Makna Hidup

Hidup tidak hanya untuk menerima pemberian dari yang telah Tuhan sediakan,

tapi kita hidup juga perlu untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan, mengembangkannya dan berbagai dengan sesama

Kamis, 11 Maret 2010

Kisah Paskah


“SEKILAS DENGAN KISAH PASKAH”[1]
Pendahuluan

            Minggu- minggu Paskah (dalam hal ini : peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus) sudah didepan mata, meski kehadirannya tidak semeriah Natal, namun pesta Paskah bukanlah kurang besar maknanya bila dibandingkan dengan hari Natal. Sesungguhnya,  makna peristiwa  Paskah  adalah lebih besar dari peristiwa Natal. Karena Natal tidak akan ada bila peristiwa Paskah itu sendiri tidak terjadi. Hari Raya Paskahlah awal dari seluruh kilas balik cerita Natal, kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus. Karena tanpa Paskah, kelahiran dan kehidupan serta pengajaran dan pelayanan Yesus tidak akan ada bedanya dari guru-guru hikmat, para nabi dan Imam pada masa itu. Paskah telah membuka kembali semangat pengembaraan dan petualangan manusia untuk mencari fakta tentang keberadaan dan jati diri Yesus orang Nazaret. Peritiwa  Paskah itu sendiri adalah suatu rangkaian peristiwa mulai dari malam-malam terakhir Yesus, penangkapanNya, pengadilanNya, penyalibanNya, kematianNya, penguburanNya dan puncaknya adalah kebangkitanNya.
Namun pesta Paskah itu sendiri bukanlah suatu perayaan yang baru dan hanya milik orang-orang Kristen karena sesungguhnya Pesta Paskah itu sendiri pada awalnya adalah perayaan orang Yahudi dan sampai sekarang juga masih meraka rayakan sebagai salah satu perayaaan mereka.

PASKAH BAGI ORANG YAHUDI

Paskah di dalam Perjanjian Lama

Paskah (dalam bahasa Ibrani “Pesakh”) berasal dari kata kerja yang artinya ”melewatkan” dengan makna “menyelamatkan” (Kel. 12:13,27, dst). Hal ini mengingatkan kita bagaimana Allah melalui malaikat-malaikatnya melewati rumah-rumah orang Israel yang sudah berlabur darah sehingga ada keselamatan namun membunuh putra-putra sulung Mesir. Dan ini jelas mengingatkan kita kepada keluarnya bangsa Israel dari perbudakan Mesir (kel. 12).
Kemudian hari peristiwa ini mereka rayakan secara berulang-ulang (misynah Pesakhim) setiap tahunnya pada bulan Abib (yang kemudian disebut sebagai bulan Nisan adalah bulan musim menuai dan waktu terjadinya paskah pertama, dijadikan bulan pertama dari tahun Yahudi sebagai penghormatan (Kel. 12 : 2; Ul. 16:1 ; bnd. Im. 23:5 ; Bil. 9:1-5 ; 28:16).
Peristiwa  Paskah di dalam Perjanjian Lama itu ditandai dengan memakan Roti Tidak Beragi sebagai simbol ketergesa-gesaan mereka seolah-olah mereka harus segera berangkat karena waktu yang sangat sempit, paskah ini juga ditandai dengan penyembelihan anak domba jantan yang kemudian dimakan bersama-sama dengan  roti tak beragi tersebut. Penyembelian anak domba jantan ini  mengingatkan mereka tentang pengorbanan darah anak domba menggantikan kematian anak sulung mereka.

Makna teologisnya: bahwa anak domba sulung yang tidak  bercela dan tidak bernoda itu telah menggantikan nyawa dari anak-anak sulung bangsa Israel. Kematian dan pengorbanan anak domba sulung itu menjadi keselamatan dan kehidupan bagi bangsa Israel (umat Allah). Darah anak domba yang tercurah menjadi kesempatan bagi bangsa itu untuk menjalani hidup baru.

Bagi bangsa Israel merayakan Paskah adalah menjadi tradisi yang turun temurun diwariskan kepada generasi mereka. Dan merupakan parayaan terbesar yang mereka laksanakan setiap tahunnya. Dari seluruh negeri bangsa itu setiap orang-orang yang sudah dianggab dewasa (biasanya setelah  umur 12 tahun) diwajibkan untuk datang ke Yerusalem untuk bergabung untuk bersama-sama merayakan Paskah.[2] Perayaan ini kemudian dirangkaikan dengan “Perayaan Pesta Pondok Daun”. Biasanya bangsa Israel dari seluruh negeri sudah tiba di Yerusalem beberapa hari sebelum hari paskah dan biasanya akan banyak yang menjajakan domba-domba paskah di pelataran luar Bait Allah.

Paskah di dalam Perjanjian Baru

Perayaan Paskah di dalam Perjanjian Baru atau di jaman Tuhan Jesus jauh sudah lebih berkembang. Paskah itu masih tetap dirayakan secara bersama dengan seluruh warga atau orang-orang Israel dari seluruh penjuru, mereka datang ke Yerusalem secara berkelompok-kelompok (ingat ketika Tuhan Jesus berumur 12 tahun dimana Ia diajak oleh Bapa-Ibunya ke Yerusalem!). Namun di dalam PB makanan paskah itu sudah bisa dimakan di setiap rumah di seluruh wilayah kota. Tidak hanya satu keluarga saja yang bisa merayakannya ta satu kelompok atau perkumpulanyang sudah dianggab satu ikatan keluarga pun bisa merayakannya (misalnya Yesus dan murid-muridNya).

Namun setelah kota Yerusalem pada tahun 70 M hancur, maka perayaaan Paskah tidak lagi dipusatkan di Yerusalem, karena Yerusalem sendiri telah jatuh ke tangan bangsa  Roma. Keluarga-keluarga Yahudi merayakan Paskah di rumah-rumah – kembali seperti perayaan Paskah di jaman perbudakan Mesir. Sehingga kembali lagi ke tatacara dan bentuk paskah yang pertama.

II. PASKAH BAGI ORANG KRISTEN

Orang Kristen tidak menolak untuk menerima bahwa Peristiwa Paskah di Mesir adalah prototipe Peristiwa Paskah di Kayu Salib. Bukan hanya itu ritus pengorbanan, ritus makan roti tak beragi, dan daging anak domba, juga ritus terlepas dari kematian juga dinyakini adalah prototipe peristiwa-peristiwa Paskah di dalam Yesus. Ritus makan roti tak beragi dinyakini sebagai prototipe dari Perjamuan Kudus dimana roti tawar yang terbelah-belah dijadikan menjadi “menu utama” dari Perjamuan Kudus itu. Daging anak domba yang telah disembelih dinyakini sebagai prototipe tubuh (daging) Kristus yang dibagi-bagikan kepada seluruh yang layak menerima misa, pengorbanan anak domba yang menyelamatkan bangsa itu adalah prototipe pengorbanan Yesus yang menyelamatkan manusia.

Bagi orang Kristen Paskah adalah puncak karya keselamatan yang dibawakan Yesus bagi manusia dan dunia. Peristiwa Paskah itu sendiri didahului oleh berbagai peristiwa yaitu Masuknya Yesus Ke Yerusalem dengan disertai seruan dan Yel-Yel Hosianna, sekarang dirayakan sebagai Minggu Palmarum, setelah itu masuk ke dalam tradisi malam-malam Passion (bagi Kristen Katolik hari-hari terakhir ini mereka beri nama Rabu abu dan Kamis Putih) pada umumnya di hari-hari terakhir ini orang-orang Kristen melakukan puasa dan Perjamuan Kudus, Setelah itu Jumat Agung. Pada hari Raya Jumat Agung ini ibadah biasanya dilaksanakan untuk mengenang Jalan Penderitaan yang ditempuh oleh Yesus (Via Dolorosa)[3], Via Dolorosa ini kemudian dibacakan atau dipragmenkan di dalam ibadah atau kebaktian hening. Hari Raya ini kemudian berlanjut pada hari Minggu dini hari dimana biasanya banyak orang Kristen yang pergi ke kuburan (atau pada jaman ini sudah lebih cenderung diarahkan ke gereja) dan bersama sama dengan orang percaya lainnya mengadakan Kebaktian/Ibadah Subuh (bahasa Batak : Marbuha buha ni Ijuk). Dalam ritus ibadah Subuh ini biasanya ibadah itu akan dilanjutkan dengan “pencarian telur[4] Paskah atau menghias telur atau bermain dengan Kelinci[5]). Siangnya biasanya orang-orang Kristen merayakan paskah itu dengan Ibadah Raya yang dilanjutkan dengan Perjamuan Kudus suatu pertanda sukacita atas kemenangan Kristus atas kematian.

“HAPPY EASTER! HAPPY EASTER INDEED, JESUS IS RISEN!”


[1] Bahan pembekalan “pengetahuan teologi jemaat”, disampaikan pada “Ibadah padang NHKBP Pekalongan tanggal 31 April 2007 di Taman Iman Gua Maria – Ambarawa  oleh Pdt. Bernard H. Pasaribu, Sth.
[2] Selain Paskah, ada 2 perayaan lain yang juga dirayakan secara besar-besaran oleh bangsa Israel yaitu Pesta Pondok Daun (pesta ini dilaksanakan untuk mengenang bagaimana mereka sedang berada di padang gurun, di setiap perhentian mereka pasti akan membangun pondok-pondok yang dibuat dari dedaunan-biasanya perayaan ini dirangkaikan dengan perayaan paskah itu sendiri. Yang kedua adalah Perayaan Pesta Panen (Gotilon) – Pentakosta: hari raya ini meraka laksanakan setelah mereka tiba di tanah Kanaan dan setelah mereka menikmati hasil pertanian dan peternakan mereka di Kanaan.
[3] Istilah “Via Dolorosa “ berasal dari bahasa Latin yang berarti “Jalan Penderitaan” yaitu sebutanuntuk jalan yang dilalui Yesus  dai kota Yerusalem menuju penyalibanNya. Pada abad ke – 8  dibuatlah 14 tempat perhentian di sepanjang rute Via Dolorosa. Tempat-tempat perhentian itu dibuat untuk mengingat kejadian-kejadian penting yang dialami Tuhan Yesus  sepanjang  perjalananNya menuju bukit Golgata. Dari keempat belas tempat perhentian yang dibuat, memang tidak semuanya sesuai dengan  apa yang  dituliskan di dalam Alkitab, beberapa diantaranya berhubungan dengan tradisi dan tidak dituliskan dalam Alkitab.
                Perhentian 1 dimana Tuhan Jesus dijatuhi  hukuman mati oleh Pilatus (Markus 15:15)
                Perhentian 2 dimana Tuhan Jesus mulai memikul salib (Markus 15 : 20b)
                Perhentian 3 dimana Tuhan Jesus jatuh pertama kali
                Perhentian 4 dimana Tuhan Jesus berjumpa dengan ibunya
                Perhentian 5 dimana Simon dari Kirene memikul Salib Yesus (Markus 15 : 21)
                Perhentian 6 dimana seorang wanita mengusap wajah Tuhan Jesus
                Perhentian 7 dimana Tuhan Jesus jatuh kedua kalinya
                Perhentian 8 dimana Tuhan Jesus menghibur wanita Yerusalem (Lukas 23 : 27-29)
                Perhentian 9 dimana Tuhan Jesus jatuh untuk ketiga kalinya
                Perhentian 10  dimana pakaian Tuhan Jesus ditanggalkan (Markus 15 : 24b)
                Perhentian 11  dimana Tuhan Jesus dipakukan di kayu salin (Yohanes 19 : 18 – 19)
                Perhentian 12  dimana Tuhan Jesus meninggal (Matius 27 : 45-51)
                Perhentian 13  dimana Tuhan Jesus diturunkan dari salib (Lukas 23:50-53)
                Perhentian 14  dimana Tuhan Yesus dikuburkan (Yohanes 19 : 41-42).
Pada masa kini disetiap perhentian itu telah dibangun gereja  biara atau  caphel-caphel tempat berdoa. Via Dolorosa ini mengingatkan kita akan penderitaan  Yesus demi menyelamatkan manusia dari hukuman  dosa. Ini sekaligus peringatan bagi kita bahwa ada harga  yang harus dibayar  ketika mengiring Yesus. Yesus berkata : “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus…….memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9  23)

[4] Telur identik dengan awal kehidupan. Pencarian dan menghias telur adalah tradisi di Eropa untuk menyatakan bahwa hadirnya kehidupan baru. Yesus yang telah mati dan bangkit kembali telah memberikan kehidupan baru bagi manusia.
[5] Kelinci adalah symbol dari hewan yang sangat subur, di satu waktu melahirkan hewan ini bias melahirkan sampai 8 atau 12 anak sekaligus. Suatu makan dari kebangkita Yesus yang memberikan kesuburan da cepatnya perkembangan dari orang-orang percaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar