DI SAAT DAKU TUA, BUKAN LAGI
DIRIKU YANG DULU,
maklumilah diriku, bersabarlah dalam menghadapiku.
DI SAAT DAKU MENUMPAHKAN KUAH SAYURAN DI BAJUKU,
DI SAAT DAKU TIDAK LAGI MENGINGAT CARA MENGIKATKAN TALI SEPATUKU,
ingatlah saat-saat bagaimana daku mengajarimu, membimbingmu untuk melakukannya.
DI SAAT AKU DENGAN PIKUNNYA MENGULANG TERUS-MENERUS UCAPAN YANG MEMBOSANKAN MU,
bersabarlah mendengarkanku,jangan memotong ucapanku.
Di masa kecilmu, daku harus mengulang dan mengulang terus sebuah cerita yang
telah aku ceritakan ribuan kali hingga dirimu terrbuai dalam mimpi.
DI SAAT AKU MEMBUTUHKANMU UNTUK MEMANDIKANKU,
janganlah menyalahkanku.
Ingatkah di masa kecilmu, bagaimana daku dengan berbagai cara membujukmu untuk
mandi ?
DI SAAT AKU KEBINGUNGAN MENGHADAPI HAL-HAL BARU DAN TEKNOLOGI MODERN,
janganlah mentertawaiku.
Renungkanlah bagaimana daku dengan sabarnya menjawab setiap "mengapa"
yang engkau ajukan di saat itu.
DI SAAT KEDUA KAKIKU TERLALU LEMAH UNTUK BERJALAN,
ulurkanlah tanganmu yang muda dan kuat untuk memapahku.
Bagaikan di masa kecilmu daku menuntunmu melangkahkan kaki untuk belajar
berjalan.
DI SAAT DAKU MELUPAKAN TOPIK PEMBICARAAN KITA,
berilah sedikit waktu padaku untuk mengingatnya.
Sebenarnya, topik pembicaraan bukanlah hal yang penting bagiku, asalkan engkau
berrada di sisiku untuk mendengarkanku, daku telah bahagia.
DI SAAT ENGKAU MELIHAT DIRIKU MENUA, JANGANLAH BERSEDIH,
maklumilah diriku, dukunglah daku, bagaikan daku terhadapmu di saat engkau
mulai belajar tentang kehidupan.
DULU DAKU MENUNTUNMU MENAPAKI JALAN KEHIDUPAN INI, KINI TEMANILAH DAKU HINGGA
AKHIR JALAN HIDUPKU. BERILAH DAKU
CINTA KASIH DAN KESABARANMU, DAKU AKAN MENERIMANYA DENGAN SENYUMAN PENUH
SYUKUR.
DI DALAM SENYUMKU INI, TERTANAM KASIHKU YANG TAK TERHINGGA PADAMU. HAI ANAKKU!
(Amsal 23:1-8)
Hikmat berasal dari Tuhan. Sejak awal, penulis kitab Amsal menyaksikan
bahwa: “takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” (Ams. 1:7). Jadi ada kaitan yang jelas antara
orang berhikmat dengan hidup yang takut akan Tuhan. Orang yang takut akan Tuhan
akan beroleh hikmat. Tetapi mereka yang mencoba mengenal Allah dari analisa
pemikiran atau dari pertimbangan-pertimbangan atas perhitungan manusia, akan
gagal, bahkan banyak yang akhirnya sesat dengan menyangkal Tuhan. Artinya,
orang yang mengandalkan pikiran dan pertimbangan duniawi tidak identik dengan
orang berhikmat.
Orang berhikmat itu adalah orang yang memiliki pengetahuan yang memungkinkan
orang itu mengenal Yang Mahakudus (Ams. 30:3). Sehingga, orang yang berhikmat
akan mampu melihat perbuatan-perbuatan Tuhan yang besar dalam setiap perjalanan
hidup dan pelayanannya di tengah-tengah realitas dunia ini. Mereka yang
mengalami perbuatan-perbuatan besar Tuhan dalam hidupnya akan memiliki
integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan harkat dan martabat manusia.
Mengapa? Sebab, hikmat yang dari Tuhan, itu menuntunnya kepada sikap yang
tenang dan keyakinan akan anugerah Tuhan yang memberikan segala sesuatu yang
perlu dalam hidupnya.
Orang berhikmat tidak akan mengerjakan sesuatu tanpa campurtangan Tuhan.
Sehubungan dengan itu, Amsal 23:1-8 ini secara halus mengingatkan beberapa hal
agar setiap orang berhikmat menjaga integritasnya dalam mengejar cita-cita,
karier dan status sosial yang diinginkannya.
Peluang dan ancaman bersama seorang
pembesar (ayat 1-3).
Memiliki relasi dengan seorang pembesar adalah sebuah peluang, dan sekaligus
juga ancaman. Ada banyak hal yang dapat diharapkan dari hubungan yang baik
dengan orang-orang terhormat. Secara umum, kita senang dan bangga dekat dengan
seorang pembesar, bukan saja dengan pejabat dan orang kaya, tapi juga dengan
seorang publik figur, seorang artis misalnya. Namun, orang berhikmat yang dekat
dengan seorang pembesar tidak akan terjebak dengan penampilan dan gaya hidup
pembesar itu. Orang bijak yang menuliskan Amsal ini memiliki pengalaman yang
mesti dicamkan oleh siapa saja yang memiliki relasi dengan seorang pembesar.
Sebab, duduk satu meja dengan seorang pembesar, bukan saja menjanjikan sebuah
kesempatan untuk promosi jabatan dan sejenisnya, tetapi sebaliknya juga dapat
menjadi ancaman yang mematikan karier dan bahkan nyawanya.
Pengalaman yang paling menyakitkan dari orang-orang yang memiliki kedekatan
khusus dengan seorang pejabat, penguasa dan orang kaya adalah ketika, oleh satu
dan lain hal, sang pembesar mencampakkan dan meninggalkannya bagaikan sampah di
Tempat Pembuangan Akhir. Penulis Amsal ini, luput dari tragedi seperti itu
karena hikmat sungguh menuntun hidupnya, yakni dengan sangat hati-hati terus
mengevaluasi kedekatannya dengan sang pembesar. Orang bijak yang menulis Amsal
ini dengan cermat memerhatikan apa yang ada di depannya (ayat 1); dia bukan
saja memperhatikan hidangan yang disuguhkan pembesar itu, tetapi jauh ke dalam
motiv dan tujuan jamuan makan pembesar itu. Sebab, orang bijak harus menjaga
integritas dan nilai-nilai yang mendahulukan kehormatan daripada kemewahan
hidup. Kalimat perintah yang mengatakan: “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu,
bila besar nafsumu!” (ayat 2) secara tegas mengingatkan bahwa jamuan makan
mewah yang menjebak sungguh merupakan ancaman bagi orang yang tidak berhikmat.
Oleh karena itu, jangan sampai tertipu dengan makanan pembesar yang lezat (ayat
3). Orang berhikmat, sebagai orang yang takut akan Tuhan, tidak akan menjual
status dan harga dirinya demi makanan yang lezat seperti Esau (Kej. 25:29-34).
Tetapi, seseorang yang takut akan Tuhan, dengan hikmat mengalahkan godaan
makanan, seperti Yesus Kristus yang menang dalam pencobaan oleh iblis (Mat.
4:3-4).
Orang berhikmat tidak materialisme (ayat
4-5).
Orang bijak dalam Amsal ini sama sekali tidak alergi dengan kekayaan. Menjadi
kaya tidak ada salahnya. Namun, ungkapan orang bijak pada Amsal ini jelas
mengingatkan kesia-siaan mengejar status sosial melalui kekayaan. Status sosial
yang didasarkan pada kekayaan material tidak bertahan lama; karena kekayaan
dapat hilang sekejap mata, terbang seperti burung rajawali (ayat 5). Status
sosial memang penting, namun bukan dengan memburu uang. Sebagaimana diingatkan
oleh Paulus kepada Timotius, bahwa oleh karena memburu uanglah beberapa orang
telah menyimpang dari iman dan menyiksa diri dengan berbagai-bagai duka (1Tim.
6:10). Artinya, orang yang berhikmat akan menjaga ambisinya agar tidak jatuh
kepada roh materialisme. Orang berhikmat boleh saja kaya raya, tetapi tidak
materialis, sebab memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas (Ams.
16:16). Mengejar kekayaan dengan susah payah bukanlah suatu obsesi orang
berhikmat, karena kekayaan selalu dilihat sebagai berkat yang kemudian
ditambahkan oleh Tuhan kepada setiap orang yang bersungguh-sungguh melakukan
kehendak-Nya (Ams. 10:22). Oleh karena itu, seseorang yang berhikmat berjerih
payah untuk melakukan kebenaran, yang berkenan bagi Tuhan, serta menghindari
jalan yang menyesatkan. Sehubungan dengan itu pula Yesus Kristus mengajarkan,
supaya setiap orang percaya mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan
kebenarannya, maka semua hal, termasuk kekayaan akan ditambahkan kemudian.
Kekayaan dilihat sebagai bonus, bukan sebagai goal yang mau dicapai (Mat.
6:33).
Menjadi orang yang tulus dan berbelas
kasih (ayat 6-8)
Orang bijak melihat ada kaitan yang erat antara kekayaan dan ketulusan hati
serta belas kasihan. Di sini jelas bahwa orang kaya tidak selalu dilihat
negatif; yang negatif adalah kekikiran dan ketidak tulusan dalam memberi
(jamuan) kepada orang lain. Oleh karena itu, larangan orang bijak pada ayat 6,
“jangan makan roti orang yang kikir” harus dilihat dalam konteks kepribadian
orang kaya yang menyuguhkan makanan lezat itu. Apakah orang kaya yang
memberikan jamuan makan itu merupakan pribadi yang tulus dan pengasih, atau
sebaliknya ia memang seseorang yang biasa menggunakan kekayaannya untuk
menjerat orang lain demi kepentingan pribadi? Orang berhikmat tidak akan
menjual harga dirinya dengan memakan suap yang lezat atau memberikan kata-kata
yang manis untuk menyenangkan hati orang kaya yang tidak tulus (ayat 8). Namun
demikian, orang bijak tidak akan apriori terhadap orang kaya. Orang bijak
malahan harus memberikan pengaruh yang positip agar setiap orang kaya menjadi
orang yang memberi dengan tulus, dan memiliki kepedulian terhadap mereka yang
miskin, terbelakang, dan terlindas oleh kemajuan zaman.
Orang kaya yang tulus hati dan penuh kepedulian terhadap nasib sesama yang
menderita akan sangat efektip mengatasi berbagai masalah sosial dan ekonomi.
Malahan boleh dikatakan, bahwa cara yang paling efektip untuk mengatasi
kemiskinan dan pengangguran serta kekerasan, yang menjadi bahaya laten dalam
negara-negara berkembang, seperti Indonesia, adalah dengan membangun moralitas
orang kaya melalui penganugerahan penghargaan yang tinggi bagi setiap orang
kaya yang berusaha keras memerangi kemiskinan, membuka lapangan kerja yang luas,
dan mendirikan pusat perlindungan terhadap korban-korban kekerasan. Sebaliknya,
sebagai upaya pencegahan dan menekan orang-orang kaya yang menyalah gunakan
kekayaannya untuk suap dan berbagai usaha yang merusak kehidupan masyarakat,
maka diperlukan langkah-langkah yang bijak dengan sikap dan tindakan hukum yang
tegas dan konsisten.
Orang kaya yang berhikmat akan membangun integritas dan status sosial yang
terhormat dan mulia apabila dengan tulus hati memberikan perhatian dan karya
nyata yang dapat mengangkat nasib orang miskin, dengan membangun lapangan kerja
dan mendukung semua upaya peningkatan taraf hidup rakyat banyak. Orang kaya
yang berhikmat malahan dapat memberikan pengaruh yang kuat terhadap
pemerintahan yang sehat dan bersih dengan menggugat oknum-oknum pejabat publik
yang bermental korup.
Pdt. Willem TP Simarmata, M.A.
KRP HKBP/Dosen STT HKBP
Ramotanmuna ma arta na
sian Tuhan Jesus, songon na binahen ni parmahan mangaramoti na di ibana, asa unang mago. Ai peakhononmuna do
sogot rujiruji taringot tu angka na pinarmahanmuna di jolo ni Tuhan i. Na gabe
sitiruon do hamu di jolo ni angka na pinasahat tu hamu. Dibahen i tangkas ma
hatahon hamu tu nasida Hata ni Debata, na tarsurat di angka surat na di Padan
na Robi dohot di angka surat na di Padan na Imbaru. Buat hamu ma sian Hata i
poda, apoapo, sipaingot, apulapul dohot hata paminsangon, hombar tu angka na
masa. Songon i do dibahen angka apostel, songon na nidok ni Apostel Petrus:
Molo adong na marjamita, dihatahon ma hatana songon Hata ni Debata; Molo adong
manang ise na marhobas hombar ma i tu gogo na nilehon ni Debata, asa
dapotan hasangapon Debata marhitehite Tuhan Jesus Kristus di na saluhutna (1
Petrus 4:11).Sialoonmuna jala sitaluhononmuna ma nasa hatahata, na
marsalisi tu Hata ni Debata. Marlambok ni roha ma hamu maminsangi angka na
mangalo, anggiat dilehon Debata hamubaon ni roha, asa diboto nasida hasintongan
(2 Timoteus 2:25). Antong, ramoti hamu ma dirimuna dohot na sapunguan i, manang
tu dia hamu dipaojak Tondi Parbadia asa diparmahani hamu Huria ni Debata, na
hinophopNa i marhitehite Tuhan Jesus Kristus (Ulaon 20:28). Ingkon
baritahononmuna do hata sihaporseaan i, i ma na nilehon ni Debata padengganhon
jolma tu Ibana, ai i do dalan tu hangoluan, dalan tu hamubaon ni roha dohot dalan
pardamean ni jolma tu Debata.
Pardengganan na songon i ma paboaonmuna tu angka na pinasahat tu hamu.
Antong singkat ni Kristus i do hamu
mangelekelek jala dohononmuna ma tu jolma i: Sai olo ma hamu
padengganon tu Debata.
Mangaramoti arta na sian Tuhan Jesus, songon na binahen ni parmahan
Mangaramoti dorbiana, asa unang mago. Mamodai, mangapoi, paingothon, mangapuli
dohot maminsang marhite Hata ni Debata Ai singkat ni Kristus do hamu (1 Petr.
4:11; 2 Tim. 2:25; 2 Kor. 5:20)
Paduahon
Songon tangkas ni
pamodaionmuna di angka na olo tu hadaulaton tu Debata, ingkon songon i ma
tangkas paminsangonmuna di angka na so olo tu hangoluan, asa unang adong na
mago, ala so ada sipaingot, jala unang
marsapata nasida tu hamu. Ingot
hamu ma na tarsurat i: Ia ho ale anak ni jolma! Nunga Hupabangkit ho gabe
siparmahan ni halak Israel, ingkon tangihononmu Hata na ruar sian pamanganHu.
SingkatHu ma ho, palumbahon nasida. Molo Hudok tu angka pardosa na tu hamatean
nama ho, gabe so dipalumba ho ibana, ndang diapuli ho ibana, asa dipauba
rohana, asa mangolu, na mate do tutu pardosa i ala ni dosana, alai sian
tanganmu do tungguonHu mudarna. Alai molo dipalumba ho pardosa i, hape ndang
dipauba rohana dohot pambahenanna, mate ma ibana tutu di bagasan dosana, alai
malua do ianggo tondim.
Mamodai dohot maminsang angka na so olo tu hangoluan asa unang adong na
mago alani dosa (Hes. 33:7-9)
Patoluhon
Alai ndada holan ulaon
ondeng na pinasahat tu Pandita. Ai di na laho manadingkon tano on Tuhan Jesus,
jumolo do dipadiri ulaon na badia na dua ragam i. Na mangan parpadanan na badia do na saragam. Na saragam nari, i ma
pandidion na badia, na tinonahonNa i di na laho manaek Ibana tu banua ginjang.
Asa radotanmuna ma ulaon na badia na dua ragam i; songon parhobas di bagas ni
Debata ma hamu mangulahonsa. Tangkas ma pamanat hamu angka dongan i, asa holan
angka na tau, angka na tumanda dosana, angka na mangarsakhon pambahenanna jala
na olo paubahon rohana manjonohi panganon na badia i. Ambatonmuna do angka na
jungkat, angka na lomo roha di dosa, asa unang dijonohi na badia i. Ingot hamu
ma: Dipasahat Tuhan Jesus do anak hinsu ni banua ginjang tu HuriaNa i, asa
dipabali angka na so olo paubahon rohana, ai ninna do: Hulehon pe tu ho anak
hinsu ni harajaon na di angka banua ginjang i. Nasa na niihotanmi di tano on,
na tarihot do i dohot di angka banua ginjang, jala molo adong diharhari ho di
tano on, harhar do i nang di angka banua ginjang. Didok Tuhan Jesus dope: Jalo
hamu ma Tondi Parbadia! Molo disesa hamu dosa ni manang ise, naung sesa ma i, molo dipahot hamu dosa ni manang ise naung
hot do i .
Mangaradoti dohot mangulahon Ulaon na Badia, naung dipadiri Tuhan Jesus
laho paluahon halak na olo paubahon rohana (Mat. 16:19; 26:20-30)
Paopathon
Angkup ni i, radot
ma hamu patureturehon angka dakdanak, maniru pambahen ni Tuhan Jesus. Ai didok
Tuhan Jesus sahali: Loas hamu ma angka dakdanak i ro tu Ahu, unang orai hamu
nasida, ai di angka sisongon i do harajaon ni Debata. Dibahen
i ajarhon hamu ma pamusatan ni Hata ni Debata (Katekhismus) dohot jamita tu
angka dakdanak. Podai hamu ma nasida, asa diboto hadaulaton tu Debata dohot
hapantunon tu jolma. Ambati hamu ma nasa
na tau mangago dakdanak, ai parmahan do hamu, songon naung nidok ni Tuhan
Jesus: Parmahani ma angka anak ni birubirungKu
Radot Patureturehon angka dakdanak maniru pambahenan ni Tuhan Jesus
(Mark. 10:14). Mamodai asa diboto hadaulaton tu Debata dohot hapattunon tu
jolma (Yoh. 21:15c)
Palimahon
Ramoti hamu ma saluhut
pangisi ni Huria i, angka na mabalu, angka ama, ina, dolidoli dohot anak boru,
maniru pambahen ni Apostel Paulus. Ai
ninna do tu halak Epesus: Dibahen i jaga ma hamu, ingot hamu ma na so mansohot
ahu saleleng ni tolu taon arian dohot borngin, paingothon ganup hamu huhut mariluilu. Tangiangkon hamu ma saluhut na pinasahat tu
hamu, asa diramoti Tuhan Jesus nasida jala dipasupasu marhitehite Tondi
Parbadia
Ramoti jala jaga hamu saluhut pangisi ni Huria i, angka namabalu, angka
ama, angka ina, angka dolidoli dohot anak boru, maniru pambahenan ni Apostel
Paulus (Ul. 20:32)
Paonomhon
Angkup ni i, sai ture
ma parangemuna, asa tau tiruan hamu di angka na pinarmahanmuna i, tiruan di
hata, di pangalaho, di haporseaon dohot di holong ni roha. Ingot hamu ma na
nidok ni Hata ni Debata: Ingkon unang marhaurahon sintua i, harajaan ni sada
boruboru, unang parmabuk, na marroha, na ture marparange, na las roha di tamue,
pangajari, unang sisobur tuak, unang pangalinsingi, unang parpangomoan na so
tama, alai ingkon partalup ni roha do, na so parbada, na so impolan di perak,
na denggan mangarajai donganna sabagas, parianakhon sioloi ajar di bagasan nasa
hatomanon. Ai molo adong manang
ise, na so malo manggomgomi isi ni bagasna tung beha ma tarpaturesa Huria ni
Debata.
Marparange na ture asa gabe tiruan tu angka napinarmahan:
unang marhaurahon, harajaan ni sada boruboru, unang parmabuk, na
marroha, na ture marparange, na las roha di tamue, pangajari, unang sisobur
tuak, unang pangalinsingi, unang parpangomoan na so tama, ingkon partalup ni
roha do, na so parbada, na so impolan di perak, denggan mangarajai donganna
sabagas, parianakhon sioloi ajar di bagasan nasa hatomanon, (1 Tim. 3:2-4)
Papituhon
Ingkon ture
bahenonmuna saluhut aturan ni ulaonmuna i mangihuthon patik ni indukmuna.
Sahata ma hamu dohot angka dongan Pandita: Di pangalaho ni pangoloion tu
Debata, unang pulikpulik marpingkiran, unang marsalisi hata dohot roha, unang
masigasipan, asa saut di hamu na pinangido ni Tuhan Jesus sian AmaNa di na
nidokNa i: Sai tongtong ma di GoarMu nasida na nilehonMi tu Ahu, asa sada
nasida songon Hita.
Ingkon ture bahenon saluhut aturan ni ulaon mangihuthon patik ni induk,
Sahata ma hamu dohot angka dongan Pandita: Di pangalaho ni pangoloion tu
Debata. Asa saluhut sada dibagasan Tuhan i (Yoh. 17:21)
Tung ampit jala dasip do hata
Tohonan di hata Batak, pataridahon na silehonlehon ni Debata do i tu
marsasahalak jala tung so tarpaorot do i sian na ingkon manjalosa. Boi do i antusan sian hata “Toho” dohot
pandohan “sitohotoho” mandok na so binahenbahen, na so pinasumansuman, alai na
tung i do tohona dohot sintongna sian pangalehon ni Debata. Na dipasahat do Tohonan i tu sahalak ala ni
hadirionna na dihilala boi dipatujolo ala ragam ni hatauonna: diparbinotoan,
dipartondion, diketerampilan mambahen sasahalak gabe pemimpin manang tokoh
gabe parnampunaon na toho dipartohonan i
di tongatonga ni masyarakat dohot di parugamaon
Hata “PANDITA”:
Sian Bahasa Sansekerta.
Mansai bidang do pangantusion
taringot tu hata “Pandita”, boi do i bersifat akademis, partondion dohot
ketrampilan (na bisuk, na marsiajar, na terampil), jala boi do marlapatan na
patuduhon sasahalak sada tokoh utama di tongatonga ni masyarakat.
Pandita ima sahalak
namanguluhon Huria, na ulaonna MARHOBAS, tarlumobi manghobasi ulaon partondion.Ala
Parhobas do Pandita, ingkon adong do “Parasingan” ni parngoluon dohot
pangulaonna sian angka na so partohonan pandita (ngolu di bagasan Kristus). Parngoluon
dohot Pangajarion ni Tuhan Jesus, na patuduhon diriNa songon parhobas na
denggan, naeng ma nian songon i na boi dapot idaon di ngolu ni sahalak Partohonan
Pandita.
Tohonan Hapanditaon ima silehonlehon ni Debata na dipasahat jala
dijalo marhite roha na tulus jala bulus, marhite nalom dohot serep ni roha
mangulahonsa.
Marhite ojahan i, Tuhan Jesus
do na pajongjong Tohonan Hapanditaon mamungka adong Huria di Portibi on sahat
tu tingki on (Mat. 28:18-20; Joh. 21:15-19; I Tim. 3:1-7; II Tim. 1:6). Tohonan
Hapanditaon, na tubu jala na marurat do i sian Tohonan ni Tuhan Jesus na badia
i.
NDANG TOHONAN ADMINISTRASI
ORGANISASI HAPADITAON I, ALAI TOHONAN
PARTONDION DO. NDANG JABATAN, NDANG PROFESSI ALAI NGOLU DO
Tardok ojahan ni parhuriaon do
tohonan. Molo denggan mardalan tohonan hapanditaon, manjadi do Huria i.
Tarsongon jantung na mangatur pardalan ni mudar tu sandok pamatang i laho
pangoluhon, ingkon songon i ma tohonan hapanditaon i padalanhon ngolu Barita Na
Uli i
II. TOHONAN HAPANDITAON DI HKBP
A. SEJARAH TOHONAN HAPANDITAON DI HKBP
Tohonan Hapanditaon di HKBP ima
kelanjutan ni sejarah Tohonan Hapanditaon ni angka Parbarita Na Uli
(Missionaris) na tinongos ni badan-badan Sending Luar Negeri secara khusus RMG
(1861-1940)
Taon 1883 jongjong Sikola Pandita na parjolo di
Pansurnapitu. Tanggal 19 Juli 1885 tarpasupasu ma Pandita na parjolo sian
tongatonga ni halak Batak di Pearaja Tarutung, ima Johannes Siregar, Petrus
Nasution, Markus Siregar
Pdt. K. Sirait: Pandita Batak
naparjolo manguluhon HKBP Dung marumur 79 taon HKBP (1861-1940)
Tung tangkup do pangantusion ni
na torop di hatiha i marnida/mangantusi ulaon ni Pandita na songon malim ni
Debata. Tarida do i sian pangalaho na daulat jala na donda marpangalaho di
panghataion, di parabitan, tobok jala burju. (patudos tu pandohan: “Tuan
Pandita” manang “Songon Pandita do Tuan i”). Tarida do hasangapon ni pandita i,
dang sian hapistaran, alai ala ni badia ni pangalahona
Alai dilaon ni ari gabe
maturtur jala lam harhar do pangantusion i di deba halak, ala godang sisurahan
parange ni pandita na so saurdot hatana tu pangalahona
B. PANGANTUSION TARINGOT TU TOHONAN HAPANDITAON di HKBP
- Tohonan
Hamalimon do tohonan Hapanditaon, ala Debata do na mangampehon jala pasahathon
ulaon laho marmahani huriaNa patureturehon Tondi ni jolma jala manogunogu tu
Debata (I Musa 12:4; 2 Musa 3:6+10)
- Marhite na manjalo tohonan, bangkit gabe Panurirang,
Malim dohot Raja do partohonan di HuriaNa (I Kor. 12:28; Ef. 4:11; Ulaon. 6: Munus Triplex)
jala Kristus do na gabe tiruon di partohonan
(pat. Agenda pamasumasuon di Agenda HKBP)
- Konfessi HKBP
bindu 9: “Parhobas ditongatonga ni Huria Kristus do na bangkit Raja
marmahani ngolu ni partohonan, na manggohi tohonan ni jinalona, asa hobas jala
rade di panjouon i”
Laho mangulahon
tohonanna, ingkon siboanon ni pandita i do Barita na uli taringot tu Kristus.
Dang jadi sian malomalo nang habisuhonna, ai Kristus do pusat ni nasa hata ni
Debata (I Kor. 2:4+6-7). Ai molo Kristus i diboan, tarida ma pangalahona sian
sandok panghobasionna.
Ingkon manghirim do pandita i
di parbue ni Jamita na sinaburhonna jala huhut benget maimaimahon dibagasan
tangiang. Suang songoni ingkon gabe partohonan na marpanindangion ma pandita,
na tau tiruan, ai marhite sian i ditanda halak Jesus Sipalua i.
C. TOHONAN SIJAGA TONDI DOHOT NGOLU
4 Sipahinsa manang Sipapir Tondinta di ulaon i:
1). Sian Tuhanta do Tohonanta
Debata sambing do na paojakhon
jala Saguru di ibana do Tohonan (pat. 2 Kor.
5:18, 2 Kor. 5:20: Ulaon. 20:28, Ef. 4:11:). Alani i,
sumurung do Tohonan i, alai laos tohonan i do na dumokdok. Ai ndang
adong tohonan di portibi on, na songoni borat ni tanggungjawabna
2). Paingothon
sian hata ni Debata
Hata ni Debata na hot jala
manongtong pataridahon holong dohot pambahenan laho pangoluhon sian
hamagoan/hamatean. Sipeopon jala sipahusorhusoron do hata i di roha dohot di
ngolu. Margogo do hata i laho manindangi di roha dohot di sude ngolu
3). Manghatondithon
Tanggungjawab
Parsuruon ni Debata dibagasan
hagogoon dohot huasoNa alani sangapNa. Hagogoon dohot huasoNa do na patauhon,
asa barani mangalumbahon jea, dompak hajahaton marhitehite na mangasahon goar
ni Tuhan i
4). Papir Tondi
Manean Harajaon ni Debata
marhite pangaradotion di tohonan sian nasa gogo dohot ringgas ni roha.
Palumbahon tu ruas asa saleleng di ngoluna tongtong mangungkap roha, rade
mangurupi, suang songoni margogo palumbahon, maminsang dohot paingothon angka
parsala dihasalaanna
III. SAHAT ULA TOHONANMI
(2 TIM. 4:5)
Patulushon Poda Tohonan Naung Pinasahat Ni Kristus Naeng Ma Partohonan Pandita, Gabe:
1. Naposo
Parmahan
Dungo jala barani manghophop
dorbiana, jala na tongtong manogunogu partondion ni ruasna, mamboan tu
panghilalaan na sonang
2. Naposo Uluan
Na bertanggungjawab tu Debata
silehon parbue ni Tondi jala na pasolhot tu Debata. Naeng tongtong mangido
pangurupion asa tongtong dipaimbaru. Debata ngoluna, gabe tiruan/teladan
(pribadi, keluarga, pargaulan, hata dohot pambahenan) asa margogo mamboan ruas
tu hamubaon dohot hasesaan ni dosa.
3. Naposo Sijaga
Tondi
Paulihon dohot manjagahon tondi
ni ruas marhite na dungo laho paingothon (paboahon uhum dohot pasupasu sian
Debata). Naeng lam tubu jala mangerbang ngolu parsaoran di hata ni Debata,
songon tanda naung mian/maringan Hata i di ngolu ni ruas.
4. Naposo Pangajari
Gabe pangajari na pabotohon
barita haluaon, gabe margogo ruas laho
marsada, manindangi dohot manghobasi. Dipataridahon ma hamajuon ni ruas na
tongtong gok panghirimon, di pangantusion,
jala lam solhot laho mananda hasintongan dohot hatigoranNa.
Ingkon tangkas do tarida di
ngolu ni Pandita hatiuron dohot hasintongan di atas ni haholomon ni ngolu
portibi on, Songon na ginombarhon ni baju Tohonan Hapanditaon i
Beft na bontar na dua i na ampe
di atas parateatean di ginjang ni pahean na holom na manggombarhon hatiuron
dohot hasintongan (2 Musa 28:30; ima URIM dohot TUMIM, na gabe uhum
sipaboanboanon ni Partohonan Pandita di tongatonga ni bangso ni Debata dohot di
na humalianga).
Naeng ma tarida parbue ni pangulahonon di tohonan di ngolu ni angka
Partohonan Pandita, na marsaor dohot
ruas marhite Hata ni Debata, patuduhon parsaoran holong di bagasan Kristus i.
Marhite i gabe dihilala ruas i ma na mangolu do tondina siala angka na sinuru
ni Debata na gabe surat na mangolu (II Kor. 3:2-6)
Kepala Departemen Marturia HKBP
Pdt.M.H. Sihite, STh, Seminarium
Sipoholon - Tarutung
Saudara/i yang dikasihi Kristus, jemaat Tuhan yang
telah dipanggil dan dipilih Tuhan untuk diselamatkan. Sudah hampir 150 tahun
HKBP berdiri dan berkarya ditengah-tengah bangsa ini khususnya ditengah-tengah
Bangsa Batak. Buah penginjilan dari hamba-hamba Tuhan, para evangelis dan
penginjil Eropa telah bisa dirasakan oleh bangsa kita dimana Injil yang mereka
beritakan telah membuat perubahan besar di dalam kehidupan orang Batak sehingga
pengaruh dari perubahan itu juga bisa dirasakan bangsa ini. Orang Batak
mengenal terang Kristus, dan terang ini membuat mata kita terbuka lebar bahwa
dunia ini tidaklah hanya sebatas Pulau Samosir saja atau sebatas Tapanuli saja
namun jauh lebih dari itu, orang Batak
kemudian menyadari bahwa ternyata dunia ini begitu luas. Nuansa kehidupan yang
baru yang diungkapkan Injil pada saat itu, membuat orang Batak menemukan suatu keberanian dan kerinduan yang
baru untuk bisa menaklukan temapt-tempat itu sambil membagikan Injil
keselamatan Tuhan. Dengan semangat dan roh yang menyala-nyala, orang Batak
mulai berani meninggalkan kampung halamannya, merantau ke Sumatra Timur sampai
ke daerah Deli di Medan dan ke daerah-daerah yang lebih luas terus ke Timur dan
bahkan sampai ke Jakarta. Perjalanan ini juga selalu disertai dengan
pemberitaan Firman Tuhan.
Namun
belakangan ini, semangat dan roh penginjilan itu sudah semakin redup dan
melemah. Banyak orang-orang Kristen tidak lagi peduli kepada “keselamatan
sesamanya”. Tidak jauh beda dengan warga negara lainnya, banyak orang-orang
Kristen pada jaman ini hanya peduli kepada kehidupannya masing-masing. Hanya
peduli kepada kesejahteraan dan kebahagiannya sendiri. Bahkan demi
kebahagiaannya itu, banyak diantara kita yang rela mengorbankan orang lain.
Kalau ini kita perbandingkan dengan panggilan kita sebagai orang-orang Kristen
yang mengaku sebagai pengikut Kristus. tentunya sikap dan perbuatan ini sudah
sangat bertentangan dengan keinginan Tuhan. Kristus memanggil kita untuk
membawa Kerajaan Surga atas dunia ini membawa kedamaian dan keselamatan bagi
dunia ini sebagai konsekuensi keselamatan yang kita terima. 150 tahun sudah
orang Batak menjadi orang Kristen, suatu usia yang seharusnya sudah cukup
matang. Matang
di dalam organisasi demikian juga matang di dalam menghadapi persoalan dan
permasalahan. Usia yang matang ini menantang kita untuk mengkaji diri, 1). Apakah
yang sudah kita perbuat (sebagai warga jemaat maupun sebagai organisasi gereja)
untuk “tongkat estafet penginjilan” yang kita terima? Apakah cukup kita hanya
menerimanya lalu menyimpannya atau apakah kita yang sudah menerimanya juga mau
membagi dan menyalurkannya kepada orang lain? 2). Siapakah yang bertanggungjawab untuk “tongkat estafet penginjilan”
ini?
Isi (Tujuan, keuntungan, dan Cara Melaksanakan)
Saudara/i sekalian,
panggilan untuk memberitakan Injil Keselamatan Tuhan (panggilan Marturia)
adalah panggilan untuk kita semua. Panggilan ini tidak terbatas hanya pada para
hamba Tuhan (pendeta, pastor, evangelis, guru, bibelvrow, syamas, diaken atau
diakones dan lain sebagainya), tapi juga bagi seluruh jemaat kudus Tuhan. I
Petrus 2:9 “Tetapi kamulah bangsa yang
terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri,
supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah
memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib”, dengan nas
ini kita dipanggil untuk menyatakan perbuatan Tuhan yang memberikan keselamatan
bagi dunia ini. Baik bagi yang belum percaya kepada Tuhan karena belum mengenal
Kristus ataupun yang sudah mengenal Kristus namun masih belum mengambil
keputusan untuk mengikut Kristus (Zending
ke luar) maupun kepada orang-orang yang sudah percaya kepada Tuhan tapi
yang di dalam perjalanan waktu hidupnya mengalami kemunduran spiritual (Zending ke dalam).
Zending ke luar dapat kita lakukan
dengan berbagai cara, demikian juga dengan Zending ke dalam , yang menekankan
peyegaran dan peneguhan iman kepada jemaat.
Dengan keberadaan kita yang hidup
ditengah-tengah masyarakat yang pluralis dan majemuk, berbeda agama dan aliran
kepercayaan, sesungguhnya untuk bisa berzending keluar tidaklah sesulit yang
kita bayangkan. Kita tidak harus meninggalkan pekerjaan kita, keluarga kita
ataupun kehidupan kita sehari-hari dengan pergi ke pelosok-pelosok atau ke
pulau-pulau terpencil sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.
Kita bisa melakukannya didalam kehidupan kita sehari-hari yaitu melalui cara
kita bekerja, cara kita bertutur kata dan cara kita bersikap kepada sesama kita
yang berbeda agama, cara kita bersosialisasi dan bertetangga dan lain
sebagainya, karena mereka sesungguhnya selalu ada disekitar kita. Ketika kita
makan, minum atau bercakap-cakap dengan mereka sewaktu break bekerja atau
duduk-duduk santai di kedai atau di kantin sesungguhnya kita bisa bercerita
tentang Tuhan Yesus. Ketika kita bekerja dengan benar dan jujur, berlaku adil dan penuh kasih, sesungguhnya kita
pun sedang memberitakan Tuhan Yesus
kepada mereka. Kita bisa melakukannya ketika di kantor, di perumahan (lingkungan
tempat tinggal kita), di organisasi-organisasi umum yang kita tekuni bahkan di
jalanan yang kita lalui setiap hari. Dalam keberadaan kita sehari-hari itu,
kita bisa menunjukkan iman kita dengan buah-buah yang baik dan manis sehingga
dengan sendirinya bisa dilihat dan dinikmati orang-orang disekitar kita.
Jemaat sesungguhnya mempunyai peluang dan
kesempatan yang lebih besar dari pada hamba-hamba Tuhan lainnya untuk
mengadakan penginjilan atau pelayanan keluar karena jemaat selalu bersentuhan
atau berhadapan dengan rekan-rekan kerjanya yang berbeda agama. Sementara
hamba-hamba Tuhan sering terfokus hanya kepada pelayanan jemaat.
Demikian juga dalam
kaitannya dengan pelayanan/penginjilan kedalam. Jemaat sesungguhnya mempunyai
kesempatan dan peluang yang jauh lebih besar dan lebih efektif untuk mengadakan
pelayanan atau penginjilan antar jemaat bila dibandingkan dengan para hamba
Tuhan. Karena jemaat biasanya hidupnya jauh lebih dekat dengan sesama jemaat
lainnya. Mereka lebih sering bertemu dan bersosialisasi dengan sesama, karena
mereka tinggal dalam satu kawasan, dalam satu wiyk dan dalam satu kumpulan
marga atau STM. Oleh karena itu jemaat mempunyai peluang yang lebih besar untuk
bisa dikaryakan di dalam proses penginjilan ke dalam (marturia di tengah-tengah
huria). Jemaat juga mempunyai karunia-karunia yang berbeda sesuai dengan
anugerah Roh Tuhan sehingga dengan karunia yang berbeda-beda ini jemaat juga
punya potensi pengijilan yang luar biasa. Dalam hal ini Hamba Tuhan hanya perlu
memanage dan menghidupkan potensi ini.
Tahun 2008, ditetapkan
sebagai tahun Marturia, tahun dimana semangat dan roh penginjilan seluruh warga
gereja dibangkitkan kembali, dengan satu harapan bahwa semua warga atau semua
jemaat bisa ikut bersama memberikan perannya masing-masing sesuai dengan
karunia-karunia yang diterimanya dari Tuhan untuk bisa saling menginjili.
Roma 12:6 Demikianlah kita
mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan
kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya
sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani,
baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk
menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu,
hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan,
hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan,
hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
Ditengah-tengah huria, setiap warga jemaat bisa
menjadi pelayan penginjilan buat keluarganya masing-masing, demikian juga buat
tetangganya sesama jemaat dalam satu huria dalam lingkungan wiyknya, namun juga
bisa menjadi pelayan penginjilan buat sesamanya orang-orang Kristen yang lemah
yang belum mempunyai status jemaat yang jelas.
Masing-masing jemaat baiklah mulai menjadi penginjil buat saudaranya,
orangtuanya, buat suaminya atau istrinya demikian juga buat anak-anaknya,
sehingga tidak seorangpun dari anggota keluarga itu yang tidak
terselamatkan.
Masing-masing jemaat juga bisa menjadi pelayan atau penginjil buat
sesama jemaat satu gerejanya yang mulai jauh dari Tuhan. Mengunjungi dan
mengajak mereka kembali datang kepada Tuhan, datang bersekutu ke Gereja
beribadah kembali bersama jemaat lainnya.
Selain itu jemaat- jemaat yang tinggal di komplek-komplek perumahan,
bisa menjadi pelayan penginjilan juga buat sesamanya orang-orang Kristen, yang
masih belum bisa menentukan pilihannya harus beribadah dimana. Disinilah peran kita sebagai warga jemaat sangat
dibutuhkan.
Inilah
arti dari lingkaran pelayanan penginjilan yang disampaikan oleh Yesus bahwa
Penginjilan atau missi itu sendiri haruslah berangkat dari titik central yaitu diri kita sendiri lalu akan membentuk
lingkaran kecil disekitar kita yaitu
keluarga kita dan orang-orang yang dekat dengan kita. Lingkaran itu kemudian bertambah
besar yaitu tetangga-tetangga kita serta orang-orang disekitar kita. Selanjutnya
kemudian akan membentuk lingkaran yang jauh lebih besar yaitu orang-orang yang
lainnya dalam jaringan yang lebih luas.
(bandingkan: Kisah Para Rasul 1 : 8b : “Kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke
ujung bumi.").
Kesimpulan
Jadi saudara/i sekalian, panggilan pelayanan missi (bermarturia) adalah
panggilan universal bagi seluruh orang-orang percaya yang harus dimaknai dengan
pemberitaan damai sejahtera Tuhan sebagai wujud nyata kehadiran Kerajaan Tuhan
di dunia ini. Dan ini adalah tugas seluruh warga jemaat. Petrus mengatakan: “Karena
itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan
pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah
tersandung”. (2 Petrus 1 : 10). Jangan
tunggu hari esok jika kita mempunyai kesempatan untuk melakukannya hari ini,
karena kesempatan ini tidak akan pernah kembali. “Selagi hari siang marilah
kita bekerja keras karena malam akan tiba dimana kita tidak lagi bisa melakukan
apa-apa”
Jemaat-jemaat Tuhan yang kekasih di
dalam Tuhan kita Yesus Kristus, adalah penuh sukacita bisa kembali tambil untuk
menyapa saudara-saudara pendengar radio Blessing family yang diberkati Tuhan
dimana pun berada, khusunya saat in dimana kita baru saja bersukacita mengenang
kuasa dan anugerah Tuhan yang mencurahkan RohNya yang kudus kepada setiap
orang-orang percaya, di jaman itu bahkan hingga saat ini.
Saat ini, kita dari gereja HKBP
akan mengangkat sebuah topik tentang “jemaat mula-mula”. Saudara-saudara yang
dikasihi Kristus. berbicara tentang jemaat kristen mula-mula adalah berbicara
tentang sebuah persekutuan yang dirindukan dan dimimpikan bisa hadir kembali di
jaman ini. Sebuah persekutuan yang meskipun masih sangat kecil dan muda akan
tetapi sudah menunjukkan sebah persekutuan yang sangat indah. Sebuah
persekutuan yang disenangi bukan hanya oleh Tuhan saja akan tetapi juga oleh
masyarakat sekitarnya. Tantangan dan ancaman tidak menjadi penghalang buat
mereka untuk bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat dan juga bagi
lingkungannya. Dengan kualitas hidupnya mereka merubah ancaman dan tantangan-tantangan itu menjadi peluang
dan kesempatan untuk bersaksi.
Mengapa Jemaat
mula-mula itu berkembang dengan cepat dan disenangi oleh masyarakat
disekitarnya, apakah yang menjadi kunci dan kekuatan mereka :
1. Mereka adalah jemaat-jemaat yang
terlahir dan bertumbuh dari sebuah pertobatan,
Firman
Tuhan di dalam Kisah 2 : 41 dikatakan : ...” Orang-orang yang menerima
perkataannya itu memberi diri dibaptis ....”. kata “..menerima perkataan...” artinya memberikan respon atau berita
yang doisampaikan oleh Petrus yaitu : ”bertobatlah
dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis.....”
Jadi
jemaat mula-mula itu sungguh-sungguh bertobat. Pertobatan yang sungguh sungguh
inilah yang membuat jemaat itu disenangi oleh orang sekitarnya karena
pertobatan mereka itu nyata di dalam perilaku mereka dan tentunya juga
dirasakan oleh oleh orang-orang disekitarnya.
Bertobat berarti berbalik dari tidak percaya kepada Tuhan
menjadi percaya kepada Tuhan. Bertobat berarti berbalik dari melakukan
perbuatn-perbuatan dosa dan sekarang melakukan perbuatan yang benar dan berkenan di hati Tuhan. Bertobat adalah
berpaling dari perbuatan yang sia-sia, dan sekarang berpaling kepada rencana Tuhan yang indah. Bertobat berarti pindah dari kerajaan maut
ke dalam kerajaan Yesu Kristus.
Keanggotaan mereka sebagai jemaat atau sebagai bagian
dari sebuah persekutuan orang-orang kudus itu
adalah karena buah dari sebuah pertobatan mereka, pilihan dan komitmen
pribadi akan sebuah berita kebenaran yang diperdengarkan Tuhan melalui
hamba-hambanNya. Mereka tidak menjadi anggota persekutuan kudus itu hanya
karena mencari sebuah status dan identitas diri. Mereka adalah jemaat-jemaat
yang terus bertumbuh menuju kepada kematangan. Jemaat-jemaat yang
bertanggungjawab di dalam persekutuannya.
Bukan melihat status kekristenannya sebagai sebuah kebetulan, akan tetapi
sebuah anugerah Tuhan yang harus direspon dengan sebuah keputusan dan komitmen
pribadi.
Bagaimana
dengan kekristenan kita di jaman ini, apakah kita sudah menjadi orag kristen
yang sungguh-sungguh bertobat atau kita menjadi orang Kristen karena sesuatu alasan yang lain?
Menjadi Kristen bukan sebuah identitas dan status akan
tetapi adalah komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan belajar
hidup untuk seperti Kristus. ..........
2. Mereka adalah jemaat yang
bertekun di dalam Firman Tuhan (berpegang teguh) di dalam pengajaran
rasul-rasul, (Kis. 2: 42)
Faktor ini sangat penting dan sangat menentukan sekali
karena jika jemaat Tuhan bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan , yaitu pengajaran
yang berasal dari Allahyang tertuang di dalam Alkitab maka persekutuan itu akan
kuat dan bertumbuh. Karena iman kepada Tuhan akan dihasilkan melalui
pendengaran yaitu pendegaran Firman Tuhan. Namun sebaliknya gereja akan mati
jika fondasinya bukan Firman Tuhan yang benar. Kalaupun bertumbuh maka
pertumbuhannya bukan ke arah Kristus.
Di jaman sekarang ini ada banyak orang yang lebih suka
mendengarkan cerita-cerita lucu yang menyenangkan telinga mereka daripada mendengarkan Firman
Tuhan yang benar, apalagi yang keras yang terkadang mengingatkan kesalahan dan
kecurangannya. Manusia tidak suka diingatkan dan dikritik dengan firman akan
tetapi lebih suka didukung dan dibenarkan di dalam segala perbuatannya. Jika
tidak demikian kemungkinan mereka akan berpaling kepada pengajaran yang lain.
Dalam Kisah 2 : 42
disebutkan bahwa mereka bertekun di dalam pengajaran rasul –rasul ini
berarti bahwa mereka percaya kepada pengajaran para rasul-rasul itu untuk
kebaikan mereka, mereka tidak hanya mau mendengarkan apa yang enak-enak
ditelinganya saja akan tetapi bertekun kepada pengajaran-pengajaran mereka.
Jemaat kriten mula-mula, bukanlah jemaat yang hanya mencari enaknya saja, akan tetapi berpegang teguh kepada pengajaran
para hamba-hamba Tuhannnya.
Di tengah-tengah dunia ioni ada banyak guru-guru palsu,
ada banyak penyesat-penyesat yang nampaknya lebih menyenangkan dan akan banyak
pengkhotbah-pengkhotbah yang mengajarkan berbagai hala yang mungkin berbeda
dengan mula-mula, akan tetapi jemaat mula-mula tetap setia kepada
pengajar-pengajarnya. Dan inilah yang membuat jemaat itu terus bertumbuh dan
berkambang. Bagaimana dengan kita ????
3. Mereka Rajin berkumpul
(saling mengunjungi ) dan berdoa
mengadakan persekutuan kasih secara bergilir
(Kis. 2 : 42b, 46)
Persekutuan adalah kerinduan mereka, mereka selalu rindu untuk bisa
berkumpul tiap hari di Bait Allah demikian juga bisa saling mengunjungi
rumah-rumah secara bergiliran untuka bersama-sam mengadakan perjamuan kasih
demikian juga untuk bisa makan bersama-sama dengan tulus hati. Mereka
melakukannya tidak dengan keterpaksaan, semuanya dilakukan penuh dengan
sukacita dan tulus hati. Kunjungan kasih dilakukan secara bergiliran tidak
hanya bagi orang-orangtertentu yang mampu saja akan semuanya merasakan bahwa
meraka adalah sebuah keluarga. Di dalam setiap persekutuanini mereka saling
menguatkan dan menopang di dalam berbegai pergumulan mereka khususnya di dalam
iman. Di dalam persekutuan kasih itu
mereka saling mendoakan.
Di
jaman sekarang mungkin ini sangat sulit kita lakukan untuk mengadakan kunjungan
dan pertemuan setiap hari di gereja atau atau di rumah-rumah. Waktu mungkin harus kita aturkan sedemikian
sehingga tradisi ini harus kita pelihara, saling mengunjungi secara bergiliran
(tanpa harus membuat perbedaan diantara jemaat – jemaat kaya atau miskin,
dsb) untuk saling mendoakan, saling
menguatkan dan menopang adalah sebuah kekuatan yang sangat dibutuhkan.
Persekutuan kasih bersama-sama mendengarkan firman Tuhan dan makan bersama akan
selalu menguatkan ikatan kekeluargaan ditengah-tengah jemaat.
3. Mereka sehati sepikir, saling membantu
dan menopang, (Kis. 2 : 44 – 45; 4 : 32 -
34 )
Dengan sikap ini, tidak ada lagi jemaat itu yang merasa berkekuraangan, dan
tinggal di dalam kelaparan. Jemaat mula- mula saling menopang. Jemaat-jemaat
yang kaya membantu jemaat-jemaat yang miskin bahkan banyak diantara mereka yang
rela denga tulus hatinya menjual sebagaian atau seluruh hartanya untuk dipakai
di dalam kebutuhan pelayanan persekutuan itu.
Mereka merasa bahwa apa yang ada pada mereka itu adalah milik Tuhan dan
persektuannya sehingga dianggap milik bersama. Di dalam segala hal mereka
sehati sepikir, tidak ada seorang pun yang berlomba untuk memberikan yang
terkecil, akan tetapi semua berusah memberikanyang terbaik, bahkan apa yang ada
padanya diberikan untuk keperluan bersama. Sehingga dengan prinsip ini yang yang
kaya tidak berkelimpahan dan yang miskin tidak berkekurangan” karena mereka semuanya dicukupkan bahkan
berkelimpahan di dalam kasih dan persaudaraan.
Di
jaman sekarang in adalah tantanga bagi gereja, mampukah jemaat saling menopang
dan membantu, atau kembali seperti yang telah disampaikan diatas semuanya hanya
memikirkan dirinya sendiri. Tidak peduli kepada penderitaan orang lain? Hartaku adalah milikku, hasil kerja kerasku
dan akulah yang menikmatinya. Atau yang terparah adalah ketika jemaat berlomba
untuk memberikan yang terkecil?........
5. Hamba-hamba Tuhannya setia
kepada Tuhan, mereka hidup berpusat
kepada Yesus
faktor lain yang membuat jemaat
mula-mula bertumbuh dan berkembang dengan baik adalah karena jemaat Hamba-hamba
Tuhannya tetap fokus dan setia kepada Tuhan. (kisah 3 : 6). Mereka melakukan tugas
panggilannya bukan demi emas dan perak, bukan demi sebuah status kemapanan diri
sendiri atau bukan demi kemuliaannya sendiri. Memang ada banyak peluang untuk
menjadi terkenal dan terhormat bahkan lebih dari itu ada banyak peluang untuk
mencari kemapanan diri. Akan tetapi hamba-hamba Tuhan itu menepiskan
motivasi-motivasi itu dari pikiran mereka. Mereka tetap setia kepada Kristus
sang pemberi mandat, dan melakukan segala pekerjaan mereka di dalam nama
Kristus.
Di
jaman sekarang, ini adalah tantangan juga bagi hamba-hamba Tuhan, ada banyak
godaan kemuliaan dan kehormatan yang selalu melekat sebagai hamba Tuhan.
Perlakuan masyarakat kepada Hamba Tuhan sering sekali membuat hamba Tuhan itu
jatuh kepada pribadi yang dilayani bukan melayani. Lebih dari itu kalau ini
terjadi ini berarti kemuliaan tidak dikembalikankepada Kristus melainkan dirinya
sendiri. Godaan kemapanan juga sering menjadi dera bagi banyak pelayan. Demi
kenikmatan hidup ada banyak hamba-hamba Tuhan yang lebih tunduk kepada kuasa
dan perintah orang-orang tertentu daripada kepada kuasa Kristus. Dengan emas
dan perak , demi harta dan kemapanan ini mereka menghianati panggilannya. Mereka
menjadi pelayan-pelayan sekelompok orang.
Rasul-rasul
demikian juga jemaat, tidak sedikitpun takut kepada sekelompok orang, meskipun
harta dan ketenanangan hidup ditawarkan mereka tetap setia kepada panggilannya.
Meskipun penjara dan siksaan bahkan maut di depan mereka, mereka tetap
tersenyum dan semangat memberitakan Firman Tuhan. Inilah teladan yang membuat
semkain banyak yang suka melihat persekutuan jemaat mula-mula.
6. Jemaat itu juga memahami bahwa tugas pangilan pelayanan
adalah tugas panggilan bersama, jadi bukan hanya
tugas para rasul-rasul saja, bukan hanya tugas hamba-hamba Tuhan saja melainkan
tugas bersama seluruh jemaat.
Hal ini bisa kita lihat sangat jelas ketika jemaat semakin banyak dan
pelayanan juga semakin banyak. Rasul-rasul tidak lagi sanggub membagi waktu
mereka sehingga tugas utama mereka untuk memberitakan Firman Tuhan
terbengkalai, hanya karena tugas-tugas sosial perawatan kaum-kaum miskin dan
berkekurangan termasuk yang mengalami sakit penyakit dan pergumulan lainnya
maka dengan inisiatif bersama jemaat itu mengadakan usulan pengangkatan
pelayan-pelayan baru dari tengah-tengah jemaat itu sendiri. Diangkatlah
diaken-diaken yang bisa membantu pelayanan sosial demikian juga jemaat-jemaat
lainnya berperan juga saling melayani. Sehingga rasul-rasul bisa kembali
konsentrasi kepada tugas panggilan utamanya yaitu memberitakan Firman Tuhan.
Dalam
hal ini ketika jemaat tidak hanya menuntut akan tetapi tampil dengan gemilang
untuk juga bisa memberikan waktu dan tenaganya untuk ikut bersama-sama di dalam
panggilan pelayanan ini tanpa pamrih. Mereka sangat memahami bahwa
panggilanpelayanan ini adalah panggilan am bagi seluruh orang
percaya.
Ini
sangat penting sekali untuk kita renungkan di dalam kehidupan jemaat masa kini
ada banyak sekali gereja-gereja Tuhan yang hamba-hambaNya tidak mempunyai waktu
yang cukup untuk memberitakan Firman Tuhan khususnya ke luar persekutuan
gereja. Hamba-hamba Tuhan itu disibukkan dengan berbagai urusan-urusan
administrasi gereja, sering disibukkan dengan pelayanan-pelayanan interen dan
rutinitas gerejanya, sementara jemaat hanya tinggal diam minta dilayani dan
tidak terpanggil untuk bisa terlibat ikut membantu di dalam panggilan
pelayanannya. Bahkan ada diantara jemaat-jemaat itu yang tidak merasa puas
kalau pelayanan itu dilakukan oleh sesamanya bukan oleh Hamba Tuhan
Ketikka kualiatas hidup yang sangat baik sudah mereka pertontonkan maka
kuantitas mereka pun Tuhan tambahkan, Inilaah yang kurang dari kita di jaman
ini? Dimana kita di jaman ini lebih cenderung
1. Asyik
sendiri dan berjalan sendiri-sendiri
2. Meletakkan
tugas pelayanan itu hanya kepada orang-orang yang ditentukan sementara kita
jemaat tidak mempunyai sedikitpun tanggungjawab untuk terpanggil di dalm
pelayanannya. Karena kita sudah merasa cukup dengan persembahan yang kita
berikan
Betapa besarnya nilai
uang kertas senilai Rp.100.000
apabila dibawa untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan atau untuk dugem!
Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam;
namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.
Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika
berdoa (spontan); namun
betapa mudahnya kalau
mengobrol
atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa sering kita lupa atau bahkan
malas untuk
berdoa/sembahyang: namun
kita akan dengan semangat membara kalo
mau ketemu
Pacar atau boss atau client kita
Betapa asyiknya apabila pertandingan olahraga
diperpanjang waktunya ekstra
namun kita mengeluh
ketika khotbah di tempat ibadah lebih lama sedikit
daripada biasa.
Betapa sulitnya untuk membaca satu ayat dari
Kitab Suci; namun
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel
yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam
pertandingan atau konser; namun
lebih senang duduk
di bangku paling belakang di tempat ibadah.
Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu
kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya
untuk suatu acara keagamaan;namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap
pada saat terakhir untuk event yang
menyenangkan seperti pesta, jalan2, nonton.
Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana
dari kitab suci untuk di sharingkan dengan orang
lain;namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi
gosip yang sama kepada orang lain itu.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang
dikatakan oleh Koran atau majalah; namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan
oleh Kitab Suci.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga
seandainya tidak
perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan
apa-apa, atau berbuat apa-apa.