Makna Hidup

Hidup tidak hanya untuk menerima pemberian dari yang telah Tuhan sediakan,

tapi kita hidup juga perlu untuk menjaga apa yang telah Tuhan berikan, mengembangkannya dan berbagai dengan sesama

Kamis, 25 Maret 2010

Sebuah Refleksi : Hidup Sebagai Rentenir


Pelayanan Pendampingan Gereja Terhadap ParPasar
(Sebuah Refleksi Teologis & Visi Pelayanan)

Pendahuluan

“marpasar itu dosa!”,
“marpasar adalah suatu  pekerjaan yang dilarang Tuhan!”,
“parpasar itu adalah adalah pemeras dan  pembunuh berdarah dingin!”,
“parpasar itu dibenci oleh Tuhan!”

Demikianlah beberapa penggalan perkataan yang sering diucapkan dan ditujukan kepada orang-orang yang pekerjaannya marpasar.  Pekerjaan marpasar itu dianggab sebagai suatu pekerjaan yang hina yang seharusnya tidak dilakukan oleh orang-orang Kristen. Namun dalam kenyataannya banyak jemaat gereja Kristen yang hidup dari pekerjaan ini (khususnya jemaat –jemaat Kristen Batak di Diaspora  yaitu di berbagai tempat perantauannya, baik di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan di pulau-pulau lainnya di Indonesia,  menjadikan pekerjaan “marpasar” itu menjadi pilihan mata pencaharian).

Bagi sebagian “parpasar” sebutan-sebutan atau perkataan-perkataan yang bersifat cemoohan itu dianggab sebagai angin lalu saja. Mereka tidak peduli dengan segala fitnahan-fitnahan, dan cemohan-cemohan itu, karena dalam kenyataannya mereka tidak mempunyai pilihan pekerjaan yang lain. Mereka tidak merasa terganggu dan ambil pusing dengan penilaian-penilaian itu, karena mereka berpikir itu sebagai suatu tanda kesirikan atau kecemburuan dari orang-orang yang mengucapkannya. Demikian juga karena  mereka berpikir bahwa itu hanyalah suatu tanda kesombongan dari orang-orang yang mengucapkannya, yang mengganggab diri mereka lebih benar dari orang lain.

Namun bagi sebagian orang, penilaian-penilaian ini sangat mengganggu dan tidak enak untuk didengar. Mereka merasa disudutkan dan dihakimi sebagai orang-orang yang salah mengambil jalan hidup demikian juga dihakimi sebagai orang-orang yang berdosa dan tidak benar karena memilih pekerjaan marpasar . Mereka bingung mencari pembenaran dan kebenaran pekerjaan mereka sementara cap buruk terus ditujukan kepada mereka. Orang-orang ini bergumul dengan pekerjaan yang sedang mereka tekuni karena disatu sisi mereka dengan segala kekurangan pemahamannya menerima saja kebenaran perkataan-perkataan itu, namun disisi lain mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka mau meninggalkan pekerjaan itu dan mencari pekerjaan yang lain, namun mencari pekerjaan di jaman ini sangatlah sulit. Jangankan untuk mencari pekerjaan, yang sudah bekerja saja banyak yang diberhentikan dan kalaupun ada pekerjaan, pekerjaan itu sendiri belum tentu lebih baik dan lebih bersih atau lebih benar dari pekerjaan mereka yang sedang mereka tekuni sekarang. Perasaan yang tidak menentu ini akhirnya membuat banyak orang menjadi  lemah dan kurang bergairah bahkan ada yang sampai stress.

Dalam dua keadaan yang demikian ini peran gereja sangat dibutuhkan, bukan untuk menghakimi tapi memberikan jalan keluar atau solusi bagi persoalan ini! Bukan untuk membenarkan tindakan sekelompok orang disatu sisi ataupun kelompok yang lain disisi yang lain. Inilah yang penulis lihat menjadi salah satu tugas gereja yang belum selesai, meski masalah ini bukanlah masalah yang baru, namun sekurangnya perlu penyegaran dan pendekatan yang baru. Dan gereja sebagai patron kebenaran harus berada di depan membantu jemaat pelaku-pelaku pasar demikian juga jemaat-jemaat diluar pelaku-pelaku pasar yang terus memberikan penilaian.  Penulis melihat ini adalah sebuah tantangan namun juga sebuah panggilan masa kini dan masa depan dimana hamba-hamba Tuhan bisa memberikan terang baru pemahaman teologi terhadap aktivitas “marpasar” tersebut.

Pengertian “Marpasar”
           
Istilah “marpasar”  sebenarnya adalah suatu istilah dalam bahasa Batak yang berarti orang-orang yang bekerja di pasar. Dari dua kata yaitu kata “mar” dan “pasar”. “Mar” adalah suatu awalan yang menunjukkan suatu pekerjaan yaang aktif. Kata “mar” sendiri adalah perkembangan kata dari awalan “ma” yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti yang sama dengan awalan “me’. Pasar adalah adalah tempat terjadinya transaksi jual beli, tukar menukar dan tawar menawar. Jadi marpasar itu berarti menunjukkan pekerjaan dari orang-orang yang di pasar. Namun dalam perkembangannya, istilah marpasar ini mengalami penyempitan makna. Hal ini disebabkan kecenderungan orang-orang Batak di pasar-pasar umum maupun pasar-pasar tradisional di pulau jawa ini adalah mayoritas meminjamkan uang maka kata marpasar itu dimaknai secara sempit yaitu “berdagang uang” atau “meminjamkan uang” atau lebih tepat “membungakan uang”.
Arti kata marpasar menjadi sama dengan “Rentenir” (suatu istilah bahasa Inggris yang telah diadopsi menjadi bahasa Indonesia) yang berarti orang-orang yang mencari nafkahnya dengan membungakan uang1)

Jadi, orang-orang yang marpasar, yang meminjamkan uangnya dan membungakan itu adalah rentenir-rentenir baru di jaman ini yang tampilannya lebih santun dan cara meminjamkan uang yang mungkin lebih bersahabat, tanpa agunan. Yang bekerja atas dasar rasa saling mempercayai dan kesepakatan antara yang satu dengan yang lain. Suatu jenis pekerjaan yang sesungguhnya teknis kerjanya tidak begitu jauh berbeda dengan badan-badan hukum lainnya yang memberikan pelayanan simpan pinjam uang seperti Koperasi atau Badan Perkreditan Rakyat atau Bank. Perbedaannya terletak di statusnya dimana Parpasar (Para Rentenir) ini adalah wiraswasta yang tidak berbadan hukum, yang mengolah usahanya sendiri, dengan kebijakan dan peraturan sendiri. Sementara Koperasi, BPR dan Bank adalah suatu institusi berbadan hukum yang peraturan dan kebijakannya juga harus disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan pemerintah atau lembaga ekonomi lainnya.

Marpasar sebagai Pilihan Hidup

Di tengah sulitnya perekonomian bangsa dimana mencari pekerjaan semakin bertambah sulit sementara pengangguran juga semakin bertambah besar, Marpasar adalah alternatif pekerjaan yang sangat membantu mengurangi pengangguran. Marpasar menjadi lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang mempunyai sejumlah modal (kecil atau besar) yang mau meminjamkan uangnya kepada orang lain demikian juga membuka peluang bagi para peminjam uang untuk membuka usaha (bagi yang mau berusaha) atau sekedar mengembangkan usahanya.
Mungkin pekerjaan marpasar sering diidentikan dengan pekerjaan yang kurang baik dan terkadang dibenci oleh segelintir orang namun nyatanya banyak hal positif juga yang telah disumbangkannya.  Dibandingkan koperasi atau BPR atau bank, marpasar mempunyai kelebihan dan kekurangan (kelemahan) antara lain:
Kelebihannya:
  1. Proses peminjamannya lebih mudah, cepat dan tidak perlu agunan (didasarkan rasa saling percaya). Bagi orang-orang yang tidak mau repot dengan segala proses yang berbelit-belit, sementara jumlah uang yang dipinjam pun tidak begitu besar, pilihan meminjam uang kepada parpasar adalah langkah cepat yang sangat baik. Demikian juga bagi orang-orang yang tidak mempunyai sesuatu barang yang berharga yang bisa menjadi agunan sebagaimana yang selama ini dibutuhkan oleh Bank untuk bisa meminjam uang, maka meminjam uang kepada para parpasar juga adalah pilihan yang paling praktis. Mereka tidak perlu membuat agunan (surat-surat rumah, tanah atau apapun) tidak juga harus membuat surat perjanjian yang bermaterai. Saling mempercayai adalah modal yang paling utama.
  2. Peminjam-peminjam baru biasanya diperlakukan seperti seorang raja, dibujuk, dirayu dan diperlakukan dengan sangat baik. Selanjutnya terserah masing-masing.
  3. Jumlah besar dan kecilnya pinjaman tidak dibatasi, tergantung kepada kemampuan pemberi pinjaman demikian juga kemampuan (kebutuhan) peminjam.
  4. Peminjam tidak perlu repot mendatangi pemberi pinjaman untuk membayar cicilan pinjaman atau sekedar bunga pinjaman, karena biasanya pemberi pinjamanlah yang mendatangi para peminjam uang bahkan ke  kios-kios atau ke rumah-rumah mereka.

Kelemahannya:
  1. Bunganya terlalu besar. Dalam pengamatan langsung ke lapangan ataupun dari percakapan-percakapan langsung dengan pemerhati atau langsung kepada para peminjam uang. Yang menjadi keluhan utama dari sistim pinjaman uang ala Parpasar (rentenir) ini adalah bunga pinjaman yang terlalu besar. Untuk saat ini, intervalnya 10 s/d 30 %. Sementara kalau pinjaman itu dari koperasi atau BPR atau dari Bank, kisaran bunganya tidak lebih dari 10 atau 15 % bahkan ada yang hanya 3  sampai 4 %.
  2. Penagih biasanya mulai bertindak sewenang-wenang kepada nasabah ketika nasabah mulai sedikit telat untuk membayar cicilan.
  3. Karena tidak ada jaminan atau agunannya, banyak juga nasabah yang akhirnya menghilangkan diri atau lari, karena pinjamannya yang kemudian tidak sanggub dibayar.

Fenomena marpasar yang cukup menguntungkan ini kemudian menjadi daya tarik juga bagi banyak orang bukan lagi hanya bagi orang-orang Batak namun juga bagi orang-orang Sunda, dan orang Jawa. Pengamatan penulis sendiri dibeberapa pasar di keresidenan Pekalongan menemukan bahwa pelaku-pelaku “marpasar” itu juga sudah ditekuni oleh ibu-ibu dari penduduk setempat. Dengan pakaian yang berjilbab dan dengan logat Sunda atau Jawanya mereka menawarkan uangnya dan bersaing bunga lebih rendah dengan para rentenir-rentenir lainnya. Fenomena yang cukup menguntungkan ini juga membuat banyak koperasi mulai merubah metode mereka di dalam pendekatannya terhadap nasabah, Apa yang mereka lakukan tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh rentenir-rentenir swasta tadi. Mereka terjun langsung ke pasar-pasar  bahkan masuk ke kampung-kampung menawarkan jasa peminjaman uang  dengan bunga tertentu dari pintu ke pintu.

Dari sisi baik buruknya pekerjaan ini dianggab sebagai suatu pekerjaan yang “dilematis” dan ini memungkinkan kita membuat penilaian yang berbeda-beda, namun realita dan fakta telah menunjukkan fenomena meminjam dan meminjamkan uang  dengan bunga ini berkembang di negeri kita. Terjadi tidak hanya di tingkat pribadi lepas pribadi warganya, tapi juga dikalangan pengusaha bahkan penguasa. Karakter  hidup dan berjaya diatas utang  telah menjadi salah satu karakter bangsa kita baik dari rakyat kecil sampai ke tingkat kenegaraan. Banyak masyarkat bangsa ini yang sangat bangga dengan apa yang ada padanya meskipun itu adalah karena mengkredit atau meminjam uang. Bangsa kita ini juga bangga dengan segala pembangunannya meskipun utang bangsa ini untuk membangun sarana dan prasarana bangsa ini terus bertambah banyak

Marpasar (Rentenir) dipandang dari sisi Alkitabiah

Marpasar, sebagaimana yang diterangkan diatas adalah realita hidup yang terjadi ditengah-tengah masyarakat dimana gereja hadir juga diantaranya. Mau tidak mau gereja diharapkan mampu memberikan pemahaman yang benar tentang fenomena ini dan mampu memberikan pelayanan diantara mereka terlebih-lebih ditengah banyaknya  penilaian-penilaian yang miring terhadap pelaku-pelakunya.

Pekerjaan marpasar (berdagang uang atau meminjamkan uang dengan bunga) bukanlah sesuatu pekerjaan yang aneh bagi bangsa Israel dan bangsa-bangsa di sekitarnya  di jaman Perjanjian lama. Mengacu kepada beberapa sumber-sumber informasi yang alkitabih termasuk di dalamnya ayat-ayat kitab Perjanjian Lama, sedikit banyak kita bisa mengetahui bahwa orang-orang Israel juga banyak yang mempraktekan  pekerjaan meminjamkan uang. Diantara mereka ada bahkan banyak yang meminjamkan uangnya baik kepada bangsanya (sesama orang Israel) terlebih-lebih kepada bangsa-bangsa kafir di jaman itu. Demikian juga dengan bangsa-bangsa kafir di jaman itu (di dunia Timur Tengah Purba), pekerjaan marpasar adalah pekerjaan yang banyak ditekuni. Bahkan dengan tingkat bunga yang cukup tinggi, berkisar 30 – 50 %2). Sebaliknya di Israel pinjaman agaknya dilakukan atas dasar kerelaan untuk menolong sesama saudara –saudara yang malang.

Alkitab Perjanjian Lama, dengan sangat jelas tidak melarang bangsa Israel untuk meminjamkan dan membungakan uangnya kepada bangsa-bangsa kafir. Sebaliknya Alkitab mencatat dengan sangat tegas melarang  bangsa Israel untuk mengambil keuntungan dari meminjamkan dan membungakan uangnya kepada sesama saudaranya (bangsa Isarel) yang sedang ditimpa kemalangan atau kemiskinan.

Imamat 25 : 36 – 45 mencatat bagaimana Tuhan melarang bangsa Israel untuk mengambil bunga atau riba dari uang yang telah dipinjamkan kepada saudaranya seumat Allah yang susah dan mengalami kemalangan dan penderitaan. Tuhan telah menganugerahkan kepada bangsa itu tanah Kanaan menjadi tanah mereka dimana mereka bisa hidup bahagia dan berkelimpahan. Oleh karena itu apabila ada diantara sesama saudara mereka yang tidak bisa hidup karena segala kekurangan mereka maka sudah tanggung jawab merekalah untuk membantu dia supaya bisa bangkit kembali. Dan salah satu bantuan itu adalah dengan meminjamkan sejumlah uang tanpa harus memungut bunga atau ribanya. Mereka tidak boleh berlaku seperti penagih utang bagi sesamanya tersebut (Keluaran 22: 25).

Mazmur 15 : 5 juga mencatat bahwa bagi bangsa itu yang mau membantu sesamanya seumat Allah yang lagi susah dan menderita, dengan meminjamkan uangnya tanpa memungut riba atau bunganya maka ia tidak akan goyah selama-lamanya. Apa yang ada padanya tidak akan pernah berkurang malah Tuhan akan semakin memberkatinya sehingga ia bisa tetap kokoh di dalam kehidupannya juga ekonominya, Tuhan akan memelihara hidupnya (Yehezkiel 18 : 13). Namun sebaliknya bagi bangsa itu yang tetap memeras sesamanya dengan mengambil bunga dan riba dari uang yang dipinjamkannya kepada sesamanya itu berarti melupakan Tuhan yang telah memberkatinya. Oleh karena itu Tuhan sendirilah yang akan bertindak menghancurkan hidup dan ekonominya. Tuhan akan membuatnya malu diantara bangsa-bangsa karena ia dan  anak-anaknya akan dihamburkan di depan bangsa-bangsa (Yehezkiel 22 : 12-15). Keuntungan yang didapat dari sesama saudara seumat Allah itu bagi Tuhan adalah keuntungan yang haram.

Namun tidak demikian, jika mereka mengambil keuntungan itu dari bangsa-bangsa kafir. Perjanjian Lama tidak melarang bangsa itu untuk meminjamkan uangnya dan mengambil bunga atau riba atas uang yang dipinjamkannya kepada bangsa-bangsa kafir. Keuntungan yang didapat dari bunga uang  yang dipinjamkan kepada orang-orang kafir itu malah bisa menjadi berkat kalau bunga uang itu bisa dikumpulkan untuk menolong orang-orang lainnya yang membutuhkan belas kasihan. Kalau keuntungan itu bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga bisa dipergunakan untuk menolong orang-orang yang sangat membutuhkan (bnd. Amsal 28 :8).

Di dalam Perjanjian Baru, kebiasaan untuk membungakan uang tidak begitu disorot dengan tajam dan mendalam. Yesus hanya menyinggung sedikit tentang kehidupan masyarakat di jaman itu yang juga masih menjadikan kebiasaan meminjamkan uang menjadi salah satu memperoleh keuntungan yang besar (Matius 25: 14 – 30). Dengan perumpamaan 3 orang hamba yang menerima talenta yang berbeda-beda dari tuannya yang akan pergi jauh dimana dua hamba itu kemudian mengembangkan talenta itu dengan menjalankan uangnya, itu berarti pada jaman itu, kebiasaan itu juga masih ada. Dan dalam hal ini, Yesus tidak menghakimi cara mereka mengembangkan uang itu sebagai suatu cara yang berdosa atau tidak.  Yang pasti dari nas ini adalah bahwa Yesus mengapresiasi usaha gigih dari hamba-hamba itu untuk mengembangkan sesuatu yang kecil yang dipercayakan kepadanya untuk bisa menjadi lebih besar.


Refleksi Teologis

Dengan penjelasan ringkas dari pandangan Alkitab tentang fenomena “marpasar” (meminjamkan uang dengan bunga tertentu) diatas kita bisa menyimpulkan bahwa  pekerjaan membungakan uang itu bukanlah suatu pekerjaan yang penuh dengan dosa. Pekerjaan ini juga bisa menjadi pertolongan dan berkat buat orang-orang yang  sangat membutuhkan meskipun kita juga tidak menutup mata kepada tindakan-tindakan yang arogan dari beberapa orang rentenir kepada nasabahnya ketika mereka menagih bunga atau pinjaman yang mereka pinjamkan. Oleh karena itu sebagaimana Yesus yang tidak gampangan untuk memvonis dan menghakimi para rentenir (pelaku-pelaku pembunga uang) di jaman itu demikianlah hendaknya diharapkan kehadiran gereja  dan orang-orang percaya untuk tidak mudah menghakimi sesamanya karena Tuhanlah yang akan menghakimi kita. Adalah jauh lebih bijaksana kalau kita, apakah kita para rentenir (parpasar) atau mungkin nasabah peminjam uang atau bahkan hamba Tuhan yang mempunyai kepedulian di dalam hal ini untuk bisa hadir sebagai sesama yang saling menolong. Para nasabah yang meminjam uang bisa bangkit dan tertolong dari keterpurukan, bisa memakai uang pinjamannya untuk modal usaha atau untuk pengembangan usahanya demikian juga para rentenir bisa semakin lebih baik karena ia juga bisa mendapatkan keuntungan dari menolong orang.

Demikian juga kita perlu mendahulukan menolong sesama umat Allah (sesama pengikut-pengikut Kristus) yang  sangat membutuhkan tanpa harus kita mencari keuntungan darinya. Tidaklah salah kalau kita memperlakukan sesama saudara Kristiani lebih khusus dan berbeda dibandingkan dengan masyarakat secara umum. Firman Tuhan mengajak kita untuk tidak mengambil bunga atau riba dari pinjaman uang yang dipinjam oleh sesama kita, karena Tuhanlah yang akan membalaskannya kepada kita. Namun bagi saudara-saudara kita yang berada di luar Kristus, mengharapkan bunga dari uang yang dipinjamkan adalah hal yang sah-sah saja namun itupun perlu  diperhatikan kepeduliaannya dan motivasi awalnya yaitu membantu mereka. Kehadirian kita diantara mereka adalah bagian dari misi menyatakan siapa Tuhan kita bagi mereka. Kehadiran kita yang sewenang-wenang dan arogan akan membuat mereka mengenal Allah kita sebagai Allah yang arogan dan sewenang-wenang. Sebaliknya, kehadiran kita yang memberikan kesan baik sopan dan santun, bagi m ereka akan membantu mereka juga mengenal karakter Allah yang baik


Pelayanan Pendampingan Gereja terhadap Parpasar

Berdasarkan uraian-uraian diatas, gereja tidak boleh menutup dirinya dari pelayanananya kepada berbagai bidang kerja jemaatnya, demikian juga kepada jemaat marpasar. Apakah yang bisa gereja lakukan untuk mendampingi para parpasar:
1.      Gereja seharusnya tidak ikut-ikutan memvonis pekerjaan marpasar itu sebagai suatu dosa, melainkan berusaha menerangkan bagaimana marpasar yang benar menurut Alkitab, marpasar yang penuh kasih  atau marpasar ala kristen
2.      Gereja harus berusaha membantu membuka mata jemaat untuk melihat alternatif pekerjaan lain yang lebih bisa diterima oleh umum, mengusulkan kepada jemaat untuk mencoba usaha-usaha lain sebagai sampingan untuk sumber penghasilan, agar jemaat –jemaat Kristen yang marpasar itu tidak lagi hanya menggantungkan  sumber kehidupannya dan penghasilannya dari marpasar.
3.      Mensosialisaikan pemahaman yang benar dan  alkitabiah, bagaimana sebenarnya cara meminjamkan  uang, kepada siapa kita boleh mencari keuntungan dari uang yang kita pinjaman,  seberapa besar sesungguhnya  bunga yang perlu kita sepakati dengan para peminjam.
4.      Gereja sebaiknya mulai mempropagandakan kepada jemaatnya untuk mulai memperhatikan hidup kebersamaannya dengan warga setempatnya. Sehingga para warga jemaat kita itu tidak dianggab asing oleh masyarakat sekitarnya
5.      Gereja dengan pemahaman teologinya sebaiknya mampu memberikan pemahaman kepada jemaat untuk peduli dan perhatian kepada nasabah-nasabah peminjam uang. Memberikan pemahaman kepada para rentenir untuk memandang para nasabah itu itu sebagai partner usaha mengembangkan modal kita, nasabah bukanlah  sapi perah , untuk terus diperah,
6.      dll

Demikianlah, penulis melihat fenomena marpasar sebagai suatu fenomena yang perlu kita perhatikan sebagai suatu fenomena yang akan terus terus berkembang  dan membutuhkan pelayanan yang lebih menyentuh para pelaku-pelakunya. Demikianlah juga penulis sebagai hamba Tuhan yang  hadir melayani  ditengah-tengah jemaat yang demikian berharap bisa semakin lebih baik lagi di dalam pelayanannya kedepan dengan studi lanjut yang sedang diikutinya.


1) Rentenir berasal dari kata dasar Rente yang berarti bunga uang/riba,  Departemen Pendidikan Nasional, KBBI, Ed. 3, Balai Pustaka, Jakarta 2002, hlm. 949.  bnd. Makna Riba yang juga berarti bunga Uang, Departemen Pendidikan nasional, KBBI, Ed. 3. Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hlm. 955.
2) Marie Claire Barth & B.A. Pareira, Tafsiran Alkitab : Kitab Mazmur 1 – 72 , Pembimbing dan Tafsirannya, Cet.  3  BPK Gunung Mulia, Jakarta , 1999, hlm. 215.

17 komentar:

  1. M'Noah
    Bagus tuh, maju trus parpasar, jangan takut.

    BalasHapus
  2. Kesimpulannya meriba kepada yang bukan saudara itu bisa dibenarkan? terus yg dimaksud sudara kita/sesama kita itu siapa? yg semarga? hanya orang yang satu suku sj? beri kejelasan yg dimaksud sudara sesama di sini pak Pendeta.

    Praktek bank gelap itu dihalalkan di alkitab yah Pak?
    Bukankah ajaran alkitab melarang kita untuk berhutang? Roma 13: (8) Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat.

    BalasHapus
  3. ini kq artikelnya aneh atau otak saya yg kurang tangkep yaa..

    Dari kesimpulan yg saya baca,. knp penulis lbh condong membenarkan ya..
    walaupun saya nakal dan ga ngerti agama. tp sy yakin Tuhan psti ga mmbenarkan hal itu. mau minjemin ke lain ras, agama, suku (org kafir, kalo kata tulisan ini) ttp ja ga dbnrkan pak pendeta.. kasihilah musuh mu.

    mohon dijelaskan pak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa rentenir di bilang lintah darat...karna dia menghisap darah sesama, menekan seseorang...bahkan klw gak bs bayar diambil barang2 si pengutang... agama manapun melarang itu...

      Hapus
  4. PSK juga beralasan karena tidak ada pilihan pekerjaan lainnya sehingga mereka menjadi seorang PSK. Lalu mereka terjebak dalam pekerjaannya karena simple dan instan dalam mendapatkan rezeki. Mungkin juga seorang parpasar bisa terjebak dalam pekerjaannya dengan penyakit zaman sekarang, yaitu greedy (serakah).

    Bapak pendeta ini kelihatannya dalam posisi sulit karena memimpin jemaat yang sebagian besar bekerja sebagai parpasar. Jika tidak mendukung mungkin bisa "ditendang". Perlu diapresiasi juga karena bapak pendeta mencoba kreatif dalam mengaitkan dengan Firman Tuhan.

    BalasHapus
  5. pendeta kontol lah kau. masa kau bilang boleh mempraktekan rentenir!
    dasar anjing babi kau, iblis.
    penyesat.

    BalasHapus
  6. INI CONTOH PENDETA SESAT. IBLIS BERLAGAK MALAIKAT.
    MUSANG BERBULU DOMBA. YA PENDETA SEPERTI INILAH!
    BIKIN MALU UMAT KRISTEN AJA KAU.
    JANGAN2 PENDETA YANG SATU INI JUGA SEORANG RENTENIR!

    BalasHapus
  7. mungkin istri pak pendeta ini bekerja sebagai seorang rentenir. maklumlah rentenir menurut ajaran pak pendeta ini di bolehkan dari segi alkitab....wkwkwkwkwk
    begitulah kristen sesat. sejak kapan yesus mengajarkan boleh menjadi rentenir.
    kalo memang si pendeta palsu ini benar2 memahami ajaran yesus. krn yesus justru mengecam praktek rentenir.
    cam kan itu hei pendeta iblis.
    lebih baik kau keluar ga usah jadi pendeta.
    memalukan umat kristen kau bodat

    BalasHapus
  8. Menurut saya alasan secara alkitabiah belum jelas di paparkan apakah praktek rentenir ini dapat dibenarkan,menurut saya masih bias,sesama teman seiman tidak boleh,diluar itu boleh,jadi tidak ada ketegasan,mohon pencerahan yang lebih dalam lagi amang tanpa ada tekanan maupun maksud yang lain,tetapi dari kebenaran Alkitab.

    Syallom

    BalasHapus
  9. teologia yang tidak pas, memperkosa alkitab namanya, tanpa memperhatikan konteksnya....

    BalasHapus
  10. emang kristen itu sesat

    BalasHapus
  11. Cinta Uang adalah akar dari segala Kejahatan...Mohon Bpk Pendeta menjadi contoh yang baik untuk hidup menurut kehendak Tuhan. Saya perhatikan banyak jemaat HKBP (tidak semua) yang hidupnya bergantung dari menjalankan uang.....GBU

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk daerang cilegon, serang dan merak banyak di temui rentenir kejam... bahkan saya melihat sendiri kekejaman mereka.. tp sy belum menemukan ada rentenir yang sukses... yang ada malah hukuman dari Tuhan.. yaitu kehancuran...

      Hapus
  12. Memang tidak mudah melayani jemaat yang mayoritas jemaat melakukan kegiatan ekonomi dengan cara meminjamkan uangnya kepada orang lain.......Namun kita tidak juga tidak diajarkan untuk saling menghakimi lalu merasa benar dihadapan sesama. Pekerjaan kita juga belum tentu kita jalankan dengan benar....mengingatkan mereka bagaimana mengerjakan pekerjaan itu agar menjadi benar itulah yang terutama, bukan menghakimi mereka sebagai "kayunya api neraka"
    anda-anda boleh mengatakan apa saja......tetapi janganlah pakai nama anonim, pakailah nama yang sebenarnya.....Tuhan memberkati

    BalasHapus
  13. Kevin Sambuaga26 Januari 2014 03.35

    Pdt Bernard tidak bisa mengambil sikap tegas terhadap rentenir. Secara umum, gereja2 (utamanya HKBP) jg bersikap sama. Menjaga zona nyaman thd keberadaan rentenir yg kebanyakan jemaat HKBP. Sikap gereja terhadap rentenir jauh lebih lemah jika dibandingkan dengan sikap partai komunis yg justru sering dituding sesat, atheis dsb oleh gereja. Dalam pendidikan2 kader dan propaganda partai komunis dulu, ada diajarkan istilah tujuh setan desa, musuh yg menindas dan menghisap rakyat. Rentenir adalah satu diantara tujuh setan desa tsb.

    BalasHapus
  14. Kevin Sambuaga26 Januari 2014 04.00

    Saya percaya, hukum tabur-tuai itu pasti berlaku. Gereja yg menerima kolekte dari sebagian jemaat yg rentenir pasti menabur akibat tdk baik. Contoh ini saya saksikan dalam aktivitas advokasi di gereja2 (utamanya HKBP) yg mengalami gangguan, intimidasi maupun penyerangan dari kelompok2 intoleran. Seringkali, jemaat ini menganggap mrk menjadi korban krn meyakini"Umat yg percaya pd Tuhan Yesus akan mendapat aniaya...dsb). Mrk tdk pernah sadar, kolekte yg diperoleh dari jemaat2 rentenir justru bukan menjadi saluran berkat, melainkan menjadi sumber kutuk.

    BalasHapus
  15. Maaf Pak Pdt. Bernard H. Pasaribu, M.Min yang Budiman, Menurut saya Anda Salah besar, Sedih saya membaca Blog ini, anda sebagai Pendeta sepertinya menghalalkan praktek ini, yang kami sebut "PARTIGA TIGA HEPENG" .
    Mengutip tulisan anda diatas "kita bisa menyimpulkan bahwa pekerjaan membungakan uang itu bukanlah suatu pekerjaan yang penuh dengan dosa. Pekerjaan ini juga bisa menjadi pertolongan dan berkat buat orang-orang yang sangat membutuhkan"... dengan jijik saya katakan "Cuihhhh".. bukan menghakimi Pak, tidak ada orang yang tertolong dengan praktek seperti ini, justru semakin dalam terikat karena modusnya sbb :
    1. Bunga yang sangat-sangat besar.
    2. Jika tidak sanggup membayar bunga dan pokoknya maka si rentenir akan pura-pura mencari solusi buat nasabahnya yaitu "meminjam dari rentenir lain (sudah tentu kawannya) untuk menutup pokok dan hutangnya", sudah tentu Hutang yang awalnya kecil menjadi bertambah semakin besar.
    3. Jika hutang sudah semakin membesar maka "hanya untuk membayar bunga saja" maka rentenir ini akan pura-pura mencarikan solusi dengan meminjam lagi hutang dengan rentenir lainnya (tentu saja kawannya juga). Persis dengan teknik RAYUAN seperti yang bapak ulas diatas.
    4. Terus berkembang Hutang dan Bunga ini hanya gara gara terjerumus dengan satu orang rentenir akhirnya bisa punya hutang kepada 5 atau 6 rentenir.
    5. Diperas terus-terusan seumur hidup, bila perlu sampai Bunuh diri atau rusak rumah tangga hanya gara gara hutang kepada rentenir ini.

    Inikah Bapak Pendeta yang Budiman Maksudkan? Hanya karena Bapak membela pekerjaan partiga tiga hepeng yang mana banyak dilakukan masyarakat Batak yang bergereja di HKBP sehingga mengakibatkan kerusakan yang lebih fatal kepada masyarakat lain?
    Saya mengalaminya Pak, Ini pengalaman saya Pribadi dan sedang mengalaminya. Saya marga Silitonga marboru Jawa. Hancur rumah tangga saya karena Praktek seperti ini, Istri saya dijerat para Rentenir. persis seperti yang saya jelaskan diatas, Hingga Para rentenir itu malu setelah tahu kalau saya marga silitonga (the poor silitonga).
    Kiranya Tuhan Yesus mengampuni Bapak, memberkati Rumah tangga Bapak dan Mereka Para Pelaku rentenir ini. Amin

    BalasHapus