, karena mereka tinggal dalam satu kawasan, dalam satu wiyk dan dalam satu kumpulan marga atau STM. Oleh karena itu jemaat mempunyai peluang yang lebih besar untuk bisa dikaryakan di dalam proses penginjilan ke dalam (marturia di tengah-tengah huria). Jemaat juga mempunyai karunia-karunia yang berbeda sesuai dengan anugerah Roh Tuhan sehingga dengan karunia yang berbeda-beda ini jemaat juga punya potensi pengijilan yang luar biasa. Dalam hal ini Hamba Tuhan hanya perlu memanage dan menghidupkan potensi ini.
            Tahun 2008, ditetapkan sebagai tahun Marturia, tahun dimana semangat dan roh penginjilan seluruh warga gereja dibangkitkan kembali, dengan satu harapan bahwa semua warga atau semua jemaat bisa ikut bersama memberikan perannya masing-masing sesuai dengan karunia-karunia yang diterimanya dari Tuhan untuk bisa saling menginjili.

Roma 12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Ditengah-tengah huria, setiap warga jemaat bisa menjadi pelayan penginjilan buat keluarganya masing-masing, demikian juga buat tetangganya sesama jemaat dalam satu huria dalam lingkungan wiyknya, namun juga bisa menjadi pelayan penginjilan buat sesamanya orang-orang Kristen yang lemah yang belum mempunyai status jemaat yang jelas.
  1. Masing-masing jemaat baiklah mulai menjadi penginjil buat saudaranya, orangtuanya, buat suaminya atau istrinya demikian juga buat anak-anaknya, sehingga tidak seorangpun dari anggota keluarga itu yang tidak terselamatkan.
  2. Masing-masing jemaat juga bisa menjadi pelayan atau penginjil buat sesama jemaat satu gerejanya yang mulai jauh dari Tuhan. Mengunjungi dan mengajak mereka kembali datang kepada Tuhan, datang bersekutu ke Gereja beribadah kembali bersama jemaat lainnya.
  3. Selain itu jemaat- jemaat yang tinggal di komplek-komplek perumahan, bisa menjadi pelayan penginjilan juga buat sesamanya orang-orang Kristen, yang masih belum bisa menentukan pilihannya harus beribadah dimana. Disinilah peran kita sebagai warga jemaat sangat dibutuhkan.

Inilah arti dari lingkaran pelayanan penginjilan yang disampaikan oleh Yesus bahwa Penginjilan atau missi itu sendiri haruslah berangkat dari titik central  yaitu diri kita sendiri lalu akan membentuk lingkaran kecil  disekitar kita yaitu keluarga kita dan orang-orang yang dekat dengan kita. Lingkaran itu kemudian bertambah besar yaitu tetangga-tetangga kita serta orang-orang disekitar kita. Selanjutnya kemudian akan membentuk lingkaran yang jauh lebih besar yaitu orang-orang yang lainnya dalam jaringan yang lebih luas.  (bandingkan: Kisah Para Rasul 1 : 8b : “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.").


Kesimpulan
            Jadi saudara/i sekalian, panggilan pelayanan missi (bermarturia) adalah panggilan universal bagi seluruh orang-orang percaya yang harus dimaknai dengan pemberitaan damai sejahtera Tuhan sebagai wujud nyata kehadiran Kerajaan Tuhan di dunia ini. Dan ini adalah tugas seluruh warga jemaat. Petrus mengatakan: “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung”. (2 Petrus 1 : 10). Jangan tunggu hari esok jika kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya hari ini, karena kesempatan ini tidak akan pernah kembali. “Selagi hari siang marilah kita bekerja keras karena malam akan tiba dimana kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa”

Ananda mulai berani survive


Kamis, 22 April 2010

” PERSEKUTUAN JEMAAT MULA-MULA ”


Renungan Utk Mengisi Acara di Radio Blessing Family FM - Pekalongan
Senin, 01 Juni 2009
------------------------------------------------------------


” PERSEKUTUAN JEMAAT MULA-MULA ”
Pengantar
            Jemaat-jemaat Tuhan yang kekasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, adalah penuh sukacita bisa kembali tambil untuk menyapa saudara-saudara pendengar radio Blessing family yang diberkati Tuhan dimana pun berada, khusunya saat in dimana kita baru saja bersukacita mengenang kuasa dan anugerah Tuhan yang mencurahkan RohNya yang kudus kepada setiap orang-orang percaya, di jaman itu bahkan hingga saat ini.
                Saat ini, kita dari gereja HKBP akan mengangkat sebuah topik tentang “jemaat mula-mula”. Saudara-saudara yang dikasihi Kristus. berbicara tentang jemaat kristen mula-mula adalah berbicara tentang sebuah persekutuan yang dirindukan dan dimimpikan bisa hadir kembali di jaman ini. Sebuah persekutuan yang meskipun masih sangat kecil dan muda akan tetapi sudah menunjukkan sebah persekutuan yang sangat indah. Sebuah persekutuan yang disenangi bukan hanya oleh Tuhan saja akan tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya. Tantangan dan ancaman tidak menjadi penghalang buat mereka untuk bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat dan juga bagi lingkungannya. Dengan kualitas hidupnya mereka merubah ancaman  dan tantangan-tantangan itu menjadi peluang dan kesempatan untuk bersaksi.
Mengapa Jemaat mula-mula itu berkembang dengan cepat dan disenangi oleh masyarakat disekitarnya, apakah yang menjadi kunci dan kekuatan mereka :

1.     Mereka adalah jemaat-jemaat yang terlahir dan bertumbuh dari sebuah pertobatan,
        Firman Tuhan di dalam Kisah 2 : 41 dikatakan : ...” Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis ....”. kata “..menerima perkataan...” artinya memberikan respon atau berita yang doisampaikan oleh Petrus yaitu : ”bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis.....”
        Jadi jemaat mula-mula itu sungguh-sungguh bertobat. Pertobatan yang sungguh sungguh inilah yang membuat jemaat itu disenangi oleh orang sekitarnya karena pertobatan mereka itu nyata di dalam perilaku mereka dan tentunya juga dirasakan oleh oleh orang-orang disekitarnya.
Bertobat berarti berbalik dari tidak percaya kepada Tuhan  menjadi percaya kepada Tuhan. Bertobat berarti berbalik dari melakukan perbuatn-perbuatan dosa dan sekarang melakukan perbuatan yang benar  dan berkenan di hati Tuhan. Bertobat adalah berpaling dari perbuatan yang sia-sia, dan sekarang  berpaling kepada rencana Tuhan yang indah. Bertobat berarti pindah dari kerajaan maut  ke dalam kerajaan Yesu Kristus.
Keanggotaan mereka sebagai jemaat atau sebagai bagian dari sebuah persekutuan orang-orang kudus itu  adalah karena buah dari sebuah pertobatan mereka, pilihan dan komitmen pribadi akan sebuah berita kebenaran yang diperdengarkan Tuhan melalui hamba-hambanNya. Mereka tidak menjadi anggota persekutuan kudus itu hanya karena mencari sebuah status dan identitas diri. Mereka adalah jemaat-jemaat yang terus bertumbuh menuju kepada kematangan. Jemaat-jemaat yang bertanggungjawab di dalam persekutuannya.



        Bukan melihat status kekristenannya sebagai sebuah kebetulan, akan tetapi sebuah anugerah Tuhan yang harus direspon dengan sebuah keputusan dan komitmen pribadi.
Bagaimana dengan kekristenan kita di jaman ini, apakah kita sudah menjadi orag kristen yang sungguh-sungguh bertobat atau kita menjadi orang Kristen  karena sesuatu alasan yang lain?
Menjadi Kristen bukan sebuah identitas dan status akan tetapi adalah komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan belajar hidup untuk seperti Kristus. ..........

2.    Mereka adalah jemaat yang bertekun di dalam Firman Tuhan (berpegang teguh) di dalam pengajaran rasul-rasul,  (Kis. 2: 42)
Faktor ini sangat penting dan sangat menentukan sekali karena jika jemaat Tuhan bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan , yaitu pengajaran yang berasal dari Allahyang tertuang di dalam Alkitab maka persekutuan itu akan kuat dan bertumbuh. Karena iman kepada Tuhan akan dihasilkan melalui pendengaran yaitu pendegaran Firman Tuhan. Namun sebaliknya gereja akan mati jika fondasinya bukan Firman Tuhan yang benar. Kalaupun bertumbuh maka pertumbuhannya bukan ke arah Kristus.
Di jaman sekarang ini ada banyak orang yang lebih suka mendengarkan cerita-cerita lucu yang menyenangkan  telinga mereka daripada mendengarkan Firman Tuhan yang benar, apalagi yang keras yang terkadang mengingatkan kesalahan dan kecurangannya. Manusia tidak suka diingatkan dan dikritik dengan firman akan tetapi lebih suka didukung dan dibenarkan di dalam segala perbuatannya. Jika tidak demikian kemungkinan mereka akan berpaling kepada pengajaran yang lain.
Dalam Kisah 2 : 42  disebutkan bahwa mereka bertekun di dalam pengajaran rasul –rasul ini berarti bahwa mereka percaya kepada pengajaran para rasul-rasul itu untuk kebaikan mereka, mereka tidak hanya mau mendengarkan apa yang enak-enak ditelinganya saja akan tetapi bertekun kepada pengajaran-pengajaran mereka. Jemaat kriten mula-mula, bukanlah jemaat yang hanya mencari enaknya saja,  akan tetapi berpegang teguh kepada pengajaran para hamba-hamba Tuhannnya.
Di tengah-tengah dunia ioni ada banyak guru-guru palsu, ada banyak penyesat-penyesat yang nampaknya lebih menyenangkan dan akan banyak pengkhotbah-pengkhotbah yang mengajarkan berbagai hala yang mungkin berbeda dengan mula-mula, akan tetapi jemaat mula-mula tetap setia kepada pengajar-pengajarnya. Dan inilah yang membuat jemaat itu terus bertumbuh dan berkambang. Bagaimana dengan kita ????
       
3.    Mereka Rajin berkumpul (saling  mengunjungi ) dan berdoa mengadakan persekutuan kasih secara bergilir    (Kis. 2 : 42b, 46)
        Persekutuan adalah kerinduan mereka, mereka selalu rindu untuk bisa berkumpul tiap hari di Bait Allah demikian juga bisa saling mengunjungi rumah-rumah secara bergiliran untuka bersama-sam mengadakan perjamuan kasih demikian juga untuk bisa makan bersama-sama dengan tulus hati. Mereka melakukannya tidak dengan keterpaksaan, semuanya dilakukan penuh dengan sukacita dan tulus hati. Kunjungan kasih dilakukan secara bergiliran tidak hanya bagi orang-orangtertentu yang mampu saja akan semuanya merasakan bahwa meraka adalah sebuah keluarga. Di dalam setiap persekutuanini mereka saling menguatkan dan menopang di dalam berbegai pergumulan mereka khususnya di dalam iman.  Di dalam persekutuan kasih itu mereka saling mendoakan.
        Di jaman sekarang mungkin ini sangat sulit kita lakukan untuk mengadakan kunjungan dan pertemuan setiap hari di gereja atau atau di rumah-rumah.  Waktu mungkin harus kita aturkan sedemikian sehingga tradisi ini harus kita pelihara, saling mengunjungi secara bergiliran (tanpa harus membuat perbedaan diantara jemaat – jemaat kaya atau miskin, dsb)  untuk saling mendoakan, saling menguatkan dan menopang adalah sebuah kekuatan yang sangat dibutuhkan. Persekutuan kasih bersama-sama mendengarkan firman Tuhan dan makan bersama akan selalu menguatkan ikatan kekeluargaan ditengah-tengah jemaat.           

3.    Mereka sehati sepikir,  saling  membantu dan menopang, (Kis. 2 : 44 – 45; 4 : 32 -  34 )
        Dengan sikap ini, tidak ada lagi jemaat itu yang merasa berkekuraangan, dan tinggal di dalam kelaparan. Jemaat mula- mula saling menopang. Jemaat-jemaat yang kaya membantu jemaat-jemaat yang miskin bahkan banyak diantara mereka yang rela denga tulus hatinya menjual sebagaian atau seluruh hartanya untuk dipakai di dalam kebutuhan pelayanan persekutuan itu.  Mereka merasa bahwa apa yang ada pada mereka itu adalah milik Tuhan dan persektuannya sehingga dianggap milik bersama. Di dalam segala hal mereka sehati sepikir, tidak ada seorang pun yang berlomba untuk memberikan yang terkecil, akan tetapi semua berusah memberikanyang terbaik, bahkan apa yang ada padanya diberikan untuk keperluan bersama. Sehingga dengan prinsip ini yang  yang kaya tidak berkelimpahan dan yang miskin tidak berkekurangan”  karena mereka semuanya dicukupkan bahkan berkelimpahan di dalam kasih dan persaudaraan.


        Di jaman sekarang in adalah tantanga bagi gereja, mampukah jemaat saling menopang dan membantu, atau kembali seperti yang telah disampaikan diatas semuanya hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak peduli kepada penderitaan orang lain?  Hartaku adalah milikku, hasil kerja kerasku dan akulah yang menikmatinya. Atau yang terparah adalah ketika jemaat berlomba untuk memberikan yang terkecil?........

5.    Hamba-hamba Tuhannya setia kepada Tuhan, mereka hidup  berpusat kepada Yesus
        faktor lain yang  membuat jemaat mula-mula bertumbuh dan berkembang dengan baik adalah karena jemaat Hamba-hamba Tuhannya tetap fokus dan setia kepada Tuhan.  (kisah 3 : 6). Mereka melakukan tugas panggilannya bukan demi emas dan perak, bukan demi sebuah status kemapanan diri sendiri atau bukan demi kemuliaannya sendiri. Memang ada banyak peluang untuk menjadi terkenal dan terhormat bahkan lebih dari itu ada banyak peluang untuk mencari kemapanan diri. Akan tetapi hamba-hamba Tuhan itu menepiskan motivasi-motivasi itu dari pikiran mereka. Mereka tetap setia kepada Kristus sang pemberi mandat, dan melakukan segala pekerjaan mereka di dalam nama Kristus.
        Di jaman sekarang, ini adalah tantangan juga bagi hamba-hamba Tuhan, ada banyak godaan kemuliaan dan kehormatan yang selalu melekat sebagai hamba Tuhan. Perlakuan masyarakat kepada Hamba Tuhan sering sekali membuat hamba Tuhan itu jatuh kepada pribadi yang dilayani bukan melayani. Lebih dari itu kalau ini terjadi ini berarti kemuliaan tidak dikembalikankepada Kristus melainkan dirinya sendiri. Godaan kemapanan juga sering menjadi dera bagi banyak pelayan. Demi kenikmatan hidup ada banyak hamba-hamba Tuhan yang lebih tunduk kepada kuasa dan perintah orang-orang tertentu daripada kepada kuasa Kristus. Dengan emas dan perak , demi harta dan kemapanan ini mereka menghianati panggilannya. Mereka menjadi pelayan-pelayan sekelompok orang.
        Rasul-rasul demikian juga jemaat, tidak sedikitpun takut kepada sekelompok orang, meskipun harta dan ketenanangan hidup ditawarkan mereka tetap setia kepada panggilannya. Meskipun penjara dan siksaan bahkan maut di depan mereka, mereka tetap tersenyum dan semangat memberitakan Firman Tuhan. Inilah teladan yang membuat semkain banyak yang suka melihat persekutuan jemaat mula-mula.             

6.    Jemaat itu juga  memahami bahwa tugas pangilan pelayanan adalah tugas panggilan bersama, jadi bukan hanya tugas para rasul-rasul saja, bukan hanya tugas hamba-hamba Tuhan saja melainkan tugas bersama seluruh jemaat.
        Hal ini bisa kita lihat sangat jelas ketika jemaat semakin banyak dan pelayanan juga semakin banyak. Rasul-rasul tidak lagi sanggub membagi waktu mereka sehingga tugas utama mereka untuk memberitakan Firman Tuhan terbengkalai, hanya karena tugas-tugas sosial perawatan kaum-kaum miskin dan berkekurangan termasuk yang mengalami sakit penyakit dan pergumulan lainnya maka dengan inisiatif bersama jemaat itu mengadakan usulan pengangkatan pelayan-pelayan baru dari tengah-tengah jemaat itu sendiri. Diangkatlah diaken-diaken yang bisa membantu pelayanan sosial demikian juga jemaat-jemaat lainnya berperan juga saling melayani. Sehingga rasul-rasul bisa kembali konsentrasi kepada tugas panggilan utamanya yaitu memberitakan Firman Tuhan.
        Dalam hal ini ketika jemaat tidak hanya menuntut akan tetapi tampil dengan gemilang untuk juga bisa memberikan waktu dan tenaganya untuk ikut bersama-sama di dalam panggilan pelayanan ini tanpa pamrih. Mereka sangat memahami bahwa panggilanpelayanan ini adalah panggilan am bagi seluruh orang percaya.
        Ini sangat penting sekali untuk kita renungkan di dalam kehidupan jemaat masa kini ada banyak sekali gereja-gereja Tuhan yang hamba-hambaNya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memberitakan Firman Tuhan khususnya ke luar persekutuan gereja. Hamba-hamba Tuhan itu disibukkan dengan berbagai urusan-urusan administrasi gereja, sering disibukkan dengan pelayanan-pelayanan interen dan rutinitas gerejanya, sementara jemaat hanya tinggal diam minta dilayani dan tidak terpanggil untuk bisa terlibat ikut membantu di dalam panggilan pelayanannya. Bahkan ada diantara jemaat-jemaat itu yang tidak merasa puas kalau pelayanan itu dilakukan oleh sesamanya bukan oleh Hamba Tuhan

Ketikka kualiatas hidup yang sangat baik sudah mereka pertontonkan maka kuantitas mereka pun Tuhan tambahkan, Inilaah yang kurang dari kita di jaman ini? Dimana kita di jaman ini lebih cenderung
1.    Asyik sendiri dan berjalan sendiri-sendiri
2.    Meletakkan tugas pelayanan itu hanya kepada orang-orang yang ditentukan sementara kita jemaat tidak mempunyai sedikitpun tanggungjawab untuk terpanggil di dalm pelayanannya. Karena kita sudah merasa cukup dengan persembahan yang kita berikan

Kamis, 25 Maret 2010

Sebuah Puisi Tentang Hidup


MUDAH & SULIT

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000
apabila dibawa untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan atau untuk dugem!

Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam;
namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika
berdoa (spontan); namun
betapa mudahnya kalau mengobrol
atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa sering kita lupa atau bahkan malas untuk
berdoa/sembahyang: namun
kita akan dengan semangat membara kalo
mau ketemu
Pacar atau boss atau client kita

Betapa asyiknya apabila pertandingan olahraga
diperpanjang waktunya ekstra
namun kita mengeluh
ketika khotbah di tempat ibadah lebih lama sedikit
daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu ayat dari
Kitab Suci; namun
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam
pertandingan atau konser; namun
lebih senang duduk
di bangku paling belakang di tempat ibadah.

Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu
kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya
untuk suatu acara keagamaan;namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap
pada saat terakhir untuk event yang
menyenangkan seperti pesta, jalan2, nonton.

Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana
dari kitab suci untuk di sharingkan dengan orang
lain;namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi
gosip yang sama kepada orang lain itu.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang
dikatakan oleh Koran atau majalah; namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga
seandainya tidak
perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan
apa-apa, atau berbuat apa-apa.