Makna Hidup

Hidup tidak hanya untuk menerima pemberian dari yang telah Tuhan sediakan,

tapi kita hidup juga perlu untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan, mengembangkannya dan berbagai dengan sesama

Kamis, 22 April 2010

” PERSEKUTUAN JEMAAT MULA-MULA ”


Renungan Utk Mengisi Acara di Radio Blessing Family FM - Pekalongan
Senin, 01 Juni 2009
------------------------------------------------------------


” PERSEKUTUAN JEMAAT MULA-MULA ”
Pengantar
            Jemaat-jemaat Tuhan yang kekasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus, adalah penuh sukacita bisa kembali tambil untuk menyapa saudara-saudara pendengar radio Blessing family yang diberkati Tuhan dimana pun berada, khusunya saat in dimana kita baru saja bersukacita mengenang kuasa dan anugerah Tuhan yang mencurahkan RohNya yang kudus kepada setiap orang-orang percaya, di jaman itu bahkan hingga saat ini.
                Saat ini, kita dari gereja HKBP akan mengangkat sebuah topik tentang “jemaat mula-mula”. Saudara-saudara yang dikasihi Kristus. berbicara tentang jemaat kristen mula-mula adalah berbicara tentang sebuah persekutuan yang dirindukan dan dimimpikan bisa hadir kembali di jaman ini. Sebuah persekutuan yang meskipun masih sangat kecil dan muda akan tetapi sudah menunjukkan sebah persekutuan yang sangat indah. Sebuah persekutuan yang disenangi bukan hanya oleh Tuhan saja akan tetapi juga oleh masyarakat sekitarnya. Tantangan dan ancaman tidak menjadi penghalang buat mereka untuk bisa berbuat sesuatu yang berarti bagi masyarakat dan juga bagi lingkungannya. Dengan kualitas hidupnya mereka merubah ancaman  dan tantangan-tantangan itu menjadi peluang dan kesempatan untuk bersaksi.
Mengapa Jemaat mula-mula itu berkembang dengan cepat dan disenangi oleh masyarakat disekitarnya, apakah yang menjadi kunci dan kekuatan mereka :

1.     Mereka adalah jemaat-jemaat yang terlahir dan bertumbuh dari sebuah pertobatan,
        Firman Tuhan di dalam Kisah 2 : 41 dikatakan : ...” Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis ....”. kata “..menerima perkataan...” artinya memberikan respon atau berita yang doisampaikan oleh Petrus yaitu : ”bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis.....”
        Jadi jemaat mula-mula itu sungguh-sungguh bertobat. Pertobatan yang sungguh sungguh inilah yang membuat jemaat itu disenangi oleh orang sekitarnya karena pertobatan mereka itu nyata di dalam perilaku mereka dan tentunya juga dirasakan oleh oleh orang-orang disekitarnya.
Bertobat berarti berbalik dari tidak percaya kepada Tuhan  menjadi percaya kepada Tuhan. Bertobat berarti berbalik dari melakukan perbuatn-perbuatan dosa dan sekarang melakukan perbuatan yang benar  dan berkenan di hati Tuhan. Bertobat adalah berpaling dari perbuatan yang sia-sia, dan sekarang  berpaling kepada rencana Tuhan yang indah. Bertobat berarti pindah dari kerajaan maut  ke dalam kerajaan Yesu Kristus.
Keanggotaan mereka sebagai jemaat atau sebagai bagian dari sebuah persekutuan orang-orang kudus itu  adalah karena buah dari sebuah pertobatan mereka, pilihan dan komitmen pribadi akan sebuah berita kebenaran yang diperdengarkan Tuhan melalui hamba-hambanNya. Mereka tidak menjadi anggota persekutuan kudus itu hanya karena mencari sebuah status dan identitas diri. Mereka adalah jemaat-jemaat yang terus bertumbuh menuju kepada kematangan. Jemaat-jemaat yang bertanggungjawab di dalam persekutuannya.



        Bukan melihat status kekristenannya sebagai sebuah kebetulan, akan tetapi sebuah anugerah Tuhan yang harus direspon dengan sebuah keputusan dan komitmen pribadi.
Bagaimana dengan kekristenan kita di jaman ini, apakah kita sudah menjadi orag kristen yang sungguh-sungguh bertobat atau kita menjadi orang Kristen  karena sesuatu alasan yang lain?
Menjadi Kristen bukan sebuah identitas dan status akan tetapi adalah komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan belajar hidup untuk seperti Kristus. ..........

2.    Mereka adalah jemaat yang bertekun di dalam Firman Tuhan (berpegang teguh) di dalam pengajaran rasul-rasul,  (Kis. 2: 42)
Faktor ini sangat penting dan sangat menentukan sekali karena jika jemaat Tuhan bertekun dalam pengajaran Firman Tuhan , yaitu pengajaran yang berasal dari Allahyang tertuang di dalam Alkitab maka persekutuan itu akan kuat dan bertumbuh. Karena iman kepada Tuhan akan dihasilkan melalui pendengaran yaitu pendegaran Firman Tuhan. Namun sebaliknya gereja akan mati jika fondasinya bukan Firman Tuhan yang benar. Kalaupun bertumbuh maka pertumbuhannya bukan ke arah Kristus.
Di jaman sekarang ini ada banyak orang yang lebih suka mendengarkan cerita-cerita lucu yang menyenangkan  telinga mereka daripada mendengarkan Firman Tuhan yang benar, apalagi yang keras yang terkadang mengingatkan kesalahan dan kecurangannya. Manusia tidak suka diingatkan dan dikritik dengan firman akan tetapi lebih suka didukung dan dibenarkan di dalam segala perbuatannya. Jika tidak demikian kemungkinan mereka akan berpaling kepada pengajaran yang lain.
Dalam Kisah 2 : 42  disebutkan bahwa mereka bertekun di dalam pengajaran rasul –rasul ini berarti bahwa mereka percaya kepada pengajaran para rasul-rasul itu untuk kebaikan mereka, mereka tidak hanya mau mendengarkan apa yang enak-enak ditelinganya saja akan tetapi bertekun kepada pengajaran-pengajaran mereka. Jemaat kriten mula-mula, bukanlah jemaat yang hanya mencari enaknya saja,  akan tetapi berpegang teguh kepada pengajaran para hamba-hamba Tuhannnya.
Di tengah-tengah dunia ioni ada banyak guru-guru palsu, ada banyak penyesat-penyesat yang nampaknya lebih menyenangkan dan akan banyak pengkhotbah-pengkhotbah yang mengajarkan berbagai hala yang mungkin berbeda dengan mula-mula, akan tetapi jemaat mula-mula tetap setia kepada pengajar-pengajarnya. Dan inilah yang membuat jemaat itu terus bertumbuh dan berkambang. Bagaimana dengan kita ????
       
3.    Mereka Rajin berkumpul (saling  mengunjungi ) dan berdoa mengadakan persekutuan kasih secara bergilir    (Kis. 2 : 42b, 46)
        Persekutuan adalah kerinduan mereka, mereka selalu rindu untuk bisa berkumpul tiap hari di Bait Allah demikian juga bisa saling mengunjungi rumah-rumah secara bergiliran untuka bersama-sam mengadakan perjamuan kasih demikian juga untuk bisa makan bersama-sama dengan tulus hati. Mereka melakukannya tidak dengan keterpaksaan, semuanya dilakukan penuh dengan sukacita dan tulus hati. Kunjungan kasih dilakukan secara bergiliran tidak hanya bagi orang-orangtertentu yang mampu saja akan semuanya merasakan bahwa meraka adalah sebuah keluarga. Di dalam setiap persekutuanini mereka saling menguatkan dan menopang di dalam berbegai pergumulan mereka khususnya di dalam iman.  Di dalam persekutuan kasih itu mereka saling mendoakan.
        Di jaman sekarang mungkin ini sangat sulit kita lakukan untuk mengadakan kunjungan dan pertemuan setiap hari di gereja atau atau di rumah-rumah.  Waktu mungkin harus kita aturkan sedemikian sehingga tradisi ini harus kita pelihara, saling mengunjungi secara bergiliran (tanpa harus membuat perbedaan diantara jemaat – jemaat kaya atau miskin, dsb)  untuk saling mendoakan, saling menguatkan dan menopang adalah sebuah kekuatan yang sangat dibutuhkan. Persekutuan kasih bersama-sama mendengarkan firman Tuhan dan makan bersama akan selalu menguatkan ikatan kekeluargaan ditengah-tengah jemaat.           

3.    Mereka sehati sepikir,  saling  membantu dan menopang, (Kis. 2 : 44 – 45; 4 : 32 -  34 )
        Dengan sikap ini, tidak ada lagi jemaat itu yang merasa berkekuraangan, dan tinggal di dalam kelaparan. Jemaat mula- mula saling menopang. Jemaat-jemaat yang kaya membantu jemaat-jemaat yang miskin bahkan banyak diantara mereka yang rela denga tulus hatinya menjual sebagaian atau seluruh hartanya untuk dipakai di dalam kebutuhan pelayanan persekutuan itu.  Mereka merasa bahwa apa yang ada pada mereka itu adalah milik Tuhan dan persektuannya sehingga dianggap milik bersama. Di dalam segala hal mereka sehati sepikir, tidak ada seorang pun yang berlomba untuk memberikan yang terkecil, akan tetapi semua berusah memberikanyang terbaik, bahkan apa yang ada padanya diberikan untuk keperluan bersama. Sehingga dengan prinsip ini yang  yang kaya tidak berkelimpahan dan yang miskin tidak berkekurangan”  karena mereka semuanya dicukupkan bahkan berkelimpahan di dalam kasih dan persaudaraan.


        Di jaman sekarang in adalah tantanga bagi gereja, mampukah jemaat saling menopang dan membantu, atau kembali seperti yang telah disampaikan diatas semuanya hanya memikirkan dirinya sendiri. Tidak peduli kepada penderitaan orang lain?  Hartaku adalah milikku, hasil kerja kerasku dan akulah yang menikmatinya. Atau yang terparah adalah ketika jemaat berlomba untuk memberikan yang terkecil?........

5.    Hamba-hamba Tuhannya setia kepada Tuhan, mereka hidup  berpusat kepada Yesus
        faktor lain yang  membuat jemaat mula-mula bertumbuh dan berkembang dengan baik adalah karena jemaat Hamba-hamba Tuhannya tetap fokus dan setia kepada Tuhan.  (kisah 3 : 6). Mereka melakukan tugas panggilannya bukan demi emas dan perak, bukan demi sebuah status kemapanan diri sendiri atau bukan demi kemuliaannya sendiri. Memang ada banyak peluang untuk menjadi terkenal dan terhormat bahkan lebih dari itu ada banyak peluang untuk mencari kemapanan diri. Akan tetapi hamba-hamba Tuhan itu menepiskan motivasi-motivasi itu dari pikiran mereka. Mereka tetap setia kepada Kristus sang pemberi mandat, dan melakukan segala pekerjaan mereka di dalam nama Kristus.
        Di jaman sekarang, ini adalah tantangan juga bagi hamba-hamba Tuhan, ada banyak godaan kemuliaan dan kehormatan yang selalu melekat sebagai hamba Tuhan. Perlakuan masyarakat kepada Hamba Tuhan sering sekali membuat hamba Tuhan itu jatuh kepada pribadi yang dilayani bukan melayani. Lebih dari itu kalau ini terjadi ini berarti kemuliaan tidak dikembalikankepada Kristus melainkan dirinya sendiri. Godaan kemapanan juga sering menjadi dera bagi banyak pelayan. Demi kenikmatan hidup ada banyak hamba-hamba Tuhan yang lebih tunduk kepada kuasa dan perintah orang-orang tertentu daripada kepada kuasa Kristus. Dengan emas dan perak , demi harta dan kemapanan ini mereka menghianati panggilannya. Mereka menjadi pelayan-pelayan sekelompok orang.
        Rasul-rasul demikian juga jemaat, tidak sedikitpun takut kepada sekelompok orang, meskipun harta dan ketenanangan hidup ditawarkan mereka tetap setia kepada panggilannya. Meskipun penjara dan siksaan bahkan maut di depan mereka, mereka tetap tersenyum dan semangat memberitakan Firman Tuhan. Inilah teladan yang membuat semkain banyak yang suka melihat persekutuan jemaat mula-mula.             

6.    Jemaat itu juga  memahami bahwa tugas pangilan pelayanan adalah tugas panggilan bersama, jadi bukan hanya tugas para rasul-rasul saja, bukan hanya tugas hamba-hamba Tuhan saja melainkan tugas bersama seluruh jemaat.
        Hal ini bisa kita lihat sangat jelas ketika jemaat semakin banyak dan pelayanan juga semakin banyak. Rasul-rasul tidak lagi sanggub membagi waktu mereka sehingga tugas utama mereka untuk memberitakan Firman Tuhan terbengkalai, hanya karena tugas-tugas sosial perawatan kaum-kaum miskin dan berkekurangan termasuk yang mengalami sakit penyakit dan pergumulan lainnya maka dengan inisiatif bersama jemaat itu mengadakan usulan pengangkatan pelayan-pelayan baru dari tengah-tengah jemaat itu sendiri. Diangkatlah diaken-diaken yang bisa membantu pelayanan sosial demikian juga jemaat-jemaat lainnya berperan juga saling melayani. Sehingga rasul-rasul bisa kembali konsentrasi kepada tugas panggilan utamanya yaitu memberitakan Firman Tuhan.
        Dalam hal ini ketika jemaat tidak hanya menuntut akan tetapi tampil dengan gemilang untuk juga bisa memberikan waktu dan tenaganya untuk ikut bersama-sama di dalam panggilan pelayanan ini tanpa pamrih. Mereka sangat memahami bahwa panggilanpelayanan ini adalah panggilan am bagi seluruh orang percaya.
        Ini sangat penting sekali untuk kita renungkan di dalam kehidupan jemaat masa kini ada banyak sekali gereja-gereja Tuhan yang hamba-hambaNya tidak mempunyai waktu yang cukup untuk memberitakan Firman Tuhan khususnya ke luar persekutuan gereja. Hamba-hamba Tuhan itu disibukkan dengan berbagai urusan-urusan administrasi gereja, sering disibukkan dengan pelayanan-pelayanan interen dan rutinitas gerejanya, sementara jemaat hanya tinggal diam minta dilayani dan tidak terpanggil untuk bisa terlibat ikut membantu di dalam panggilan pelayanannya. Bahkan ada diantara jemaat-jemaat itu yang tidak merasa puas kalau pelayanan itu dilakukan oleh sesamanya bukan oleh Hamba Tuhan

Ketikka kualiatas hidup yang sangat baik sudah mereka pertontonkan maka kuantitas mereka pun Tuhan tambahkan, Inilaah yang kurang dari kita di jaman ini? Dimana kita di jaman ini lebih cenderung
1.    Asyik sendiri dan berjalan sendiri-sendiri
2.    Meletakkan tugas pelayanan itu hanya kepada orang-orang yang ditentukan sementara kita jemaat tidak mempunyai sedikitpun tanggungjawab untuk terpanggil di dalm pelayanannya. Karena kita sudah merasa cukup dengan persembahan yang kita berikan

Kamis, 25 Maret 2010

Sebuah Puisi Tentang Hidup


MUDAH & SULIT

Betapa besarnya nilai uang kertas senilai Rp.100.000
apabila dibawa untuk disumbangkan; tetapi
betapa kecilnya kalau dibawa ke Mall untuk dibelanjakan atau untuk dugem!

Betapa lamanya melayani Allah selama satu jam;
namun
betapa singkatnya kalau kita melihat film.

Betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika
berdoa (spontan); namun
betapa mudahnya kalau mengobrol
atau bergosip dengan teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.

Betapa sering kita lupa atau bahkan malas untuk
berdoa/sembahyang: namun
kita akan dengan semangat membara kalo
mau ketemu
Pacar atau boss atau client kita

Betapa asyiknya apabila pertandingan olahraga
diperpanjang waktunya ekstra
namun kita mengeluh
ketika khotbah di tempat ibadah lebih lama sedikit
daripada biasa.

Betapa sulitnya untuk membaca satu ayat dari
Kitab Suci; namun
betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.

Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam
pertandingan atau konser; namun
lebih senang duduk
di bangku paling belakang di tempat ibadah.

Betapa sulitnya untuk menyesuaikan jadwal waktu
kita, 2 atau 3 minggu sebelumnya
untuk suatu acara keagamaan;namun
betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap
pada saat terakhir untuk event yang
menyenangkan seperti pesta, jalan2, nonton.

Betapa sulitnya untuk mempelajari suatu bab sederhana
dari kitab suci untuk di sharingkan dengan orang
lain;namun
betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi
gosip yang sama kepada orang lain itu.

Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang
dikatakan oleh Koran atau majalah; namun
betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci.

Betapa setiap orang ingin masuk sorga
seandainya tidak
perlu untuk percaya atau berpikir, atau mengatakan
apa-apa, atau berbuat apa-apa.

Sebuah Refleksi : Hidup Sebagai Rentenir


Pelayanan Pendampingan Gereja Terhadap ParPasar
(Sebuah Refleksi Teologis & Visi Pelayanan)

Pendahuluan

“marpasar itu dosa!”,
“marpasar adalah suatu  pekerjaan yang dilarang Tuhan!”,
“parpasar itu adalah adalah pemeras dan  pembunuh berdarah dingin!”,
“parpasar itu dibenci oleh Tuhan!”

Demikianlah beberapa penggalan perkataan yang sering diucapkan dan ditujukan kepada orang-orang yang pekerjaannya marpasar.  Pekerjaan marpasar itu dianggab sebagai suatu pekerjaan yang hina yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang Kristen. Namun dalam kenyataannya banyak jemaat gereja Kristen yang hidup dari pekerjaan ini (khususnya jemaat –jemaat Kristen Batak di Diaspora  yaitu di berbagai tempat perantauannya, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan di pulau-pulau lainnya di Indonesia,  menjadikan pekerjaan “marpasar” itu menjadi pilihan mata pencaharian).

Bagi sebagian “parpasar” sebutan-sebutan atau perkataan-perkataan yang bersifat cemoohan itu dianggab sebagai angin lalu saja. Mereka tidak peduli dengan segala fitnahan-fitnahan, dan cemohan-cemohan itu, karena dalam kenyataannya mereka tidak mempunyai pilihan pekerjaan yang lain. Mereka tidak merasa terganggu dan ambil pusing dengan penilaian-penilaian itu, karena mereka berpikir itu sebagai suatu tanda kesirikan atau kecemburuan dari orang-orang yang mengucapkannya. Demikian juga karena  mereka berpikir bahwa itu hanyalah suatu tanda kesombongan dari orang-orang yang mengucapkannya, yang mengganggab diri mereka lebih benar dari orang lain.

Namun bagi sebagian orang, penilaian-penilaian ini sangat mengganggu dan tidak enak untuk didengar. Mereka merasa disudutkan dan dihakimi sebagai orang-orang yang salah mengambil jalan hidup demikian juga dihakimi sebagai orang-orang yang berdosa dan tidak benar karena memilih pekerjaan marpasar . Mereka bingung mencari pembenaran dan kebenaran pekerjaan mereka sementara cap buruk terus ditujukan kepada mereka. Orang-orang ini bergumul dengan pekerjaan yang sedang mereka tekuni karena disatu sisi mereka dengan segala kekurangan pemahamannya menerima saja kebenaran perkataan-perkataan itu, namun disisi lain mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mau meninggalkan pekerjaan itu dan mencari pekerjaan yang lain, namun mencari pekerjaan di jaman ini sangatlah sulit. Jangankan untuk mencari pekerjaan, yang sudah bekerja saja banyak yang diberhentikan dan kalaupun ada pekerjaan, pekerjaan itu sendiri belum tentu lebih baik dan lebih bersih atau lebih benar dari pekerjaan mereka yang sedang mereka tekuni sekarang. Perasaan yang tidak menentu ini akhirnya membuat banyak orang menjadi  lemah dan kurang bergairah bahkan ada yang sampai stress.

Dalam dua keadaan yang demikian ini peran gereja sangat dibutuhkan, bukan untuk menghakimi tapi memberikan jalan keluar atau solusi bagi persoalan ini! Bukan untuk membenarkan tindakan sekelompok orang disatu sisi ataupun kelompok yang lain disisi yang lain. Inilah yang penulis lihat menjadi salah satu tugas gereja yang belum selesai, meski masalah ini bukanlah masalah yang baru, namun sekurangnya perlu penyegaran dan pendekatan yang baru. Dan gereja sebagai patron kebenaran harus berada di depan membantu jemaat pelaku-pelaku pasar demikian juga jemaat-jemaat diluar pelaku-pelaku pasar yang terus memberikan penilaian.  Penulis melihat ini adalah sebuah tantangan namun juga sebuah panggilan masa kini dan masa depan dimana hamba-hamba Tuhan bisa memberikan terang baru pemahaman teologi terhadap aktivitas “marpasar” tersebut.

Pengertian “Marpasar”
           
Istilah “marpasar”  sebenarnya adalah suatu istilah dalam bahasa Batak yang berarti orang-orang yang bekerja di pasar. Dari dua kata yaitu kata “mar” dan “pasar”. “Mar” adalah suatu awalan yang menunjukkan suatu pekerjaan yaang aktif. Kata “mar” sendiri adalah perkembangan kata dari awalan “ma” yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama dengan awalan “me’. Pasar adalah adalah tempat terjadinya transaksi jual beli, tukar menukar dan tawar menawar. Jadi marpasar itu berarti menunjukkan pekerjaan dari orang-orang yang di pasar. Namun dalam perkembangannya, istilah marpasar ini mengalami penyempitan makna. Hal ini disebabkan kecenderungan orang-orang Batak di pasar-pasar umum maupun pasar-pasar tradisional di pulau jawa ini adalah mayoritas meminjamkan uang maka kata marpasar itu dimaknai secara sempit yaitu “berdagang uang” atau “meminjamkan uang” atau lebih tepat “membungakan uang”.
Arti kata marpasar menjadi sama dengan “Rentenir” (suatu istilah bahasa Inggris yang telah diadopsi menjadi bahasa Indonesia) yang berarti orang-orang yang mencari nafkahnya dengan membungakan uang1)

Jadi, orang-orang yang marpasar, yang meminjamkan uangnya dan membungakan itu adalah rentenir-rentenir baru di jaman ini yang tampilannya lebih santun dan cara meminjamkan uang yang mungkin lebih bersahabat, tanpa agunan. Yang bekerja atas dasar rasa saling mempercayai dan kesepakatan antara yang satu dengan yang lain. Suatu jenis pekerjaan yang sesungguhnya teknis kerjanya tidak begitu jauh berbeda dengan badan-badan hukum lainnya yang memberikan pelayanan simpan pinjam uang seperti Koperasi atau Badan Perkreditan Rakyat atau Bank. Perbedaannya terletak di statusnya dimana Parpasar (Para Rentenir) ini adalah wiraswasta yang tidak berbadan hukum, yang mengolah usahanya sendiri, dengan kebijakan dan peraturan sendiri. Sementara Koperasi, BPR dan Bank adalah suatu institusi berbadan hukum yang peraturan dan kebijakannya juga harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan pemerintah atau lembaga ekonomi lainnya.

Marpasar sebagai Pilihan Hidup

Di tengah sulitnya perekonomian bangsa dimana mencari pekerjaan semakin bertambah sulit sementara pengangguran juga semakin bertambah besar, Marpasar adalah alternatif pekerjaan yang sangat membantu mengurangi pengangguran. Marpasar menjadi lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mempunyai sejumlah modal (kecil atau besar) yang mau meminjamkan uangnya kepada orang lain demikian juga membuka peluang bagi para peminjam uang untuk membuka usaha (bagi yang mau berusaha) atau sekedar mengembangkan usahanya.
Mungkin pekerjaan marpasar sering diidentikan dengan pekerjaan yang kurang baik dan terkadang dibenci oleh segelintir orang namun nyatanya banyak hal positif juga yang telah disumbangkannya.  Dibandingkan koperasi atau BPR atau bank, marpasar mempunyai kelebihan dan kekurangan (kelemahan) antara lain:
Kelebihannya:
  1. Proses peminjamannya lebih mudah, cepat dan tidak perlu agunan (didasarkan rasa saling percaya). Bagi orang-orang yang tidak mau repot dengan segala proses yang berbelit-belit, sementara jumlah uang yang dipinjam pun tidak begitu besar, pilihan meminjam uang kepada parpasar adalah langkah cepat yang sangat baik. Demikian juga bagi orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu barang yang berharga yang bisa menjadi agunan sebagaimana yang selama ini dibutuhkan oleh Bank untuk bisa meminjam uang, maka meminjam uang kepada para parpasar juga adalah pilihan yang paling praktis. Mereka tidak perlu membuat agunan (surat-surat rumah, tanah atau apapun) tidak juga harus membuat surat perjanjian yang bermaterai. Saling mempercayai adalah modal yang paling utama.
  2. Peminjam-peminjam baru biasanya diperlakukan seperti seorang raja, dibujuk, dirayu dan diperlakukan dengan sangat baik. Selanjutnya terserah masing-masing.
  3. Jumlah besar dan kecilnya pinjaman tidak dibatasi, tergantung kepada kemampuan pemberi pinjaman demikian juga kemampuan (kebutuhan) peminjam.
  4. Peminjam tidak perlu repot mendatangi pemberi pinjaman untuk membayar cicilan pinjaman atau sekedar bunga pinjaman, karena biasanya pemberi pinjamanlah yang mendatangi para peminjam uang bahkan ke  kios-kios atau ke rumah-rumah mereka.

Kelemahannya:
  1. Bunganya terlalu besar. Dalam pengamatan langsung ke lapangan ataupun dari percakapan-percakapan langsung dengan pemerhati atau langsung kepada para peminjam uang. Yang menjadi keluhan utama dari sistim pinjaman uang ala Parpasar (rentenir) ini adalah bunga pinjaman yang terlalu besar. Untuk saat ini, intervalnya 10 s/d 30 %. Sementara kalau pinjaman itu dari koperasi atau BPR atau dari Bank, kisaran bunganya tidak lebih dari 10 atau 15 % bahkan ada yang hanya 3  sampai 4 %.
  2. Penagih biasanya mulai bertindak sewenang-wenang kepada nasabah ketika nasabah mulai sedikit telat untuk membayar cicilan.
  3. Karena tidak ada jaminan atau agunannya, banyak juga nasabah yang akhirnya menghilangkan diri atau lari, karena pinjamannya yang kemudian tidak sanggub dibayar.

Fenomena marpasar yang cukup menguntungkan ini kemudian menjadi daya tarik juga bagi banyak orang bukan lagi hanya bagi orang-orang Batak namun juga bagi orang-orang Sunda, dan orang Jawa. Pengamatan penulis sendiri dibeberapa pasar di keresidenan Pekalongan menemukan bahwa pelaku-pelaku “marpasar” itu juga sudah ditekuni oleh ibu-ibu dari penduduk setempat. Dengan pakaian yang berjilbab dan dengan logat Sunda atau Jawanya mereka menawarkan uangnya dan bersaing bunga lebih rendah dengan para rentenir-rentenir lainnya. Fenomena yang cukup menguntungkan ini juga membuat banyak koperasi mulai merubah metode mereka di dalam pendekatannya terhadap nasabah, Apa yang mereka lakukan tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh rentenir-rentenir swasta tadi. Mereka terjun langsung ke pasar-pasar  bahkan masuk ke kampung-kampung menawarkan jasa peminjaman uang  dengan bunga tertentu dari pintu ke pintu.

Dari sisi baik buruknya pekerjaan ini dianggab sebagai suatu pekerjaan yang “dilematis” dan ini memungkinkan kita membuat penilaian yang berbeda-beda, namun realita dan fakta telah menunjukkan fenomena meminjam dan meminjamkan uang  dengan bunga ini berkembang di negeri kita. Terjadi tidak hanya di tingkat pribadi lepas pribadi warganya, tapi juga dikalangan pengusaha bahkan penguasa. Karakter  hidup dan berjaya diatas utang  telah menjadi salah satu karakter bangsa kita baik dari rakyat kecil sampai ke tingkat kenegaraan. Banyak masyarkat bangsa ini yang sangat bangga dengan apa yang ada padanya meskipun itu adalah karena mengkredit atau meminjam uang. Bangsa kita ini juga bangga dengan segala pembangunannya meskipun utang bangsa ini untuk membangun sarana dan prasarana bangsa ini terus bertambah banyak

Marpasar (Rentenir) dipandang dari sisi Alkitabiah

Marpasar, sebagaimana yang diterangkan diatas adalah realita hidup yang terjadi ditengah-tengah masyarakat dimana gereja hadir juga diantaranya. Mau tidak mau gereja diharapkan mampu memberikan pemahaman yang benar tentang fenomena ini dan mampu memberikan pelayanan diantara mereka terlebih-lebih ditengah banyaknya  penilaian-penilaian yang miring terhadap pelaku-pelakunya.

Pekerjaan marpasar (berdagang uang atau meminjamkan uang dengan bunga) bukanlah sesuatu pekerjaan yang aneh bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa di sekitarnya  di jaman Perjanjian lama. Mengacu kepada beberapa sumber-sumber informasi yang alkitabih termasuk di dalamnya ayat-ayat kitab Perjanjian Lama, sedikit banyak kita bisa mengetahui bahwa orang-orang Israel juga banyak yang mempraktekan  pekerjaan meminjamkan uang. Diantara mereka ada bahkan banyak yang meminjamkan uangnya baik kepada bangsanya (sesama orang Israel) terlebih-lebih kepada bangsa-bangsa kafir di jaman itu. Demikian juga dengan bangsa-bangsa kafir di jaman itu (di dunia Timur Tengah Purba), pekerjaan marpasar adalah pekerjaan yang banyak ditekuni. Bahkan dengan tingkat bunga yang cukup tinggi, berkisar 30 – 50 %2). Sebaliknya di Israel pinjaman agaknya dilakukan atas dasar kerelaan untuk menolong sesama saudara –saudara yang malang.

Alkitab Perjanjian Lama, dengan sangat jelas tidak melarang bangsa Israel untuk meminjamkan dan membungakan uangnya kepada bangsa-bangsa kafir. Sebaliknya Alkitab mencatat dengan sangat tegas melarang  bangsa Israel untuk mengambil keuntungan dari meminjamkan dan membungakan uangnya kepada sesama saudaranya (bangsa Isarel) yang sedang ditimpa kemalangan atau kemiskinan.

Imamat 25 : 36 – 45 mencatat bagaimana Tuhan melarang bangsa Israel untuk mengambil bunga atau riba dari uang yang telah dipinjamkan kepada saudaranya seumat Allah yang susah dan mengalami kemalangan dan penderitaan. Tuhan telah menganugerahkan kepada bangsa itu tanah Kanaan menjadi tanah mereka dimana mereka bisa hidup bahagia dan berkelimpahan. Oleh karena itu apabila ada diantara sesama saudara mereka yang tidak bisa hidup karena segala kekurangan mereka maka sudah tanggung jawab merekalah untuk membantu dia supaya bisa bangkit kembali. Dan salah satu bantuan itu adalah dengan meminjamkan sejumlah uang tanpa harus memungut bunga atau ribanya. Mereka tidak boleh berlaku seperti penagih utang bagi sesamanya tersebut (Keluaran 22: 25).

Mazmur 15 : 5 juga mencatat bahwa bagi bangsa itu yang mau membantu sesamanya seumat Allah yang lagi susah dan menderita, dengan meminjamkan uangnya tanpa memungut riba atau bunganya maka ia tidak akan goyah selama-lamanya. Apa yang ada padanya tidak akan pernah berkurang malah Tuhan akan semakin memberkatinya sehingga ia bisa tetap kokoh di dalam kehidupannya juga ekonominya, Tuhan akan memelihara hidupnya (Yehezkiel 18 : 13). Namun sebaliknya bagi bangsa itu yang tetap memeras sesamanya dengan mengambil bunga dan riba dari uang yang dipinjamkannya kepada sesamanya itu berarti melupakan Tuhan yang telah memberkatinya. Oleh karena itu Tuhan sendirilah yang akan bertindak menghancurkan hidup dan ekonominya. Tuhan akan membuatnya malu diantara bangsa-bangsa karena ia dan  anak-anaknya akan dihamburkan di depan bangsa-bangsa (Yehezkiel 22 : 12-15). Keuntungan yang didapat dari sesama saudara seumat Allah itu bagi Tuhan adalah keuntungan yang haram.

Namun tidak demikian, jika mereka mengambil keuntungan itu dari bangsa-bangsa kafir. Perjanjian Lama tidak melarang bangsa itu untuk meminjamkan uangnya dan mengambil bunga atau riba atas uang yang dipinjamkannya kepada bangsa-bangsa kafir. Keuntungan yang didapat dari bunga uang  yang dipinjamkan kepada orang-orang kafir itu malah bisa menjadi berkat kalau bunga uang itu bisa dikumpulkan untuk menolong orang-orang lainnya yang membutuhkan belas kasihan. Kalau keuntungan itu bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bisa dipergunakan untuk menolong orang-orang yang sangat membutuhkan (bnd. Amsal 28 :8).

Di dalam Perjanjian Baru, kebiasaan untuk membungakan uang tidak begitu disorot dengan tajam dan mendalam. Yesus hanya menyinggung sedikit tentang kehidupan masyarakat di jaman itu yang juga masih menjadikan kebiasaan meminjamkan uang menjadi salah satu memperoleh keuntungan yang besar (Matius 25: 14 – 30). Dengan perumpamaan 3 orang hamba yang menerima talenta yang berbeda-beda dari tuannya yang akan pergi jauh dimana dua hamba itu kemudian mengembangkan talenta itu dengan menjalankan uangnya, itu berarti pada jaman itu, kebiasaan itu juga masih ada. Dan dalam hal ini, Yesus tidak menghakimi cara mereka mengembangkan uang itu sebagai suatu cara yang berdosa atau tidak.  Yang pasti dari nas ini adalah bahwa Yesus mengapresiasi usaha gigih dari hamba-hamba itu untuk mengembangkan sesuatu yang kecil yang dipercayakan kepadanya untuk bisa menjadi lebih besar.


Refleksi Teologis

Dengan penjelasan ringkas dari pandangan Alkitab tentang fenomena “marpasar” (meminjamkan uang dengan bunga tertentu) diatas kita bisa menyimpulkan bahwa  pekerjaan membungakan uang itu bukanlah suatu pekerjaan yang penuh dengan dosa. Pekerjaan ini juga bisa menjadi pertolongan dan berkat buat orang-orang yang  sangat membutuhkan meskipun kita juga tidak menutup mata kepada tindakan-tindakan yang arogan dari beberapa orang rentenir kepada nasabahnya ketika mereka menagih bunga atau pinjaman yang mereka pinjamkan. Oleh karena itu sebagaimana Yesus yang tidak gampangan untuk memvonis dan menghakimi para rentenir (pelaku-pelaku pembunga uang) di jaman itu demikianlah hendaknya diharapkan kehadiran gereja  dan orang-orang percaya untuk tidak mudah menghakimi sesamanya karena Tuhanlah yang akan menghakimi kita. Adalah jauh lebih bijaksana kalau kita, apakah kita para rentenir (parpasar) atau mungkin nasabah peminjam uang atau bahkan hamba Tuhan yang mempunyai kepedulian di dalam hal ini untuk bisa hadir sebagai sesama yang saling menolong. Para nasabah yang meminjam uang bisa bangkit dan tertolong dari keterpurukan, bisa memakai uang pinjamannya untuk modal usaha atau untuk pengembangan usahanya demikian juga para rentenir bisa semakin lebih baik karena ia juga bisa mendapatkan keuntungan dari menolong orang.

Demikian juga kita perlu mendahulukan menolong sesama umat Allah (sesama pengikut-pengikut Kristus) yang  sangat membutuhkan tanpa harus kita mencari keuntungan darinya. Tidaklah salah kalau kita memperlakukan sesama saudara Kristiani lebih khusus dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat secara umum. Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak mengambil bunga atau riba dari pinjaman uang yang dipinjam oleh sesama kita, karena Tuhanlah yang akan membalaskannya kepada kita. Namun bagi saudara-saudara kita yang berada di luar Kristus, mengharapkan bunga dari uang yang dipinjamkan adalah hal yang sah-sah saja namun itupun perlu  diperhatikan kepeduliaannya dan motivasi awalnya yaitu membantu mereka. Kehadirian kita diantara mereka adalah bagian dari misi menyatakan siapa Tuhan kita bagi mereka. Kehadiran kita yang sewenang-wenang dan arogan akan membuat mereka mengenal Allah kita sebagai Allah yang arogan dan sewenang-wenang. Sebaliknya, kehadiran kita yang memberikan kesan baik sopan dan santun, bagi m ereka akan membantu mereka juga mengenal karakter Allah yang baik


Pelayanan Pendampingan Gereja terhadap Parpasar

Berdasarkan uraian-uraian diatas, gereja tidak boleh menutup dirinya dari pelayanananya kepada berbagai bidang kerja jemaatnya, demikian juga kepada jemaat marpasar. Apakah yang bisa gereja lakukan untuk mendampingi para parpasar:
1.      Gereja seharusnya tidak ikut-ikutan memvonis pekerjaan marpasar itu sebagai suatu dosa, melainkan berusaha menerangkan bagaimana marpasar yang benar menurut Alkitab, marpasar yang penuh kasih  atau marpasar ala kristen
2.      Gereja harus berusaha membantu membuka mata jemaat untuk melihat alternatif pekerjaan lain yang lebih bisa diterima oleh umum, mengusulkan kepada jemaat untuk mencoba usaha-usaha lain sebagai sampingan untuk sumber penghasilan, agar jemaat –jemaat Kristen yang marpasar itu tidak lagi hanya menggantungkan  sumber kehidupannya dan penghasilannya dari marpasar.
3.      Mensosialisaikan pemahaman yang benar dan  alkitabiah, bagaimana sebenarnya cara meminjamkan  uang, kepada siapa kita boleh mencari keuntungan dari uang yang kita pinjaman,  seberapa besar sesungguhnya  bunga yang perlu kita sepakati dengan para peminjam.
4.      Gereja sebaiknya mulai mempropagandakan kepada jemaatnya untuk mulai memperhatikan hidup kebersamaannya dengan warga setempatnya. Sehingga para warga jemaat kita itu tidak dianggab asing oleh masyarakat sekitarnya
5.      Gereja dengan pemahaman teologinya sebaiknya mampu memberikan pemahaman kepada jemaat untuk peduli dan perhatian kepada nasabah-nasabah peminjam uang. Memberikan pemahaman kepada para rentenir untuk memandang para nasabah itu itu sebagai partner usaha mengembangkan modal kita, nasabah bukanlah  sapi perah , untuk terus diperah,
6.      dll

Demikianlah, penulis melihat fenomena marpasar sebagai suatu fenomena yang perlu kita perhatikan sebagai suatu fenomena yang akan terus terus berkembang  dan membutuhkan pelayanan yang lebih menyentuh para pelaku-pelakunya. Demikianlah juga penulis sebagai hamba Tuhan yang  hadir melayani  ditengah-tengah jemaat yang demikian berharap bisa semakin lebih baik lagi di dalam pelayanannya kedepan dengan studi lanjut yang sedang diikutinya.


1) Rentenir berasal dari kata dasar Rente yang berarti bunga uang/riba,  Departemen Pendidikan Nasional, KBBI, Ed. 3, Balai Pustaka, Jakarta 2002, hlm. 949.  bnd. Makna Riba yang juga berarti bunga Uang, Departemen Pendidikan nasional, KBBI, Ed. 3. Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hlm. 955.
2) Marie Claire Barth & B.A. Pareira, Tafsiran Alkitab : Kitab Mazmur 1 – 72 , Pembimbing dan Tafsirannya, Cet.  3  BPK Gunung Mulia, Jakarta , 1999, hlm. 215.

Sejarah Gereja HKBP Pekalongan


GEREJA HKBP PEKALONGAN
DALAM sejarah & pelayanannya

1. Pengantar
            Gereja HKBP Pekalongan sebagai salah satu gereja anggota Badan Kerjasama Gereja-gereja Kota Pekalongan (BKSG-KP), terletak di Jl. Perintis kemerdekaan (Belakang Kolam Ronang Tirtasari – Pekalongan). PO.BOX. 72,  Kode Pos  51114 – Pekalongan. No. Telepon Gereja :  (0285) 432480, (0285) 427339. Berdiri pada tahun 1978, adalah perkembangan dari sebuah persekutuan adat dan doa dari beberapa orang Batak yang  pertama di kota  227 laki-laki dan 228 perempuan. Mayoritas jemaat HKBP Pekalongan adalah pendatang dari Sumatera Utara yang tinggal dan menetap mencari kerja di Pekalongan. Gereja HKBP Pekalongan adalah bagian dari pelayanan HKBP Ressort Pekalongan Distrik XVIII Jabartengdiy  (Jawa Barat Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Pekalongan. Sekarang jumlah jemaatnya 100 KK dengan jumlah jiwa 455 orang (dewasa dan anak-anak) , dengan rincian:

2. Sejarah Singkat Berdirinya HKBP Pekalongan
      Pada awalnya terjadi musibah kecelakaan terhadap salah satu seorang suku Batak yang mengakibatkan kematian , di daerah Bendan – Pekalongan. Pada saat itu belum ada perkumpulan orang Tapanuli/Batak sehinga satu sama lain belum saling mengenal. Maka pada saat itulah dirasa perlu untk membentuk suatu perkumpulan Suku Batak. Sehingga diambil suatu keputusan setiap sebulan sekali diadakan pertemuan arisan dimulai tahun 1977. di saat itulah dimulai merintis sensus keluarga secara terperinci yaitu dengan cara membuat Questionari, dimana masing-masing keluarga mengisi blangko, yang terdiri dari:
v     Nama Kepala Keluarga
v     Alamat Tempat Tinggal
v     Pekerjaan
v     Agama/Asal dari gereja mana
v     Jumlah Anggota Keluarga
Setelah pendataan dilaksanakan sekaligus dapat mengetahui jumlah jemaat dan asal-usul gereja sebelumnya  dari gereja mana. Sebagai hasil sensus pendataan pertama kali terkumpul resmi terdaftar sebanyak 10 kepala keluarga. Maka berangkatlah  Bapak S. Purba dengan beberapa orang rombongan ke Semarang untuk meminta pertimbangan dan bimbingan serta saran-saran dari Bapak  Pendeta JP. Tambunan sebagai Pendeta Ressort Kertanegara di Semarang. Tetapi saat

 itu rombongan utusan itu tidak bertemu dengan Pendeta JP. Tambunan, karena kebetulan beliau berada di Sumatera dalam rangka menghadiri Sinode/Rapat Pendeta Godang.
      Akhirnya Rombongan pulang  dan meninggalkan pesan kepada salah seorang majelis HKBP Kertanegara yaitu Bapak St. RB. Simanjuntak tentang maksud dan tujuan kedatangan rombongan dari Pekalongan  untuk disampaikan kepada Bapak Pendeta JP. Tambunan. Selanjutnya rombongan mengambil kesepakatan untuk segera mempersiapkan diri dalam rangka pendirian gereja HKBP Pekalongan.
      Pada bulan Maret 1978, rombongan berangkat ke Semarang untuk kedua kalinya menemui bapak Pdt. JP. Tambunan, ternyata beliau tidak ada di tempat karena berangkat ke Solo. Sebulan berikutnya, untuk ketiga kalinya rombongan pergi ke Semarang dan berhasil bertemu langsung dengan Bapak Pdt. JP. Tambunan sehingga maksud dan tujuan rombongan dapat diutarakan secara langsung dan diterima dengan baik. Bapak Pdt. JP. Tambunan menyarankan agar  segera mempersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan rencana pembangunan gereja dan sekaligus untuk menentukan waktu dimana Bapak Pdt. JP. Tambunan bisa mengadakan kebaktian dengan bahasa Batak di Pekalongan untuk  yang pertama kalinya.
      Rencana ini  dapat terlaksana pada tanggal 21 Mei 1978 jam 15.00 bertempat di Gereja Kristen Jawa  (GKJ – Pekalongan) jl. Melati No. 1 Pekalongan. Kebaktian ini dipimpin langsung oleh Bapak Pdt. JP. Tambunan dengan membawa rombongan Koor Ama  dari Gereja HKBP Kertanegara  - Semarang. Selanjuntnya pada bulan Juni dan Juli 1978 acara kebaltian dilaksanakan sebulan sekali, yang dipimpin oleh Bapak Pdt. JP. Tambunan. Melihat waktu yang terlalu lama, sebulan sekali maka diambil suatu kesepakatan sejak tanggal 06 Agustus 1978 acara kebaktian dilaksanakan seminggu sekali dengan Bahasa batak/Tapanuli. Acara kebaktian selanjutnya dilaksanakan di Aula Kantor Brimob Kalibanger – Pekalongan, sambil merencanakan  membeli sebidang tanah  untuk tempat pembangunan Gedung Gereja. Walaupun tempat Ibadah berpindah-pindah, namun semangat dari Panitia Persiapan Pembangunan cukup tinggi sehingga tepat pada tanggal 14 Oktober 1978 saecara resmi Gereja HKBP Pekalongan melaksanakan Peletakan Batu Pertama yang dihadiri oleh Bapak Walikota Pekalongan (Drs. Soepomo) yang didampingi oleh Bapak Pdt. JP. Tambunan.
      Setelah lima bulan berikutnya jumlah jemaat bertambah menjadi 122 jiwa yang resmi terdaftar di buku Register HKBP Pekalongan termasuk pemuda dan pemudi yang ada di wilayah Pekalongan. Mengingat HKBP Pekalongan bersatu dan saling mendukung, maka panitia dapat membeli sebidang tanah seluas 600 meter persegi yang dipakai sebagai tempat kebaktian saat ini,sesuai dengan sub thema pada saat itu  "Dengan Semangat, kita membangun  gereja Tuhan menjadi Jerusalem baru”. Demikianlah uraian singkat sejarah berdirinya gereja HKBP Pekalongan. Walaupun banyak rintangan yang dihadapi namun Tuhan merestui  sesuai dengan  rencana dan kehendaknya.


Selasa, 16 Maret 2010

Makanan Yang Boleh Kita Makan


”MAKANAN APAKAH YANG BOLEH KITA MAKAN ?”[i]


I.    Ketika Penciptaan (sebelum manusia jatuh ke dalam dosa)

Tuhan mengatakan bahwa makanan yang Tuhan sediakan bagi manusia adalah makanan dari segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan dari segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji.
Kej.  1 : 29 Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.
Kej. 3 : 18   Semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
Kej. 3 : 19   Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

II. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa

Manusia mulai mengalami kesulitan di dalam mencari makanannya, dan makanan manusia mulai berkembang, manusia mulai memakan daging-dagingan, misalnya Habil yang mulai beternak domba, selain untuk dipersembahkan sebagai kurban kepada Tuhan. hasil peternakannya juga digunakan untuk makanan sehari-hari.
      Akan tetapi kebiasaan ini dipandang Tuhan tidaklah baik untuk kehidupan manusia sehingga Tuhan membatasi ”makanan” manusia itu.
Kej. 9 : 3     Segala yang bergerak, yang hidup, akan menjadi makananmu. Aku telah memberikan semuanya itu kepadamu seperti juga tumbuh-tumbuhan hijau.
Kej. 9 : 4     Hanya daging yang masih ada nyawanya, yakni darahnya, janganlah kamu makan.

III.       Manusia Pada jaman Air Bah

      Menurut tradisi iman kekristenan, disinilah sesungguhnya awal dimana secara resmi Allah menginjinkan manusia untuk memakan’daging-dagingan”. Keinginan manusiadi jaman itu yang sangat senang memakan daging dilihat Allah sebagai salah satu sumber berbagai kejahatan dan kebringasan manusia. Allah mulai membatasi kembali makanan manusia. Mulailah muncul istilah haram dan halal.
Kej.  7 : 2    Dari segala binatang yang tidak haram haruslah kauambil tujuh pasang, jantan dan betinanya, tetapi dari binatang yang haram satu pasang, jantan dan betinanya;
Kej. 7 : 8     Dari binatang yang tidak haram dan yang haram, dari burung-burung dan dari segala yang merayap di muka bumi,
Kej. 8 : 20   Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

Akan tetapi satu hal yang perlu kita ketahui di dalam hal ini, bahwa tentang makanan (hewan-hewan) yang haram dan yang halal di dalam masa ini belumlah tentu dengan apa yang tertulis di dalam kitab imamat. Karena pewahyuan dan perintah Tuhan pada saat itu belumlah diberikan secara gamblang kepada Nuh. Haram dan halal pada jaman ini masih berdasarkan ”ketentuan Nuh’

Di lain pihak, menurut para ahli,  sesungguhnya nas ini ditambahkan atau disisipkan kemudian oleh para imam-imam Yahudi di jaman pembuangan untuk meneguhkan dan melegitimasi peraturan-perturan Taurat Yahudi.

IV. Makanan Manusia di jaman Musa

Di jaman Musa makanan haram dan halal diaturkan sangat ketat. Banyak orang Yahudi, Islam dan Kristen menyakini apa yangtertulis secara terperinci tentang makanan haram dan halal yang terurai di dalam kitab Imamat adalah perintah langsung dari Tuhan (Firman Tuhan), sehingga mau atau tidak mau harus dituruti.
Im.  11 : 4   Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari yang memamah biak atau dari yang berkuku belah: unta, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
(bnd. Ul  14 : 7 Tetapi inilah yang tidak boleh kamu makan dari antara yang memamah biak atau dari antara yang berbelah dan bersela kukunya: unta, kelinci hutan dan marmot, karena semuanya itu memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram semuanya itu bagimu.)
Im.  11 : 5   Juga pelanduk, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah; haram itu bagimu.
Im. 11 : 6    Juga kelinci, karena memang memamah biak, tetapi tidak berkuku belah, haram itu bagimu.
Im.11 : 7     Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.
(bnd. Ul.  14 : 8 Juga babi hutan, karena memang berkuku belah, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan janganlah kamu terkena bangkainya).
Im. 11 : 8    Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.
Im. 11 : 26 yakni segala binatang yang berkuku belah, tetapi tidak bersela panjang, dan yang tidak memamah biak; haram semuanya itu bagimu dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis.
Im. 11 : 27 Demikian juga segala yang berjalan dengan telapak kakinya di antara segala binatang yang berjalan dengan keempat kakinya, semuanya itu haram bagimu; setiap orang yang kena kepada bangkainya, menjadi najis sampai matahari terbenam.
Im. 11 : 28 Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu.
Im. 11 : 29 Inilah yang haram bagimu di antara segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi: tikus buta, tikus, dan katak menurut jenisnya
Im. 11 : 31 Itulah semuanya yang haram bagimu di antara segala binatang yang mengeriap. Setiap orang yang kena kepada binatang-binatang itu sesudah binatang-binatang itu mati, menjadi najis sampai matahari terbenam.
(bnd. Ul. 14 : 9 Inilah yang boleh kamu makan dari segala yang hidup di dalam air; segala yang bersirip dan bersisik boleh kamu makan,  Ul.  14 : 10 tetapi segala yang tidak bersirip atau bersisik janganlah kamu makan; haram semuanya itu bagimu.)
Im. 20 : 25 Kamu harus membedakan binatang yang tidak haram dari yang haram, dan burung-burung yang haram dari yang tidak haram, supaya kamu jangan membuat dirimu jijik oleh binatang berkaki empat dan burung-burung dan oleh segala yang merayap di muka bumi, yang telah Kupisahkan supaya kamu haramkan.
Bnd. Ul.  14:11 Setiap burung yang tidak haram boleh kamu makan. Ul.  14 : 19 Juga segala binatang mengeriap yang bersayap, itu pun haram bagimu, jangan dimakan. Ul. 14:20 Segala burung yang tidak haram boleh kamu makan.

Akan tetapi para teolog kurang begitu setuju dan kurang menerima kalau dikatakan bahwa peraturan tentang makanan haram dan halal itu datangnya dari Tuhan secara langsung. Penelitian secara mendetail terhadap latar belakang sosial, latar belakang sastra dan lain sebagainya membuktikan bahwa peran dari kaum imam Yahudi sangatlah besar di dalam menentukan hukum-hukum Yahudi. Meski mengambil nama Musa, seolah-olah Tuhan menyempaikan hukum-hukumnya itu secara mendetail kepada Musa, lalau Musa menuliskannnya dan menyempaikannya kepada kaun Israel. Akan tetapi para ahli-ahli teolog menemukan perbedaan sastra yang sangat jelas antara tulisan-tulisan di jaman Musa dengan tulisan-tulisan di jaman imam di masa pembuangan.

Umumnya para teolog setuju bahwa kitab imamat dan ulangan itu dituliskan oleh para imam ketika mereka sedang meratapi keadaan mereka di pembuangan Babel, dan mengenang masa-masa indah mereka di Yerusalem. Mereka teringat akan kekhususan mereka sebagai umat Allah, yang menerima anugerah khsusus sebagai bangsa pilihan Tuhan. Akan tetapi oleh karena segala perbuatan mereka yang tidak lagi menghargai persekutuan mereka dengan Tuhan maka mereka dihukum Tuhan dengan pembuangan. Ke dalam keadaan yang demikianlah mereka mulai menuliskan kembali tradisi-tradisi lisan nenek moyang mereka, mulai dari penciptaan, air bah, pemanggilan bapa-bapa leluhur, perjalanan dari Mesir ke Kanaan, tradisi Sinai dan berbagai perturan peribadahan lainnya sampai ke soal makanan haram dan halal. Semua dituliskan scr mendetail.

IV.       Makanan Haram dan Halal di jaman Tuhan Yesus

      Yesus hidup di dalam tradisi Yahudi yang sangat kuat, demikian juga soal makanan haram dan halal. Sebagai seorang Yahudi sejati, Ia begitu taat akan tradisi ini. Akan tetapi ketika pemanggilanNya sebagai Mesias dimulai, Yesus mulai berpandangan lain tentang berbagai tradisi keras oran Yahudi tersebut, Yesus mulai memahami apa yang sedang dihidupi oleh orang-orang Yahudi adalah kemunafikan belaka. Yesus melihat ketaatan yang ”memuakkan” dari ketaatan orang Israel terhadap hukum-hukum yahudi. Karena Yesus melihat bahwa hukum-hukum  dan aturan-aturan Yahudi itu tidak begitu menghidupkan sesamanya malah ”mematikan” kehidupan itu sendiri.
      Sehingga Yesus mulai mengkritisi berbagai ”hukum-hukum Yahudi” bukan berarti menghancurkannya melainkan memberikan makna yang lebih benar. Manusia tidak diciptakan untuk hukum-hukum akan tetapu hukum-hukum untuk kehidupan manusia. Dengan kata lain. Kehidupan manusia jauh lebih utama.
      Yesus memulihkan kembali cara pandang manusia terhadap ciptaan dan makanan, meski tidak secara gamblang Ia mematahkan hukum haram dan halal akan tetapi Ia dengan jelas mengatakan bahwa haram dan halal tergantung motivasi hati manusianya:

Mat. 15:7    Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
Mat. 15:8    Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
Mat. 15:9    Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."
Mat. 15:10  Lalu Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka:
Mat. 15:11  "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
Mat. 15:12  Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: "Engkau tahu bahwa perkataan-Mu itu telah menjadi batu sandungan bagi orang-orang Farisi?"
Mat. 15:13  Jawab Yesus: "Setiap tanaman yang tidak ditanam oleh Bapa-Ku yang di sorga akan dicabut dengan akar-akarnya.
Mat. 15:14  Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang."
Mat. 15:15  Lalu Petrus berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah perumpamaan itu kepada kami."
Mat. 15:16  Jawab Yesus: "Kamu pun masih belum dapat memahaminya?
Mat. 15:17  Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
Mat. 15:18  Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Mat. 15:19  Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

V.   Makanan Haram dan Halal di Jaman Setelah Tuhan Yesus (jaman Rasul-rasul)

      Di jaman Rasul-rasul tentang makanan yang haram dan yang halal semakin berkembang. Rasul-rasul Yahudi masih hidup mengikuti tradisi Yahudi tentang makanan haram dan halal. Akan tetapi Petrus dan beberapa rasul yang keluar melayani juga bagi orang-orang non Yahudi khusunya Paulus, tidak lagi terjebak dengan peraturan orang-orang Yahudi tentang haram dan halal. Ketika Tuhan membuka penginjilan kepada bangsa-bangsa kafir maka terbuka jugalah peraturan-peraturan tentang haram dan halal. Berangkat dari firman Tuhan kepada Petrus ketika Tuhan hendak menyuruh Dia memberitakan Injil kepada Kornelius (seorang kafir) maka Rasul-rasul dan bapak-bapak gereja serta teolog-teologi kristen menyakini Tuhan telah kembali memulihkan hubungan manusia juga dengan ”makanannya” menjadi sepeerti mas penciptaan : semuanya baik kalau diterima dengan ucapan syukur”.

Kis. 10:9     Keesokan harinya ketika ketiga orang itu berada dalam perjalanan dan sudah dekat kota Yope, kira-kira pukul dua belas tengah hari, naiklah Petrus ke atas rumah untuk berdoa.
Kis.10:10    Ia merasa lapar dan ingin makan, tetapi sementara makanan disediakan, tiba-tiba rohnya diliputi kuasa ilahi.
Kis.10:11    Tampak olehnya langit terbuka dan turunlah suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah.
Kis.10:12    Di dalamnya terdapat pelbagai jenis binatang berkaki empat, binatang menjalar dan burung.
Kis. 10:13   Kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata: "Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!"
Kis.10:14    Tetapi Petrus menjawab: "Tidak, Tuhan, tidak, sebab aku belum pernah makan sesuatu yang haram dan yang tidak tahir."
Kis.10:15    Kedengaran pula untuk kedua kalinya suara yang berkata kepadanya: "Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram."
Kis.10:16    Hal ini terjadi sampai tiga kali dan segera sesudah itu terangkatlah benda itu ke langit.
(Bnd. Kis 11 : 1 – 10).
     
      Akan tetapi, satu hal yang perlu kita perhatikan, meskipun tidak ada lagi makanan yang haram dan yang halal bagi kita. Karena semuanya sudah dapat kita nikmati dalan ucapan syukur kepada Tuhan, kita juga haruslah menjaga pola makanan kita karena ada hal yang menjadikan makanan kita itu juga menjadi haram:
           
1.  Jangalah kita menjadi hamba makanan. Makanlah apa yang baik dan berguna, jangan makan apa yang tidak baik dan mengakibatkan penyakit
I Kor.6 :12     Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.

      2.   Makanan kita hendaknya janganlah menjadi batu sandungan bagi orang lain. Makanlah ditempat yang benar dan disituasi yang benar. Jangan dengan disengaja mencari persoalan dengan orang lain.
Roma  14:15   Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia.

      3.   Nikmatilah makananmu dengan ucapan syukur (berdoalah dan mengucap syukurlah sebelum makan) jangan dengan kerakusan dan tergesa-gesa.
      I Tim. 4 :4      Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur,

4.   Jagalah hatimu, supaya hati dan mulutmu bersih dari segala iri, dengki, kebencian dan hal-hal yang jahat. Sehingga apapun yang kamu makan adalah baik.
   Matius 15:11  "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."
   Matius 15:17  Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban?
Matius 15:18  Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.
Matius 15:19  Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.

      5.   Makanlah untuk kemuliaan Tuhan,  janganlah makan hanya untuk memuaskan rasa lapar atau untuk kepentingan tubuh, tapi makanlah dengan spoan dan teratur untuk kemuliaan Tuhan.
I Kor. 10:31   Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.




[i] Bahan Pengajaran terhadap jemaat, Mei 2009 oleh Pdt. Bernard H. Pasaribu, STh